JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Pemilik Hati


__ADS_3

HAPPY READING


Like dulu sebelum baca


"Bagaimana keadaan istri saya, dokter?" Brian langsung bertanya pada dokter yang memeriksa Aqira, begitu dokter itu selesai memeriksa Aqira. Brian terlihat sangat cemas melihat Aqira belum sadar dari tadi.


"Nona Aqira tidak apa apa, Tuan Brian. Nona Aqira hanya kelelahan dan sedikit syok saja, tidak ada kondisi yang serius." tutur Dokter Raymond, dokter keluarga Charles.


Begitu mengetahui Aqira pingsan, Brian langsung menghubungi dokter Raymond, menyuruh pria paruh baya itu datang secepatnya. Bahkan lelaki itu mengancam Dokter Raymond jika sampai terlambat.


Wajah Brian masih dilanda kecemasan, "Tapi kenapa istriku belum bangun dok?" tanya Brian seakan belum puas dengan penjelasan Dokter Raymond.


"Anda tidak perlu khawatir, Tuan, Nona hanya kelelahan, biarkan Nona Aqira istirahat. Sebentar lagi Nona Aqira juga akan bangun." dokter Ray berusaha menenangkan Brian.


Brian mulai tenang, kemudian duduk di tepi ranjang, memandangi wajah Aqira.


"Kalau begitu saya permisi Tuan." pamit Dokter Raymond. Dokter Ray keluar dari kamar itu tanpa.


Brian tidak menjawab Dokter Ray, dirinya masih fokus pada Aqira.


"Bangunlah sayang, maafkan aku. Aku janji tidak akan menyakitimu lagi..." lirih Brian sambil meremas lembut tangan Aqira.


•••


Aqira mulai mengerjapkan matanya, saat cahaya matahari yang menilik dari gorden tipis kamar itu menyilaukan manik coklatnya.


Saat Aqira ingin menyentuh kepalanya yang terasa pusing, Aqira merasakan sesuatu menahan tangan kanannya.


Aqira menunduk, melihat Brian tertidur dengan tubuhnya terjuntai di lantai sedangkan kepalanya tersandar di pinggir ranjang di samping Aqira. Brian tidur semalaman di sana sambil menggenggam tangannya erat.


Aqira bingung kenapa Brian tertidur di lantai, mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi sebenarnya.


Hingga satu persatu bayangan perbuatan kasar Brian tadi malam berputar dalam ingatannya.


Aqira langsung menarik tangannya dari genggaman Brian, hingga membuat sang pemilik terbangun dari tidurnya.


Brian terkesiap, saat merasakan sesuatu yang digenggammnya ditarik paksa.


"Kau sudah bangun?" Brian bertanya dengan lembut, masih terselip kecemasan dalam pertanyaan itu. Mata Brian nampak sayu, tergurat rasa bersalah di wajah lelaki itu.


Aqira memalingkan wajahnya dari Brian dengan air mata yang sudah menggenangi pelupuk matanya, menggeser tubuhnya agar menjauh dari jangkauan lelaki itu.


"Maafkan aku." Brian mencoba mendekati Aqira, membuat Aqira beringsut menggeser tubuhnya lebih jauh dari Brian. Kedua tangannya memeluk tubuhnya erat, dan kakinya kedua ditekuk, seperti melakukan pertahanan melindungi diri.


Brian melihat semua itu dengan perasaan miris, gadis ini takut kepadanya.


"Aqira..." Aqira tertegun ketika mendengar Brian memanggil namanya untuk pertama kali.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu, aku terbawa emosi.... Aku minta maaf." Brian berucap dengan lembut seraya menundukkan kepalanya.


Aqira masih diam, memalingkan wajahnya ke arah lain, tidak menjawab Brian, dirinya masih dilanda ketakutan pada pria itu saat ini.


"Aqira..?"


"Tinggalkan aku sendiri..." akhirnya Aqira menyahut dengan suara seraknya.


"Aqira..." lirihnya.

__ADS_1


"Kumohon..."


"Baiklah..aku akan keluar, tenangkan dirimu.


Bi Lusi akan mengantar sarapanmu." Brian pasrah, mungkin membiarkan Aqira sendiri, akan membuatnya lebih tenang.


Aqira tidak menjawab, wajahnya kembali menatap ke arah lain.


"Aku keluar dulu ya.." Brian keluar dari kamar mereka dengan penuh rasa penyesalan.


Saat akan menutup pintu pun, Brian masih menyempatkan diri untuk melihat Aqira yang masih duduk mematung di atas tempat tidur.


