JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Kuliah?


__ADS_3

Selamat Membaca


Like dulu sebelum baca


Pagi ini, Aqira bangun lebih cepat dari sebelumnya, lalu melakukan aktivitasnya setiap pagi.


Semalam Aqira kembali ke kamarnya hampir tengah malam, ia terlebih dulu memastikan suaminya sudah tidur.


Ia terlalu malu bertemu dengan pria itu, sudah dipastikan pria itu akan menertawakannya lagi.


Aqira merutuki dirinya sendiri, yang dengan beraninya menyentuh dada pria itu.


Huh kenapa dia yang salah? Salahkan saja pria itu kenapa memiliki tubuh sebagus itu.


Saat menyusun makanan di atas meja makan, Aqira terpekik kaget karena Brian tiba tiba duduk di sampingnya.


"Kenapa?" ucap Brian memandang wajah cantik Aqira.


"Ti..tidak apa apa..." jawab Aqira terbata bata.


"Kau ingin mengulanginya lagi?" Brian tersenyum licik.


"Hah...?"


"Kau ingin menyentuhku lagi?"


"A..apa maksudmu?"


"Aku akan membatalkan jadwalku hari ini, kita akan mengahabiskan waktu satu hari ini di kamar." Brian semakin gencarnya menggoda Aqira.


"Jangan gila!!" kesal Aqira, wajahnya sudah memerah.


"Lihatlah wajahmu lebih jujur dari mulutmu."


"Apa?"


"Lihatlah, wajahmu memerah, kau memang menginginkannya bukan?"


Aqira memegang wajahnya yang terasa panas "Hei, siapa saja akan malu mendengar kata kata mesummu itu." Aqira mencari cari alasan.


"Kenapa kau menyebutku mesum?


Kau dengan beraninya menyentuh tubuhku yang indah ini semalam, jadi siapa yang mesum di sini?" Brian terkekeh meledek Aqira.


"Aku tidak tau!" pekik Aqira menghentakkan kakinya cepat meninggalkan meja makan, tidak tahan ditertawakan Brian.


"Dasar gadis mesum." Brian berteriak masih dapat di dengar Aqira.


Selang beberapa menit, saat Brian tengah menikmati sarapan paginya, Aqira kembali lagi ke meja makan lalu duduk di depan Brian.


Brian hanya memicingkan matanya saat melihat kedatangan Aqira lalu melanjutkan makannya lagi.


Aqira memulai pembicaraan, "Mmm...a..ku ingin membicarakan sesuatu." Aqira terbata bata.


"Apa?" menjawab dengan dingin tanpa melihat Aqira.


Aqira yang sudah terbiasa dengan sikap dingin Brian hanya bisa pasrah saja.


"Aa..aku ingin bekerja." akhirnya dia berhasil mengatakannya.


Mendengar ucapan Aqira, Brian meletakkan sendok dengan kasar, sehingga menghasilkan dentingan yang membuat Aqira kaget.

__ADS_1


"Kau ingin bekerja?" Aqira mengangguk pelan.


"Apa uang yang kuberikan tidak cukup, sampai kau harus bekerja?


Katakan berapa banyak lagi yang kau inginkan, aku akan memberikannya." Brian mencerca Aqira dengan dingin.


"Tidak, bukan begitu maksudku. Aku hanya bosan saja selalu di rumah, tidak ada kegiatan yang berarti yang bisa kukerjakan." Aqira menjawab dengan lesu.


"Tidak, aku tidak setuju, ingat statusmu sekarang, jangan sampai kau mempermalukanku di depan orang lain."


"Kau tidak akan malu, kan tidak banyak yang tau hubungan kita, tolong biarkan aku bekerja, aku sungguh bosan di rumah." Aqira memohon dengan mata berkaca kaca.


Melihat wajah Aqira membuat Aqira tidak tega menolak permintaan Aqira, tapi tidak semudah itu, tidak mungkin Brian membiarkan istri seorang Charles bekerja di luar sana, apa yang akan dikatakan orang lain kalau sampai mereka tau. Dan orangtuanya juga pasti akan marah besar jika mengetahui menantu kesayangannya bekerja.


Brian masih kurang yakin dengan alasan Aqira yang ingin bekerja, kalau dia memang membutuhkan uang tidak mungkin, Brian saja tidak pernah mendapat laporan sama sekali kalau kartu yang pernah diberikannya kepada Aqira digunakan. Jadi apa sebenarnya tujuan gadis ini? Apakah supaya dia bebas bertemu dengan pria yang bernama Hans itu? Tidak tidak, itu tidak boleh terjadi, Brian tidak akan membiarkannya.


"Bukankah itu hanya alasanmu saja? Tujuanmu sebenarnya supaya kau bisa bebas menemui Hans bukan?" tanya Brian menyelidik.


