JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Dasar Mesum!!


__ADS_3

Selamat Membaca


Like dulu sebelum baca


Ajak yang lain baca juga yaπŸ˜€πŸ˜€


Aqira mengerjapkan matanya, sinar matahari pagi yang memantul tepat di bola matanya, membuat mata gadis itu terlihat berbinar.


Gadis itu tengah berbaring di atas ranjang dengan selimut yang menutupi sampai lehernya, seketika Aqira terduduk saat menyadari dirinya tidur di tempat tidur Brian.


Kenapa aku bisa ada di sini? Aqira mencoba mengingat ingat apa yang terjadi kemarin malam, Seingatku, semalam aku tertidur di lantai dan...aku tidak ingat lagi.


Apa mungkin Brian...ahh tidak mungkin, dia kan sangat membenciku..


Tapi siapa? tanya hati gadis itu.


Aqira melirik ke sampingnya, kosong, lalu menoleh ke arah sofa tempatnya biasa tertidur, Brian juga tidak ada di sana.


Sebaiknya aku cepat turun dari sini, jangan sampai dia melihatku tidur di sini, bergegas turun dari tempat tidur dan dengan langkah cepat menuju kamar mandi.


Setelah mandi, Aqira turun ke dapur untuk sarapan, sembari berjalan Aqira menerka-nerka dimana Brian sekarang. Karena sejak gadis itu terbangun, dia tidak melihat Brian sama sekali.


Sampai di meja makan, Aqira mendapati Bi Lusi sedang menyusun makanan di atas meja.


"Selamat pagi Bi Lusi." Aqira menyapa hangat wanita paruh baya itu.


"Selamat pagi Nona. Nona ingin sarapan?


Bibi sudah menyiapkan nasi goreng seafood kesukaan Nona." sambil menyendokkan nasi goreng ke piring.


"Iya Bi, aku mau.


Terima kasih Bi." menerima piring dari Bi Lusi.


"Sebenarnya Bibi tidak usah melakukannya, aku bisa sendiri." ucap Aqira yang tidak terbiasa dilayani seperti tadi.


"Tidak apa-apa Nona, itu sudah menjadi tugas kami." jawabnya sambil tersenyum.


"Bibi selalu saja begitu." Aqira mengerucutkan bibirnya jengah dengan jawaban Bi Lusi yang selalu mengatasnamakan tugas setiap dirinya dilayani seperti seorang Nona.


Aqira sebenarnya berniat mengajak Bi Lusi sarapan bersama, tapi dia tau pasti Bi Lusi akan membuat alasan yang tepat untuk menolaknya, sia sia saja.


Saat memasukkan sendok ke mulutnya, Aqira teringat sesuatu, lalu meletakkan kembali sendoknya ke piring, "Bi, apa Bibi melihat tuan muda?" tanya Aqira penasaran.


"Tuan Brian?" tanyanya, yang dijawab anggukan oleh Aqira.


"Tuan sudah berangkat Nona, pagi pagi sekali Nona." jelas Bi Lusi.


Cepat sekali dia pergi? pikirnya.


"Baiklah Bi, terima kasih. Aku makan dulu."


"Iya Nona, selamat makan."


Setelah sarapan Aqira kembali ke kamarnya, memperhatikan setiap sudut kamar itu.


"Huh bosan sekali." lirihnya lalu berjalan ke balkon kamarnya.


Seperti biasa, Aqira akan duduk di sana, menikmati kesendiriannya.


Ponsel yang diselipkan di saku celananya bergetar, Aqira mengambilnya lalu melihat, seseorang mengirim pesan kepadanya.


Tertulis My Beloved Husband di layar ponselnya.

__ADS_1


Gadis itu membuka pesan dari suaminya dengan penasaran, karena ini pertama kalinya pria itu mengirim pesan kepadanya.


Dahi Aqira berkerut membaca pesan dari sang suami, Jangan sekali kali kau keluar dari dari rumah tanpa seizinku, tetap di rumah, kau akan tau akibatnya kalau kau sampai melanggar perintahku, ingat itu!!


Aqira mencibir setelah membaca pesan dari sang suami, "Dasar menyebalkan, memangnya aku mau kemana, sampai mengancamku, kau pikir aku takut? Huh."


Aqira meletakkan ponselnya kembali tanpa membalas pesan dari Brian.


Sesaat kemudian ponselnya bergetar, dengan malas Aqira mengambil ponselnya, pesan dari Brian lagi, Hei, gadis bodoh, kenapa tidak membalas pesanku?!!! isi pesan dari Brian.


"Apa mau pria ini, aku harus membalas apa?" kesal Aqira. Saat akan membalas pesan Brian tiba tiba layar ponselnya berganti menampilkan kontak Brian memanggilnya.


Dengan ragu, Aqira mengangkat telepon dari Brian, "Halo.."


"Kenapa tidak membalas pesanku?!" suara Brian terdengar ketus.


Aqira menarik nafas, menahan kesal "Aku baru mau membalas tadi, tapi..."


"Sudah, kau sudah membaca pesanku bukan? Ingat itu, jangan sampai kau melanggarnya!" ucapnya dengan nada memerintah.


"Iya iya, aku mengerti. Kenapa kau begitu cerewet?"


"Heh jaga bicaramu, aku tidak cerewet, aku hanya mengingatkan gadis pembangkang sepertimu.


Sudahlah, aku tidak punya waktu berdebat denganmu." mematikan telepon lebih dulu.


Dengan kesalnya Aqira meletakkan kembali ponselnya di atas meja, "Dia yang menelpon, kenapa dia yang marah? Memang dasar menyebalkan. Kalau dia menelponku lagi, tidak akan kuangkat." Aqira menggerutu dengan wajahnya yang ditekuk kesal.