Hatinya berdenyut sakit melihat keadaan Aqira saat ini, terlebih lagi dirinya sendirilah penyebab dari penderitaan gadis itu.


•••


Dua hari setelah kejadian itu, Aqira masih belum keluar dari kamar sama sekali.


Bahkan untuk makan pun Aqira tetap tidak mau keluar, melihat hal itu membuat Brian menjadi cemas.


Sebenarnya Brian ingin melihat bagaimana keadaan istrinya, tapi dia terlalu khawatir, khawatir Aqira masih ketakutan padanya.


Dan akhirnya Bi Lusilah yang rutin mengantarkan makanan sekaligus melihat kondisi Aqira, lalu melaporkannya kepada Brian.


Brian juga tidak pergi ke kantor selama dua hari ini. Lelaki itu tinggal di sebelah kamar Aqira, memastikan keadaan istrinya baik baik saja.


Malam itu Brian duduk di kursi yang berada di balkon kamar itu.


Manik matanya yang hitam legam, menatap sayu langit malam tanpa bintang.


Dirinya sangat tidak suka Aqira dekat dengan pria lain, tidak mungkinkan dia cemburu.


Tapi haruskah reaksinya berlebihan begitu? Hampir saja dia menodai gadis itu karena terbawa emosi melihat Aqira dipeluk lelaki lain.


Jika dirinya hanya kasihan kepada Aqira, tapi kenapa hatinya merasakan sakit jika melihat Aqira menderita, bahkan dia merutuki dirinya yang dulu telah menyiksa gadis itu.


Siapa pemilik hati lelaki itu sebenarnya?


Apakah wanita dari masa lalunya, wanita yang telah menghancurkan hatinya dengan meninggalkannya demi pria lain?


Wanita yang selalu mengisi hari harinya dengan kenangan manis selama hampir tujuh tahun?


Atau gadis polos pilihan orangtuanya, yang baru beberapa bulan ini dikenalnya?


Brian tidak tau, lelaki itu benar benar bingung sekarang.


Akhirnya Brian berakhir dengan alkohol mengakhiri perdebatan hatinya yang rumit.


Dengan menyesap cairan bening itu sedikit demi sedikit, setidaknya pikirannya Brian bisa melupakan kebimbangan hatinya.


•••


"Selamat pagi Nona." sapa Bi Lusi ketika masuk ke dalam kamar Aqira. Bi Lusi membawa nampan berisi sarapan dan segelas susu di atas tangannya.


Selama beberapa hari ini, Bi Lusi melayani Aqira dengan baik.


Dan terkadang Bi Lusi juga memberi semangat dan nasehat agar Aqira sabar menghadapi sikap Brian.

__ADS_1


Tanpa Aqira tidak menceritakannya pun, Bi Lusi dan seisi rumah ini pasti sudah mengetahuinya, mendengar suara Aqira yang menggelegar sampai lantai bawah, mereka sudah dapat menebak apa yang terjadi pada Nona Mudanya itu.


"Selamat pagi Bi Lusi." Aqira nampak ceria pagi ini. Kini Aqira sudah rapi dengan baju kuliahnya. Walaupun begitu, wajah Aqira masih sedikit pucat dan kantung matanya juga menghitam.


"Wah.. Nona terlihat cantik hari ini. Nona akan kuliah?"


"Iya Bi. Sudah terlalu lama aku bolos, padahal aku masih baru."


"Apakah Nona sudah tidak apa-apa?" Bi Lusi terlihat cemas.


"Aku tidak apa-apa Bi Lusi.


Berkat Bi Lusi, sekarang aku mendapatkan semangatku lagi."


"Baguslah Nona sudah ceria kembali, saya turut senang.


Kalau begitu, Nona sarapan dulu sebelum berangkat kuliah."


Bi Lusi meletakkan nampan itu di atas meja sofa kamar itu.


"Terimakasih Bi, aku akan memakannya."


"Iya Nona, saya permisi dulu."


"Tunggu Bi." panggil Aqira membuat langkah Bi Lusi terhenti.


"Iya Nona, ada yang nona perlukan lagi?"


Aqira terlihat ragu, "Emm... apakah Brian masih di rumah ini?"


"Maksud Nona?"


"Maksudku, apakah Brian sudah berangkat kerja?" tanya Aqira penasaran. Walaupun keceriaannya sudah kembali, jujur saja, Aqira masih takut jika harus bertemu dengan Brian.


.


.


.


.


.


Malam ini aku update ya, ganti yang kemarin.😁😀


Votenya yang banyak yaa😀


.


.


.


.


Love you all😘😗

__ADS_1


__ADS_2