
Happy Reading ALL
Like Dulu SeBELUM BACA YA
Beberapa hari berlalu, Aqira dan melewati setiap harinya seperti biasanya. Hanya saja akhir-akhir ini Brian dibingungkan melihat istrinya sering keluar rumah.
Benar saja, sejak Jessi datang ke rumah Brian dan menjalin pertemanan dengan Aqira, keduanya semakin akrab.
Apalagi Jessi banyak menceritakan tentang Brian yang belum diketahui oleh Aqira.
Hal itu tidak membuat Aqira cemburu atau merasa tersaingi, karena menurutnya Jessi mengatakan itu dengan tujuan agar dirinya lebih mengenal dan tau apa yang disukai dan tidak disukai oleh sang suami.
Tak dapat dipungkiri Jessi yang sudah lebih lama mengenal Brian bahkan hampir semasa muda Brian, wanita itu pernah menjadi bagian hidup suaminya.
Kini Brian tak dapat membendung rasa penasarannya lagi, dia melihat sang istri sedang sibuk membenahi lemari pakaian mereka.
Brian menghampirinya, memeluk tubuh mungil itu dari belakang, sesekali ciuman panasnya distempelkan di tengkuknya yang terbuka, membuat Aqira menggeliat geli.
"Ada apa sayang...?" tanya Aqira, seperti tau pasti ada yang ingin ditanyakan sang suami.
"Kenapa akhir-akhir ini kau sering keluar rumah hmm? Padahal seingatku istriku ini sangat jarang keluar rumah.." menyandarkan kepalanya di bahu Aqira.
"Oh itu. Maaf aku lupa memberitahumu.." ucapnya dengan senyuman tak berdosa.
"Sebenarnya aku keluar untuk bertemu dengan Jessi.."
Dahi Brian berkerut, "Jessi..?"
"Hm Jessi.."
"Siapa Jessi...?" tanya Brian ragu-ragu.
"Kau tidak kenal Jessi, bukankah dia mantan kekasihmu?" ujar Aqira santai tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Dahi Brian semakin mengerut dalam, menatap wajah sang istri dengan tatapan penuh tanya.
"Untuk apa kau menemuinya?" kali ini kalimat Brian tidak selembut tadi.
Segera dia melepas rangkulannya dari pinggang Aqira, terlihat raut ketidaksukaan terpatri di wajah pria itu.
"Kami hanya mengobrol saja, membicarakan seputar masalah wanita, dan juga dia kan kuliah dengan jurusan yang sama denganku, jadi aku banyak belajar darinya." senyum ceria disertai semangatnya mengatakan hal itu, sampai Aqira tidak menyadari wajah marah suaminya.
"Aku minta kau jangan menemuinya lagi!"
Seketika Aqira terdiam sesaat setelah mendengar ultimatum dari suaminya.
Aqira menatap suaminya dengan bingung, seraya kerutan di dahinya semakin jelas.
__ADS_1
"Kenapa..?"
Brian memejamkan matanya sejenak, menarik nafasnya dalam agar emosinya teredam.
"Aqira.. kau ini bodoh atau apa, bisa-bisanya kau berteman dengan Jessi.." kedua tangan kekar Brian meremas kedua lengan wanitanya, agar Aqira tau betapa suaminya sedang marah saat ini.
Aqira sedikit tersinggung dengan ucapan suaminya yang mengatakan bahwa dirinya bodoh. Wajahnya tiba-tiba menekuk, kesal dengan Brian.
"Memangnya kenapa kalau aku berteman dengan Jessi. Dia baik kepadaku, bahkan hal buruk yang kupikirkan tentangnya selama ini berkebalikan dengan sifat yang sebenarnya." ucap wanita itu polos.
Sungguh Brian sangat menyesalkan kepolosan yang dimiliki sang istri, sehingga tidak dapat melihat mana orang yang baik dan orang jahat.
"Sayang dengarkan aku!" Brian mengguncang pelan bahu Aqira, agar wanita itu fokus kepadanya.
"Tidak semua yang terlihat baik itu baik. Kita tidak tau apa yang ada dalam hati orang lain dan apa yang sedang mereka pikirkan.
Begitu juga dengan Jessi, kau tidak tau apa yang ada dalam pikiran wanita itu." tutur Brian penuh penekanan, dan berharap istrinya mengerti dan menurutinya agar tidak menemui wanita bernama Jessi itu lagi.
Ternyata kepolosan istrinya ini sangat berbahaya bagi wanita itu.