Aqira menjalani satu hari ini seperti biasanya, membantu Bi Lusi memasak dan bercengkerama dengan beberapa pelayan yang senggang.


Lama lama ia jadi bosan dengan kegiatannya itu, Aqira ingin mempunyai aktivitas yang baru, seperti bekerja atau kalau Brian mengizinkan ia masih ingin melanjutkan pendidikannya. Tapi, apa boleh buat, untuk keluar rumah saja, harus izin dari pria itu.


Nanti, Aqira akan mencoba mencoba dengan Brian, supaya diperbolehkan bekerja, setidaknya dia tidak akan bosan di rumah ini sendirian.


Aqira menunggu sambil melamun di sana, seketika lamunannya buyar saat terdengar suara pintu utama terbuka, Brian masuk dengan gagahnya diikuti Joe yang memegang tas kerjanya.


Aqira langsung berdiri dan menghampiri Brian, tapi Brian malah membelokkan langkahnya saat Aqira sampai di depan pria itu. Aqira mendengus kesal menatap punggung Brian yang sedang menaiki tangga.


Joe yang berdiri di sampingnya menahan senyum, melihat Brian dengan sengaja mengabaikan nona mudanya.


Aqira memelototkan matanya pada Joe, Jangan menertawakanku, seperti itu kira kira maksud tatapan Aqira.


Joe seketika mendatarkan wajahnya, takut dengan tatapan Aqira, lalu menjulurkan tas kerja kepada Aqira, "Ini Nona, tas tuan muda. Saya pulang dulu." Joe langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Aqira.


"Dua pria ini memang sangat cocok, sama sama sombong." gerutu Aqira lalu mengikuti Brian.


Brian tersenyum puas, membayangkan wajah Aqira yang kesal, sambil menaiki anak tangga.


Sampai di kamar, Aqira meletakkan tas Brian di atas meja di kamar itu. Lalu menghampiri Brian yang sedang membuka jasnya, tangannya bergerak membantu Brian membuka jas Brian.


Brian terdiam, terpaku dengan wajah cantik Aqira yang baru dia sadari selama ini. Brian menikmati, hal yang dilakukan istri kecilnya saat ini, biasanya dia akan menolak atau mendorong Aqira. Tapi rasanya sekarang dia tidak mau melakukan itu dan membiarkan Aqira melayaninya.


Hatinya menghangat ketika seseorang menantinya sepulang kerja dan melayaninya seperti ini.


"A..aku ingin bicara..." ucap Aqira gugup, takut permintaannya ditolak.


"Kau sudah bicara." sahut Brian menatap Aqira dingin.


"Maksudku, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu." mengerucutkan bibir tipisnya.


"Nanti saja, aku mau mandi." melongos begitu saja ke kamar mandi.


"Aaaa...kenapa dia sangat menyebalkan?" kesal Aqira dengan sikap suaminya.

__ADS_1


Aqira duduk di sofa menunggu Brian selesai mandi, sampai dia lupa menyiapkan baju tidur suaminya.


Saat Brian keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggangnya, Aqira mengikuti Brian yang ingin masuk ke walk in closet.


Brian mengkerutkan keningnya melihat tingkah Aqira, "Kenapa kau mengikutiku dari tadi?" sergah Brian menatap Aqira.


Aqira terkesiap, lalu tersadar Brian hanya memakai sehelai handuk di pinggangnya. Melihat dada bidang Brian yang atletis, terlihat seksi saat tetesan air masih melekat di tubuh pria itu membuat Aqira tanpa sadar menjulurkan tangannya menyentuh dada pria itu. Hatinya menjerit, saat merasakan kerasnya dada pria itu.


Brian heran melihat Aqira dengan beraninya menyentuhnya seperti itu, apa dia tidak takut apa yang akan terjadi setelah ini, pikirnya.


Brian tersenyum licik, "Aaa..., aku tau, kau ingin merasakan tubuhku yang indah ini bukan?" ucap Brian dengan nada menggoda.


Aqira tersentak, dan tersadar dari khayalan erotisnya, seketika menarik tangannya dari dada Brian. Wajahnya sudah memerah padam karena malu, sungguh ini adalah hal yang paling memalukan sepanjang hidupnya.


Aqira merutuki dirinya sendiri, yang sudah dengan tidak tau malunya menyentuh pria itu.


Melihat wajah Aqira yang menggemaskan, membuat Brian semakin semangat untuk mengerjainya lagi.


"Kalau begitu kemari, aku akan melayanimu dengan senang hati, kau tidak perlu ragu padaku, aku akan membuatmu merintih nikmat di bawahku.


Kemari aku akan memuaskanmu malam ini." Aqira memelotkan matanya mendengar kalimat vulgar pria itu.


Brian sangat senang saat ini, dia begitu menikmati wajah malu Aqira yang menurutnya sangat menggemaskan, tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain menggoda Aqira.


Brian mendekatkan dirinya pada Aqira, merangkul kedua bahu gadis itu, "Kau mau kita melakukannya dimana? Di atas sofa sana?" menunjuk sofa tempat biasa Aqira tidur. "Atau di atas ranjangku itu hmm?" bisik Brian dan dengan sengaja menghembuskan nafas hangatnya di telinga gadis itu.


Tubuh Aqira meremang, ia berusaha menahan nafasnya, saat tubuh Brian menempel padanya.


Aqira tidak tahan lagi dan langsung mendorong Brian menjauh darinya, "Dasar mesum." teriak Aqira.


Dan segera lari tergesa gesa dari kamar itu dengan wajahnya yang sudah merah padam.


Sedangkan Brian tertawa terbahak bahak melihat Aqira yang sudah malu seperti itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa like, coment and vote yaa


Votenya yang banyak yaaπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜„


Love you allπŸ˜˜πŸ˜—


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2