JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
KISSMARK


__ADS_3

LIKE DULU SEBELUM BACA


 


 


 


"Kita sedang apa di sini?" tanya Aqira kepada Brian, mengikuti langkah kaki panjang pria itu di sepanjang jalan dari lobi hotel menuju lift.


"Ikut saja, jangan banyak tanya." ucap Brian sambil menarik tangan Aqira masuk ke dalam lift.


Setelah lift tertutup, Brian langsung menyerang Aqira dengan ciuman panasnya. Awalnya Aqira memberontak karena menyadari dimana mereka sekarang, bagaimana jika ada orang masuk ke dalam lift melihat mereka berbuat tak senonoh. Sedetik kemudian Aqira mulai melemah, jujur saja dia juga menginginkan ciuman ini, Aqira malah ikut menikmati serta membalas ciuman yang disuguhkan suaminya.


Kewarasan Aqira kembali dan segera mendorong dada Brian, kemudian menatap pria itu memprotes. "Apa yang kau lakukan." ujar Aqira kesal. Kini Aqira tau alasan suaminya membawa dirinya ke hotel, "Dasar mesum." gerutu wanita itu.


Dilihatnya jam tangan yang melekat di pergelangan tangannya, astaga dirinya sudah terlambat ke kampus.


Aqira bergerak ingin menghentikan lift, tapi dihalangi oleh Brian dengan tubuh kekarnya.


"Mau kemana sayang?" ucap Brian dengan seringai di wajahnya.


"Sayang, aku sudah terlambat ke kampus, tolong biarkan aku pergi." mohon Aqira dengan wajah memelas.


Tapi sama sekali tidak Brian hiraukan, "Kita selesaikan dulu urusan kita, setelah itu aku akan mengantarmu ke kampus." menarik Aqira di dekatnya.


"Sayang, kumohon. Nanti malam kan bisa."


"Tapi aku menginginkanmu saat ini juga." Brian langsung membopong tubuh mungil Aqira bertepatan lift yang mereka naiki telah sampai.  Aqira meronta-ronta di bahu Brian, ingin diturunkan.


Mereka sampai di sebuah kamar presedent suite mewah, entah sejak kapan pria itu memesannya.

__ADS_1


Brian melempar tubuh Aqira di atas ranjang kemudian ikut naik menindih tubuh mungilnya. Dasar mesum, kalimat terakhir Aqira sebelum akhirnya menjadi desahan kenikmatan akibat ulah suaminya. Kedua insan yang harusnya sudah sampai ke tempat tujuan masing-masing, kini berakhir di atas ranjang sebuah kamar hotel dengan kegiatan panas mereka.


 


 


 


Wajah Aqira memberengut kesal di sepanjang perjalanan menuju kampus. Lihat jam berapa sekarang, siapa yang berangkat sesiang ini ke kampus, dua mata kuliah paginya harus terlewati akibat ulah suaminya.


"Kita sudah sampai sayang." ucap Brian dengan senyum menjengkelkan, membuat Aqira semakin kesal dibuatnya. Aqira hanya mendengus lalu keluar dari mobil itu tanpa permisi kepada Brian. Sedangkan pelakunya tertawa senang di dalam mobil, "Dia marah padahal tadi begitu menikmatinya." kekeh Brian.


"Aqira.." teriak Sindy yang melihat teman baiknya berjalan di sepanjang koridor. Seketika wajah Aqira menjadi cerah melihat teman baiknya itu. Aqira menghampiri Sindy, "Kenapa tadi pagi tidak masuk?" tanya Sindy sambil menggandeng Aqira masuk ke dalam kelas.


Wajah Aqira menjadi kesal lagi, mendengus kesal, "Kenapa lagi kalau bukan karena si mesum itu." gerutu Aqira.


Awalnya Sindy bingung akan ucapannya, tapi setelah melihat sebuah tanda merah di sekitar leher Aqira, akhirnya Sindy mengerti.


"Maksudmu?"


"Itu." menunjuk lehernya sendiri.


Dengan cepat Aqira mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu mengarahkan kamera ke lehernya.


"Brian!" geram Aqira. Aqira tidak  menyadari Brian membuat tanda di seluruh tubuhnya.


Sindy tertawa kecil melihat Aqira, "Enak ya, tidak masuk kelas malah asik bermesraan dengan suami." ledek Sindy.


"Sindy, nanti ada yang dengar." desis Aqira.


"Bagaimana aku menutupi tanda ini?" Aqira sibuk menutupi lehernya dengan kerah bajunya, tapi tetap saja masih terlihat jelas.

__ADS_1


"Kau bawa jaket tidak?" Sindy menggeleng.


"Ayo ke toilet." ajak Sindy menarik tangan Aqira.


"Tapi Sin, nanti banyak orang yang melihat."


"Kau mau menutupinya tidak?" Aqira mengangguk.


"Ya sudah ikut saja." Akhirnya Aqira dan Sindy pergi ke toilet.


Di dalam toilet Sindy merogoh tasnya, mengambil sebuah foundation dari dalam sana.


"Kau mau apa?" pekik Aqira saat Sindy mulai mengaplikasikan cairan putih kekuningan itu ke lehernya.


Sindy berdecak kesal, "Diamlah Qira, kau mau tanda ini hilang tidak?"


Aqira mengangguk lalu membiarkan Sindy memegang lehernya.


"Nah sudah tidak terlalu nampak lagi kan?" ujar Sindy.


Aqira tersenyum senang, "Iya tandanya sudah samar. Terima kasih Sin."


"Kau tau darimana Sin?"


"Dari novel yang sering kubaca."


 


 


Love you all

__ADS_1


Keep safe and be healthy


__ADS_2