JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Menjadi Wanita Seutuhnya


__ADS_3

Aqira berjalan menyusuri trotoar jalan raya dengan lesu. Berjalan lurus seperti orang tanpa tujuan. Pikiran dan hati wanita itu sudah melayang entah kemana-mana.


Wanita itu memutuskan untuk berjalan kaki setelah mendapat telepon dari supir pribadinya bahwasanya tidak dapat menjemput dirinya. Dikarenakan istri dari supirnya itu sedang berada di rumah sakit untuk menjalani persalinan.


Aqira sengaja berjalan kaki agar bisa memikirkan saran dari teman baiknya Sindy.


Terkadang dirinya berpikir bahwa apa yang dikatakan Sindy ada benarnya.


Tetapi kalau dia melakukan saran dari temannya itu, lalu bagaimana dengan Mommy dan Daddy. Kedua mertuanya itu sangat menginginkan cucu.


Dirinya tidak sampai hati untuk mematahkan hati kedua orangtua itu, terlebih lagi Darman. Dia masih ingat ayah mertuanya itu sampai sakit hanya karena keinginannya untuk memiliki cucu tidak tercapai.


"Apa yang harus kulakukan? Kenapa aku harus mengalami dilema seperti ini?" gumam Aqira dengan langkahnya yang kian melambat.


Aqira menengadah ke langit, menyipitkan matanya agar sinar matahari tidak menyilaukan manik coklatnya.


Aqira menarik napas dalam, seakan meneguhkan kegusaran hatinya.


"Aku tidak boleh egois, aku tidak mau jika sampai membuat Daddy dan Mommy kecewa. Lagipula belum tentu Brian memiliki wanita lain, mungkin saja wanita dalam foto itu adalah mantan kekasih Brian dan Brian lupa membuangnya." Aqira berucap meyakinkan dirinya sendiri.


"Kau harus berpikiran positif Aqira, percaya pada suamimu, ingatlah selalu tatapan cinta yang diberikannya untukmu." ucap Aqira optimis.


Aqira mulai merasakan kakinya pegal karena terlalu jauh berjalan, dia memutuskan menaiki taksi melanjutkan perjalanan menuju rumahnya yang masih jauh.


Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, Aqira sampai dengan taksi yang diberhentikannya tadi.


Aqira membayar supir taksi itu lalu melangkah memasuki gerbang rumahnya yang dibukakan oleh penjaga rumah.


Dari gerbang Aqira dapat melihat mobil hitam mengkilat yang cukup familiar baginya,wanita itu lupa-lupa ingat dan akhirnya Aqira bertanya pada penjaga bernama Aram itu, "Paman Aram, mobil siapa itu?" menunjuk mobil yang ada di depan rumahnya.


"Oh itu Nona, kata pria itu dia adalah teman Nona jadi, saya izinkan saja dia masuk." tutur Paman Aram.


"Pria?"


"Betul Nona."


Aqira mulai mengingat-ingat siapa teman pria yang dimaksud, hingga kembali memperhatikan mobil itu membuat Aqira terlonjak kaget, saat sudah mengingatnya.


"Kak Hans?!" pekik Aqira membuat Aram juga ikut terlonjak kaget.


"Nona tidak apa-apa?" tanya Aram tapi tidak didengar olehnya karena wanita itu sudah berlari menghampiri mobil itu.


Setelah Aqira sampai dengan nafasnya yang memburu, Aqira melihat kaca mobil itu bergerak turun. "Kak Hans?" panggilnya.


"Aqira lama tidak bertemu." sapa pria jangkung itu sambil membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Kak Hans kenapa ada di sini?" tanya Aqira cemas.


"Aqira kenapa kau begitu cemas?" tanya Hans karena dapat melihat kecemasan di wajah wanita itu.


"Ti.. tidak Kak, aku tidak cemas." tersenyum masam.


"Oh ya Kak, kenapa Kak Hans datang kemari?"


tanyanya lagi.


"Kita sudah lama tidak bertemu Aqira, Kakakmu ini merindukanmu." ucap Brian sembari memperhatikan gerak gerik wanita itu.


Hans sengaja mengatasnamakan persaudaraan untuk mengutarakan kerinduannya, agar Aqira tidak curiga padanya.


"Kalau ingin bertemu, kakak kan bisa menghubungiku..?"


"Aku sudah menghubungimu berkali-kali tapi nomormu tidak pernah aktif dan aku juga mengirimimu pesan itu juga tidak pernah kau balas." jelas Hans.


" Apakah kau mengganti nomormu?" tanyanya lagi.


"Tidak. Nomorku masih sama seperti dulu Kak. Tapi kenapa bisa seperti itu?" dahi Aqira berkerut.


"Mungkin kau tidak sengaja memblok nomorku?"