"Kak Hans?"


"Tidak, bukan seperti itu, aku hanya ingin bekerja, aku sangat bosan sendirian di rumah." Aqira memelas.


Sungguh, melihat Aqira seperti ini, membuat Brian semakin tidak tega menolaknya. Selama hampir tiga bulan pernikahan, baru kali ini Aqira meminta sesuatu padanya.


Tiba tiba Brian teringat keinginan Aqira yang ingin melanjutkan pendidikannya, kenapa tidak terpikirkan. Dari pada harus bekerja, lebih baik istrinya kuliah saja dan tidak membuat keluarganya malu.


"Kau bosan di rumahkan?" Aqira mengangguk.


"Aku sudah memutuskan, kau akan melanjutkan pendidikanmu saja."


Aqira mencerna ucapan Brian, "Ma..maksudmu aku akan kuliah?" tanya Aqira dengan wajah bingungnya.


Aqira membulatkan matanya, "Apa? Mana ada sekolah yang begitu, kau jangan mengada-ada."


Brian tertawa mendengar ucapan Aqira, "Kau ini memang masih polos atau pura pura polos, dasar bodoh. Memang sekolah seperti itu tidak ada, tapi aku bisa mengajarimu cara memuaskan suamimu di atas ranjang." Brian tertawa melihat wajah Aqira yang memerah.


"Kau memang dasar pria tua mesum!" kesal Aqira.


"Kau serius dengan ucapanmu yang tadi?" tanya Aqira setelah tawa Brian berhenti.


"Yang mana? Mengajarimu memuaskanku?" goda Brian.


"Bukan!" hampir saja sendok yang dipegang Aqira melayang ke kepala Brian. "Tolong jangan bercanda lagi." rengek Aqira


"Baiklah, baik. Aku serius, akan menyuruh Joe mengurus pendaftaranmu, mulai minggu depan kau sudah bisa kuliah." ucap Brian serius.


"Benarkah?" tanya Aqira dengan mata berkaca kaca.


"Tapi ingat satu hal ini, aku akan menghentikan kuliahmu kalau masih menemui pria lain di belakangku, terlebih lagi dengan Hans." tegas Brian.


"Tapi kenapa, tidak mungkinkan aku tidak bicara dengan teman-teman sekelasku nanti. Dan aku juga tidak memiliki hubungan apa apa dengan kak Hans, kami hanya teman."


"Kalau aku bilang tidak ya tidak, hindari semua makhluk yang namanya pria, kau dengar itu?"


"Berarti kau juga?" Aqira menahan tawanya.


"Aku suamimu bodoh."


Aqira terkekeh, "Baiklah, demi pendidikanku, aku menjauhi semua pria." ucapnya dengan nada meledek.


"Kau..."

__ADS_1


"Terima kasih sudah mengizinkanku melanjutkan pendidikanku lagi." Aqira memotong ucapan Brian, air matanya sudah hampir jatuh.


"Tidak usah berlebihan begitu, hanya kuliah saja, itu hanya satu jentikan jari saja bagiku." ucap Brian menyombongkan diri.


Aqira mengerucutkan bibirnya, "Kau tau, sudah sejak lama aku ingin kuliah, tapi aku tidak bisa, kau tau sendiri alasannya.


Makanya aku sangat berterima kasih, aku berhutang padamu."


Brian menelan ludahnya kasar melihat bibir Aqira yang merah merona, Brian tidak tahan ingin sekali melahap bibir itu. Brian tersenyum menyeringai, "Kalau kau ingin berterima kasih, berterima kasihlah dengan benar."


"Hah...bagaimana caranya? aku tidak mengerti." bingung Aqira.


Brian berjalan memutari meja menghampiri Aqira yang duduk di seberangnya. Brian tersenyum penuh maksud, membuat Aqira kebingungan saat Brian menghampirinya.


Tanpa membiarkan Aqira bicara, Brian langsung mengangkat wajah Aqira dengan kedua tangannya, bibirnya dengan cepat meraup bibir Aqira, menyesapnya selama beberapa detik. Karena gemasnya Brian dengan sengaja menggigit bibir bawah Aqira sebelum akhirnya melepaskan bibir gadis itu.


"Aku sudah mengambil bayaranku." Brian tersenyum licik lalu meninggalkan Aqira yang masih terpaku dan mencoba mencerna apa yang dilakukan suaminya barusan.


Aqira tersadar, "Dia menciumku lagi?" lirih Aqira. Tangannya menyentuh bibirnya yang masih basah akibat perbuatan Brian.


.


.


.


.


.


.


Pagi semuanya😀


Jangan lupa comentnya sama votenya juga, biar makin semangat nulisnya😁😁


.


.


.


.


.


.


Love you all😘😗


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2