
Like dulu sebelum baca
Di perjalanan pulang Aqira terlihat gelisah, sebentar lagi mobil mereka akan sampai di rumah. Dan Aqira tidak tau bagaimana bersikap di depan Brian nanti. Aqira merutuki dirinya sendiri melupakan bahwa dirinya menggunakan kontrasepsi, Aqira terlalu bahagia karena cinta Brian sampai dirinya melupakan satu hal, untung saja Jessi menanyakan hal itu, jadi dia bisa cepat bertindak sebelum terlambat. Kini Aqira harus berusaha dan rutin kontrol agar dirinya cepat hamil.
Aqira memasuki rumahnya, dia bernafas lega karena melihat mobil suaminya belum ada di garasi. Hari sudah hampir gelap saat Aqira sampai di rumah, cepat-cepat dirnya mandi kemudian menyiapkan makan malam. Aqira memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu tanpa menunggu Brian, karena Aqira terbiasa makan malam dengan suaminya. Setelah itu Aqira bergegas tidur, memang terlihat aneh Aqira tidur secepat ini, tapi itu semua Aqira lakukan untuk menghindari Brian. Aqira tidak tau harus bagaimana jika bertatapan langsung dengan suaminya setelah menyadari kesalahan yang telah dia perbuat.
Brian sampai di rumah sekitar jam delapan, Brian sedikit heran melihat Aqira sudah tidur, tidak biasanya, pikir lelaki itu. Brian mendekati Aqira yang terlelap di ranjang, ditariknya selimut menutupi sampai dada wanita itu. Manik hitam legamnya memandangi wajah istrinya, lalu mengecup bibir yang satu hari ini dirindukannya, "Mimpi indah." bisik pria itu kemudian masuk ke kamar mandi sebelum meninggalkan kecupan hangat di keningnya.
Paginya keduanya berangkat seperti biasa, Brian semakin bingung melihat Aqira lebih banyak diam pagi ini, tidak seperti biasanya yang selalu cerewet. Apalagi Aqira yang tidur terlebih dulu semalam, membuat Brian bertanya-tanya, apa sesuatu terjadi, pikir pria itu.
Brian tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, karena Brian merasa tidak melakukan kesalahan atau sesuatu yang tidak sengaja membuat istrinya tersinggung.
"Sayang." panggil Brian melihat Aqira duduk di sampingnya. Wanita itu sedikit terkejut, nampaknya dia melamun sedari tadi.
"Iya ada apa?" jawab Aqira, menoleh kepada Brian tapi tidak berani menatapnya. Kini Brian semakin yakin, pasti ada sesuatu yang salah pada istrinya.
"Kau kenapa sayang?" tanya Brian lembut.
"A aku tidak apa-apa, kenapa bertanya seperti itu?" jawab Aqira gugup dan masih belum berani menatap langsung pria itu.
__ADS_1
"Jangan berbohong, aku tau pasti terjadi sesuatu. Apa karena Jessi hmm?" menatap Aqira intens. Tapi Aqira terus menghindari tatapannya, membuat Brian akhirnya menangkup kedua sisi wajahnya, memerangkap wanita itu dalam tatapan lembutnya.
"Tatap mataku sayang.." perintah Brian selembut munkin namun penuh penekanan, karena Aqira masih terus mengalihkan pandangannya. Mendengar suara Brian yang meskipun lembut, tapi Aqira tau suaminya sedang menahan emosinya, mau tidak mau Aqira membalas tatapan Brian.
Keduanya bertatapan dengan emosi masing-masing, tatapan Brian berusaha menelusup ke dalam manik milik istrinya berusaha mencari seberkas kejujuran di sana. Sedangkan Aqira berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh begitu saja di hadapan Brian. Wanita itu takut jika Brian dapat membaca tatapan matanya.
"Katakan padaku, katakan apa yang telah terjadi di luar sepengetahuanku." pertanyaan ini sungguh menghujam Aqira, apa yang harus dia jawab.
Ingin sekali rasanya Aqira mengatakan semuanya saat ini juga, tapi dia terlalu takut Brian akan kecewa padanya, lalu akhirnya meninggalkan dirinya. Aqira tidak mau hal itu sampai terjadi, Brian tidak boleh meninggalkannya.
Aqira menggelengkan kepalanya, "Aku tidak apa-apa sayang, percayalah." Aqira menampilkan senyum cerahnya untuk mengurangi kecurigaan suaminya. "Kenapa kau berlebihan seperti ini?" Aqira terkekeh sambil menarik hidung mancung suaminya.
Sejenak Brian terdiam, memperhatikan tingkah istrinya yang kini kembali seperti biasanya, benarkan dia terlalu berlebihan? Mungkin hanya perasaannya saja, pikir pria itu. Akhirnya Brian percaya, Brian pikir istrinya sedang datang bulan makanya mood Aqira suka berubah-ubah.
Mungkin Tuhan belum berkehendak atau mungkin mereka yang belum berusaha. Brian menggelengkan kepalanya ketika pikiran kotor mulai memenuhi otak mesumnya, apalagi di sampingnya ada Aqira rasanya ingin melahap wanita itu jika tidak ada Joe sedang mengemudi di depan.
"Shit." umpat pria itu ketika Aqira mendekatinya, memeluk lengannya dengan manja.
"Sayang nanti aku pulang agak sorean ya?" ucap Aqira menggelayut di lengannya, Brian dapat merasakan dada istrinya menempel di lengannya. "Aku tidak tahan lagi" geram Brian dalam hati.
__ADS_1
"Joe ke hotel terdekat." perintah Brian dengan suara tertahan. Joe mengernyit bingung, kenapa malah ke hotel, pikirnya. Tapi sedetik kemudian Joe mengerti setelah melihat dari kaca depan, wajah Tuannya menegang seperti menahan sesuatu. Joe ingin tertawa saat itu juga, melihat istri Tuannya semakin menggelayut manja di lengannya, tidakkah wanita itu tau kalau suaminya ingin memakannya?
Aqira mengangkat pandangannya, melihat Brian bingung, "Untuk apa ke hotel, bukannya kau akan ke kantor dan aku juga harus ke kampus." tanya Aqira penuh tanya.
"Kita harus meyelesaikan urusan kita dulu sebelum kau ke kampus." ucap Brian dengan suara beratnya.
__ADS_1
LOVE YOU ALL