
LIKE DULU SEBELUM BACA
Brian tersadar dari keterpakuannya karena Aqira mengabaikannya.
Dengan langkah cepat, Brian menyusul Aqira yang berjalan menuju ruang makan.
"Sayang tolong dengarkan aku." ucap Brian sembari mengikuti langkah Aqira sepanjang menuju ruang makan.
Namun Aqira seperti tuli, dia sama sekali tidak menjawab ucapan suaminya itu.
Sebenarnya Aqira tidak ingin keluar dari kamarnya begitu mengetahui Brian ada di depan kamarnya. Tapi perutnya yang dari semalam belum terisi, mau tak mau dia harus keluar sendiri.
Bi Ane juga bisa sebenarnya mengantar sarapan untuknya, tapi yang namanya Aqira tidak suka merepotkan orang lain.
Aqira tetap berjalan tanpa menyahut semua ucapan yang Brian katakan.
Dia begitu malas untuk sekedar melihat wajah suaminya itu, apa lagi membalas ucapannya.
Lebih baik dia mengabaikannya saja, dan setelah perutnya sudah terisi, Aqira berencana akan mengurung diri di kamar.
__ADS_1
Dan benar saja, di meja makan yang sudah diduduki oleh Darman, Risa dan Sasha, Aqira benar-benar mengabaikan Brian. Bahkan untuk mengisi makanan di piring Brian pun Aqira tidak mau melakukannya.
Alhasil Brian mengisi piringnya sendiri.
Brian sedikit kecewa akan sikap Aqira yang mengabaikannya, tapi mau bagaimana lagi ini juga salahnya sendiri yang malah mengizinkan Jessi masuk ke ruangannya, yang mana membuat istrinya salah paham kepadanya.
Darman dan Risa hanya melihat kedua anak dan menantunya itu dan tidak ingin menegur, karena mereka mengerti bagaimana keadaan hati Aqira sekarang.
Sedangkan Sasha juga sama diamnya dengan kedua orangtuanya, setelah mendengar cerita dari orangtuanya, Sasha cukup kecewa kepada kakak laki-lakinya itu.
Sarapan pagi itu tidak seperti biasanya, yang selalu diselingi dengan tawa, sekarang terasa mencekam akibat perang dingin antara pasangan suami istri itu.
"Mom Dad Sasha aku ke kamar dulu." pamit Aqira. Kemudian melangkahkan kakinya setelah dijawab dengan anggukan oleh ketiganya.
Brian bagaikan makhluk tak kasat mata bagi Aqira, tidak sedetikpun Aqira mau melihat wajah menyebalkan itu.
Dengan wajah datar Aqira meninggalkan ruang makan, menyisakan Brian yang memandang kepergiannya dengan sendu.
Brian tersadar dari lamunannya, dengan langkah seribu lelaki itu menyusul Aqira ke lantai atas. Ternyata dirinya terlambat, Aqira sudah mengunci pintu kamar rapat-rapat begitu dia sampai di depan pintu kamar.
__ADS_1
"Sayang..." panggil Brian lagi, hatinya sakit jika Aqira mengabaikannya.
"Kumohon dengarkan penjelasanku... yang kau lihat itu tidak sepenuhnya benar, Jessi..."
Ucapan Brian terpotong ketika suara dering ponselnya berbunyi.
Brian mengambil ponsel dari kantung celananya. Sebuah pesan dari Aqira.
"Kumohon biarkan aku sendiri, aku ingin menenangkan diri."
Brian menghela nafasnya dalam, kini dia berusaha bersabar menghadapi sikap istrinya. Faktor perbedaan umur mereka yang terpaut jauh membuat Brian harus lebih banyak bersabar dan mengalah kepada istrinya.
"Baiklah sayang... aku akan membiarkanmu menenangkan diri. Setelah pikiranmu tenang kita akan membicarakan kesalahpahaman ini." ucapan Brian terhenti sejenak, terasa sulit baginya berpisah dengan Aqira.
"Jaga dirimu baik-baik ya. Aku pergi dulu." pamit Brian, tetapi tubuhnya masih tidak bergeming dari posisinya.
Masih menatap pintu kamar dengan harapan Aqira akan membuka pintu, lalu berhambur dalam pelukannya.
Sia-sia saja Brian menunggu, sudah lima menit dia berdiri di sana, Aqira tak kunjung membuka pintu, bahkan suara sahutan pun tidak terdengar dari dalam sana.
__ADS_1