Aqira yang sedari dulu hanya tinggal bersama orangtuanya dan tidak terlalu membiarkannya bebas keluar rumah, membuat Aqira jarang menemui orang-orang disekitarnya.
Oleh sebab itulah Aqira sulit membedakan sifat orang yang baru ditemuinya.
Ditambah lagi hati lembut dan tulus yang dimilikinya, membuat Aqira mudah akrab dengan orang yang baru ditemuinya tanpa mengetahui sifat asli orang itu.
Brian berdecak kesal, "Haruskah aku mengatakannya lagi?"
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Mulai besok kuharap kau tidak menemuinya lagi."
Saat Aqira ingin memprotes, Brian memotongnya lagi.
"Ini perintah suami kepada istrinya, kau tau jika istri tidak menuruti perintah suami, maka kau akan menjadi istri durhaka."
Ucap pria itu dengan sorot mata tajam.
Awas saja jika Aqira membantah lagi, Brian akan melemparnya ke ranjang dan memberikan pelajaran kepada wanita itu.
"Tidak." Aqira langsung memeluk pinggang Brian.
"Aku tidak mau jadi istri durhaka." rengek Aqira dengan manja.
"Kena kau." batin Brian.
"Ya sudah, kalau tidak mau jadi istri durhaka, maka turuti perintahku."
__ADS_1
"Iya, aku janji tidak akan bertemu Jessi lagi." Aqira menggelayuti di tubuh kekar suaminya.
Brian tertawa dalam hati, menertawakan kebodohan dan kepolosan sang istri.
Entah kenapa sejak keduanya menyatakan perasaan masing-masing, istrinya berubah menjadi bodoh. Padahal dulu Brian masih ingat, Aqira adalah sosok yang pintar dan bijak, tapi sekarang...
Efek bucin kali thor..
Brian melarang Aqira bertemu Jessi bukan tanpa alasan. Suatu hari setelah pertemuannya dengan Jessi setelah sekian lama, Jessi datang menemuinya dan memohon kembali lagi kepada Brian.
Flashback On...
Hari itu Brian sedang sibuk bekerja di kantornya. Konsentrasinya terganggu saat mendengar kegaduhan di luar ruangannya.
Dengan wajah marahnya Brian keluar dari ruangannya untuk melihat keributan yang mengganggu pekerjaannya.
"Ada apa in... Jessi?" betapa terkejutnya Brian ketika melihat wanita yang pernah menjadi bagian dari hidupnya datang kemari.
Jessi yang kini dipegangi oleh dua wanita asisten sekretaris, meronta-ronta untuk dilepaskan.
"Maaf Tuan... Nona Jessi memaksa untuk bertemu dengan Anda." Joe datang menjelaskan sembari memberikan tatapan sinis ke arah Jessi.
"Lepaskan dia, biarkan dia masuk." ucap Brian dingin.
"Tapi Tuan?" protes Joe, yang tidak rela membiarkan manusia setengah iblis ini datang menghancurkan rumah tangga Tuan mudanya lagi.
Brian tidak menjawab, lalu masuk kembali ke dalam ruangannya tanpa melihat Jessi sebentar pun.
Jessi tersenyum mengejek ke arah Joe yang juga memandang sinis kepadanya.
Setelah masuk ke dalam ruangan Brian, Jessi mendekati Brian yang sudah duduk di kursi kebesarannya.
"Brian.. maafkan aku." ucap Jessi tiba-tiba begitu sampai di hadapan pria yang pernah mencintai dirinya.
Brian memicingkan matanya, melirik Jessi sekilas, lalu fokus ke pekerjaannya lagi.
"Aku sudah memaafkanmu. Pergilah!" ucap Brian tanpa ekspresi.
"Brian.." Tanpa diduga Jessi mendekati Brian, tiba-tiba jemari lentiknya meraba bahu Brian.
Tindakan itu membuat Brian jijik kepada Jessi. Brian tidak menyangka wanita polos yang dulu pernah dicintainya ternyata tidak sebaik yang dia kira.
Brian merutuki rasa cintanya yang berlebihan, membuat Brian menutup mata akan semua sikap buruk Jessi, yang tertutupi oleh sandiwara wanita itu.
Bahkan Sang Daddy, Darman, sudah berulang kali memberitahu Brian jika Jessi bukan wanita baik-baik. Tapi Brian malah membantah hal itu, hingga membuat hubungannya dengan Darman sedikit merenggang.
"Jauhkan tangan kotormu!" bentak Brian, menghempaskan kasar tangan Jessi.
__ADS_1