
LIKE DULU SEBWLUM BACA
Sudah dua Minggu berlalu Aqira tetap belum mau menemui Brian. Setiap hari Brian selalu datang ke rumah orang tuanya. Memohon agar Aqira mau mendengar penjelasannya.
Tapi begitu sulit bagi Brian agar bisa menemui istrinya itu.
Aqira benar-benar menghindarinya setiap Brian mencoba menemuinya.
Brian berpikir keras, bagaimana caranya agar Aqira mau mendengarnya.
Padahal rencana resepsi pernikan yang telah disiapkannya sudah di depan mata. Tinggal menunggu dua minggu lagi, hari itu akan tiba. Resepsi pernikahan yang akan diadakan tepat pada hari ulang tahun istrinya.
Hari membahagiakan itu sudah dekat, tapi Brian masih belum dapat meyakinkan istrinya.
Tidak mungkinkan Brian membuat kejutan dengan kondisi hati Aqira yang masih seperti itu.
Kepala Brian berdenyut sakit memikirkan semua ini. Jika harus menundanya, Brian tidak mau. Sudah lama dia merencanakan kejutan ini untuk istrinya, demi menebus kesalahannya di masa lalu.
Selain itu, Brian juga harus mempublikasikan pernikahannya dan memperkenalkan Aqira sebagai Nyonya Charles.
Brian mengambil ponsel dari kantung celananya, saat ini dia sedang berdiri di depan rumahnya, setelah Aqira lagi-lagi menolak menemuinya.
Nama kontak Arian menjadi pilihan Brian untuk dia hubungi.
__ADS_1
Sudah lama dia tidak menemui sahabatnya ini, terakhir kali saat dirinya masih sering menyakiti Aqira.
Sekarang Brian butuh seseorang untuk meluapkan beban pikirannya saat ini, dan Arian adalah orang yang tepat temannya untuk mencurahkan perasaannya.
Brian begitu tersiksa selama dua minggu terakhir. Berpisah dari istrinya membuat kerinduan tak terkira mengepul dalam diri pria itu.
Rindu kasih sayangnya, rindu perhatiannya juga rindu akan belaian wanita itu.
Di setiap tidurnya Brian selalu merasa hampa, tidak ada istrinya di sampingnya yang setiap malamnya terlelap dalam pelukannya.
Terkadang pria itu tidak nyenyak dalam tidurnya, dan memilih melewatkan malamnya dengan memandangi figura istrinya, ditemani minuman alkohol yang lama-kelamaan membuatnya hilang kesadaran.
Tubuhnya pun terlihat kurus dari biasanya. Sepertinya pria itu tidak mendapat asupan makanan yang cukup selama ini. Penampilannya tidak serapi dulu, rambutnya yang selalu klimis, kini terlihat berantakan, tetapi tidak mengurangi ketampanannya sama sekali.
Dalam lima belas menit Brian sudah sampai di sana. Brian memasuki club berjalan menuju ruang VVIP yang telah disediakan khusus untuknya.
Dulu kamar VVIP ini Brian gunakan untuk menemui para wanita bayarannya. Tapi sekarang tidak lagi, Brian bahkan tidak pernah datang kemari setelah menyadari cintanya pada Aqira.
Ternyata Arian sudah di sana saat Brian sampai.
"Brother kau sudah sampai." sapa Arian seraya saling menjotoskan punggung tangan sebagai sapaan pertemuan mereka.
Brian menjatuhkan tubuhnya di sofa empuk ruangan itu.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, sudah lama kau tidak mengajakku minum seperti ini lagi. Tumben sekali." ujar Arian dengan senyum jenakanya.
"Kabarku tidak baik." jawabnya singkat.
"Tidak baik, kenapa? Kau ada masalah dengan istri kecilmu itu? Apa dia tidak bisa memuaskanmu?" tanya Arian beruntun masih dengan senyum menyebalkannya.
Brian berdecak kesal, "Kenapa otakmu selalu mengarah ke sana." kesal Brian, menatap sahabatnya itu sinis.
Arian terkekeh, "Hei dude, kenapa kau sensitif sekali. Lalu apa yang membuatmu mengajakku kemari, jika bukan karena istrimu." tanya Arian lagi.
"Ini tentang istriku." ujar Brian.
Arian kesal dibuatnya, tadi bukan karena istrinya dan sekarang... apa sebenarnya mau pria ini.
"Hei kau jangan bercanda." kesal Arian.
"Aku tidak bercanda." jawab Brian lesu.
"Ceritakanlah, supaya aku mengerti, jangan berbelit-belit." ujar Arian.
Begini...
LOVE YOU ALL
__ADS_1