
LIKE DULU SEBELUM BACA...
"Tapi Aqira tidak mau menemuimu." ujar Darman yang mana membuat hati Brian berdenyut sakit.
Aqira tidak mau menemuinya?
"Jangan membohongiku Dad, Aqira tidak mungkin tidak ingin menemuiku."
ucap Brian lemah.
"Tapi itu memang benar adanya. Aqira tidak ingin diganggu.
Pulanglah. Biarkan Aqira menenangkan dirinya di sini." pinta Darman kepada putra sulungnya itu.
"Tapi Dad, aku tidak pernah mengkhianati istriku. Aku sangat menyayanginya Dad. Kumohon biarkan aku menemuinya sebentar saja." mohon pria yang terlihat tidak berdaya itu.
Darman menghela nafas kasar, Darman dapat melihat penyesalan dan kejujuran di wajah putra sulungnya itu.
"Jika memang kau tidak bersalah, maka buktikan. Pulanglah dulu ke rumahmu, pikirkan bagaimana cara menjelaskannya pada istrimu." Darman memberi usul.
Sebenarnya Darman ingin membiarkan Brian bertemu Aqira. Tapi dirinya sudah janji pada Aqira untuk tidak mengizinkan Brian menemuinya.
Lagi pula pikiran Aqira masih begitu kalut, wanita itu masih shock akibat melihat pemandangan yang begitu menyiksa batinnya.
__ADS_1
"Baiklah Dad." jawab Brian dengan lesu. Brian sudah pasrah, mungkin besok setelah pikiran istrinya sudah lebih jernih, dia akan mencoba menemuinya.
"Mom aku pulang." pamit Brian kepada Risa yang sama sekali tidak menjawabnya.
Nampaknya wanita paruh baya itu masih termakan ucapan Aqira.
Brian menatap nanar Mommynya yang beringsut menjauhinya menaiki anak tangga.
Tidak ada yang percaya padanya.
Sampai di rumahnya Brian menghempaskan tubuh penatnya di sofa ruang tamu.
Pria itu nampaknya kelelahan dan malah terlelap di atas sofa.
Sesampai di sana, Brian langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Untung saja Risa tidak melihatnya, jika tidak Brian pasti akan diusir lagi.
Dengan ragu Brian mengetuk pintu kamarnya yang terkunci dari dalam. Beberapa menit menunggu pintu masih belum terbuka.
Di dalam kamar, Aqira yang masih terlelap dalam tidurnya, merasa terganggu akan ketukan pintu yang sedari tadi menggema.
Dengan wajah kusutnya Aqira bangun dari tempat tidur, wajah sembabnya disertai kelopak mata yang membengkak menjadi bukti bahwa semalaman Aqira menghabiskan malamnya dengan menangis.
__ADS_1
"Sayang.." terdengar suara familiar yang yang merupakan suara suaminya. Aqira mengurungkan niatnya untuk membuka pintu itu.
"Mau apa dia ke sini." gerutu Aqira dengan wajah kesalnya.
Dengan wajah tidak semangatnya, Aqira menjauhi pintu kemudian memasuki kamar mandi.
Aqira berencana akan menghabiskan paginya dengan berendam guna merilekskan pikirannya. Akibat menangis semalaman, ternyata cukup menguras emosi dan jiwa.
Setelah setengah jam berendam Aqira membersihkan tubuhnya kemudian bersiap-siap untuk sarapan.
Keluar dari kamar mandi, ternyata Brian masih setia di depan kamarnya. Lelaki itu masih setia mengetuk pintu kamar seraya memanggil-manggil namanya.
"Sayang kumohon dengarkan penjelasanku dulu." suara Brian terdengar lagi.
Aqira menghela napas kasar, kemudian segera mengganti pakaiannya yang tersedia di kamar itu.
Dengan ragu Aqira membuka pintu, setelah sebelumnya menarik nafasnya dalam hingga beberapa kali. Sebenarnya dia masih belum siap bertemu Brian.
Setelah pintu terbuka, Aqira dapat melihat Brian yang tengah berdiri di depannya sedang tersenyum kepadanya.
"Sayang..." panggil Brian.
Aqira hanya diam, tidak menampakkan senyum bahagia seperti yang selalu wanita ini tunjukkan setiap bertemu Brian.
__ADS_1
Dengan acuh Aqira berjalan meninggalkan Brian yang masih berdiri di sana. Brian menarik napasnya dalam, dia harus bersabar menghadapi istri kecilnya itu.