"Tidak mungkin, aku tidak pernah melakukan itu." menggelengkan kedua tangannya pada Hans.


"Baik." Aqira mengambil ponselnya dari dalam tas jinjingnya. Membuka ponselnya dan mencek kontak dari Hans. Keningnya semakin berkerut dalam, dirinya sama sekali tidak menemukan kontak Hans di dalam ponselnya.


"Kak kontakmu tidak ada dalam ponselku.."


"Hmm kenapa bisa, bukankah kemarin kau menyimpannya?" Hans juga sama bingungnya.


"Kenapa bisa tidak ada? Padahal seingatku aku tidak pernah menghapusnya."


"Lalu siapa yang menghapusnya, coba diingat lagi, siapa tau kau lupa." ujar Hans.


"Aku yang menghapusnya!" suara bariton penuh intimidasi terdengar dari belakang Aqira. Entah sejak kapan pria itu ada di sana.


"Brian..." lirih Aqira yang membulatkan matanya, setelah mendengar suara berat suaminya.


Aqira membalikkan tubuhnya ke arah Brian. Pria itu berdiri dengan gagahnya sambil masukkan kedua tangannya di kantong celananya.


"Sa.. sayang." Aqira menjadi gugup ketika melihat tatapan tajam Brian, bukan kepadanya, tetapi pada pria jangkung yang baru saja berbicara dengannya.


Aqira kembali menatap Hans, pria itu juga sama, memandang Brian dengan tajam.

__ADS_1


Melihat dua pria itu saling menatap tajam membuat Aqira bingung harus bagaimana.


Aqira menghampiri suaminya, memegang pergelangan tangan kekar pria itu dengan kedua tangannya.


"Sayang.." cicit Aqira.


Brian menatap tajam istrinya tanpa menundukkan kepalanya.


"Beraninya kau membawa pria lain ke rumahku." ucap Brian dengan ketus.


Aqira mengoncangkan pelan lengan Brian, aduh suaminya jadi salah paham kan.


"Sa.. sayang, bukan begitu. Aku tidak membawanya kemari." jawab Aqira dengan wajah cemasnya.


"Jangan menyalahkan Aqira, dia tidak salah. Aku yang datang sendiri ke sini."


tiba-tiba Hans menyahut dari belakang Aqira.


Brian memicingkan matanya kepada Hans, "Ohh... jadi hanya tamu tak diundang." menatap sinis pria itu.


"Jadi apa maksud dan tujuanmu datang kemari, apakah ada urusan bisnis atau yang lain?" manik hitam itu tiada henti menatap tajam pada Hans.


Hans tersenyum menyeringai, "Aku kemari hanya ingin bertemu dengan Aqira. Kami sudah lama tidak bertemu, jadi aku sedikit merindukannya." tutur Hans dengan santai.


Aqira melebarkan matanya, terkejut dengan perkataan Hans, "Ya Tuhan, Kak Hans kau telah menempatkanku ke dalam neraka.." rutuk Aqira dalam hati.


Sedangkan Brian... pria itu sudah mengeratkan kepalannya di dalam kantong celananya, gigi gerahamnya bergemeletuk menahan amarah.


"Berani sekali kau berkata seperti itu kepadaku, apakah kau sudah bosan hidup?" ujar Brian penuh penekanan.


"Memangnya kenapa kalau aku berkata seperti itu?" ujar Hans dengan sinis. Pria itu sama sekali tidak takut dengan tatapan tajam Brian.


Brian berdecih sambil terkekeh, "Heh kau memang pria tidak tau malu, bisa-bisanya kau merindukan seorang wanita yang sudah bersuami. Menjijikkan!" sergah Brian.


"Wanita bersuami katamu?"


Hans juga ikut terkekeh, "Sejak kapan kau menganggap gadis itu sebagai istrimu. Kau pikir aku tidak tau bagaimana kau memperlakukannya selama ini?" Hans menyeringai.


Brian mulai memanas, akibat Hans mengetahui perbuatannya kepada Aqira dulu.


Tapi sejenak dia berpikir, mencari ide untuk membuat pria di depannya ini kalah.


Tiba-tiba Brian mendapat ide kemudian tersenyum licik pada Hans, "Heh kau pikir perempuan ini masih gadis?" Brian menarik Aqira ke dalam pelukannya.


"Kau salah, aku sudah menjadikan perempuan yang kau rindukan ini sepenuhnya menjadi seorang wanita seutuhnya. Ingat bukan gadis lagi." Brian menekankan kalimat sengaja terakhirnya untuk memprovokasi Hans.

__ADS_1


Brian memperhatikan raut wajah Hans yang kini menjadi pias. Dirinya merasa telah berhasil membuat Hans sadar akan posisinya.


"Heh kau kira kau bisa merebut wanitaku? Jangan harap br*ngs*k!!" umpat Brian dalam hati.


__ADS_2