
LIKE DULU SEBELUM BACA
Jessi saat ini sedang berada di apartemen miliknya bersama seorang pria yang dipanggilnya untuk bersenang-senang.
Sebagai seorang wanita yang sudah pernah menikah, tentu saja dia sangat menginginkan belaian seorang pria untuk memuaskan hasratnya.
Oleh karena itu, Jessi melampiaskan hasratnya kepada pria bernama John itu.
John merupakan salah satu pegawai di perusahaan Brian yang memiliki posisi yang cukup tinggi di sana.
Sudah lama John menyimpan dendam kepada Brian, karena pria itu pernah mengambil wanita yang sangat dicintainya.
Siapa lagi kalau bukan Jessi.
Dulu John sangat menyukai Jessi, dan sangat ingin memiliki wanita itu.
Tapi, karena dirinya hanyalah seorang pemuda biasa yang tidak memiliki harta berlimpah, Jessi menolaknya mentah-mentah dan malah memilih Brian sebagai kekasihnya. Hal itu membuat John kecewa dan marah hingga berujung dendam.
Sekarang, John tidak seperti dulu lagi, pria itu sama sekali tidak mencintai Jessi lagi. Dirinya sudah muak, karena ternyata dia menyadari telah mengejar-ngejar wanita materialistis dan licik.
Meski tidak mencintai Jessi lagi, hasrat John yang ingin membalaskan dendamnya kepada Brian tidak menyurut sedikitpun. John ingin Brian hancur dengan menghancurkan bisnis yang digeluti Brian selama ini.
Sebenarnya John hanya iri kepada Brian, karena Brian selalu dengan mudah mendapatkan apapun yang dia mau, termasuk wanita salah satunya. Oleh karena itu, John selalu mengikuti Brian, hingga saat ini dia menjadi karyawan kepercayaan di perusahaan Brian, demi bisa melancarkan valas dendamnya.
Dan inilah kesempatan John, John akan memanfaatkan Jessi untuk menghancurkan Brian.
__ADS_1
•••
Aqira mengerjapkan matanya perlahan. Cahaya terang dan langit-langit putih memenuhi pandangannya.
Dia berusaha menggerakkan kepalanya, tapi rasa sakit tiba-tiba saja menghantam.
Aqira merintih pelan, membuat seseorang yang sedang terbaring di sebelahnya tersadar.
Brian yang saat itu sedang membaringkan tubuhnya, karena dipaksa oleh dokter, agar dirinya istirahat. Hampir saja Brian terlelap tapi tidak jadi ketika mendengar suara rintihan Aqira.
"Sayang...." panggilnya seraya bangkit dari tempat tidurnya.
"Kau sudah bangun sayang?" Brian tersenyum menghampiri Aqira.
"Jangan banyak bergerak dulu sayang." ucapnya sembari membaringkan Aqira lagi.
"Kau sudah benar-benar bangun?" lirih wanita itu menatap lekat wajah tampan itu.
Brian tersenyum penuh arti, mengambil tangan Aqira lalu meletakkan di pipinya.
"Tentu saja sayang... aku sudah bangun..." memberikan kecupan hangat di telapak tangannya.
"Kupikir hanya mimpi..." jawabnya. Air matanya lolos begitu saja membasahi wajah pucatnya.
"Jangan menangis sayang.." ujar Brian sambil menghapus air mata Aqira.
__ADS_1
"Aku ingin duduk..." mengangkat tangannya.
"Jangan dulu, kau masih lemah."
"Aku ingin duduk, tolong bantu aku." Aqira bersikukuh.
Brian menyerah, istrinya ini terkadang sangat keras kepala, "Baiklah..." lalu membantu Aqira duduk.
Setelah Aqira duduk sempurna, tangan mungilnya beringsut memeluk Brian.
"Maaf..." hanya itu kata yang keluar dari mulutnya.
Brian mengerti apa yang sedang istrinya rasakan. Tangan kekarnya bergerak mengusap punggungnya dengan lembut.
"Jangan minta maaf. Ini juga salahku..." ujar Brian berusaha menenangkan wanita yang dicintainya itu.
Aqira menggeleng, "Tetap saja salahku. Kalau saja aku tidak mengusirmu saat itu, kejadian ini pasti tidak pernah terjadi." ucapnya dengan suara sesenggukan.
"Tidak sayang, kau tidak bersalah sama sekali. Ini semua adalah salahku, dan aku memang sudah sepantasnya mengalami kejadian ini." ujar Brian kemudian menarik tubuh Aqira dari pelukannya.
Brian menatap lekat wajah istrinya penuh tatapan cinta. Wajah mereka semakin dekat dan hampir saja menyatu.
Tetapi gagal ketika seseorang tiba-tiba membuka pintu ruangan.
LOVE YOU ALL
__ADS_1