
Selamat Membaca
Like dulu sebelum baca
Kasih votenya yang banyak yaππ
Di sepanjang perjalanan menuju kantor, Brian selalu menampakkan wajah berseri serinya.
Joe sampai heran melihat sikap tuan mudanya pagi ini.
"Sepertinya Anda terlihat senang pagi ini tuan?" tanya Joe melirik dari kaca depan mobil itu.
"Ahh.. tidak ada, fokuslah menyetir." ucap Brian dan dengan cepat mengubah wajahnya menjadi dingin seperti biasanya.
Brian memejamkan matanya, membayangkan wajah Aqira yang terlihat senang karena bisa melanjutkan pendidikannya. Ternyata sesederhana itulah kebahagiaan gadis itu. Tidak seperti gadis lain, yang berjingkrak senang ketika mendapatkan kemewahan dan bergelimang harta.
Muncul seberkas penyesalan dalam benak Brian saat mengingat bagaimana perbuatannya pada gadis itu.
Apalagi saat mengingat pada malam itu, membuatnya menjadi iba terhadap gadis itu.
Flashback on
Brian keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk melilit pinggangnya.
Saat akan melangkahkan kakinya ke walk in closet, pandangan Brian teralihkan dengan gadis yang sudah menjadi istrinya itu, tertidur di lantai. Brian memperhatikan Aqira sejenak, gadis itu tidak bergerak sama sekali, tanpa pikir panjang Brian menghampiri Aqira.
"Hei bangun." membangunkan Aqira sambil berjongkok, Aqira tidak bergeming sama sekali
Brian membalikkan kepala Aqira yang menelungkup ke lantai, sehingga wajahnya yang tertutupi rambut menghadap Brian.
Brian menyingkap rambut Aqira, wajah gadis itu terlihat sembab karena terlalu lama menangis, bahkan mata gadis itu masih basah karena air mata.
Brian menghela napasnya, "Merepotkan sekali." gerutunya lalu kedua tangannya diletakkan di bawah leher dan paha Aqira. Meraup tubuh gadis itu dalam gendongannya, lalu berjalan menuju tempat tidur dan membaringkan Aqira dengan pelan pelan.
Dengan hati hati Brian membentangkan selimut hingga menutupi tubuh mungil istri kecilnya itu.
Sejenak Brian memperhatikan wajah Aqira, menelusuri setiap bagian wajah itu tanpa melewatkan seinci pun. Dari bulu matanya yang lentik, hidung kecilnya yang terlihat bangir dan bibir tipis merah merona yang sudah beberapa kali dirasakannya, seketika membuat jantung pria itu berdegub kencang.
"Akhir akhir ini jantungku sepertinya kurang sehat." lirihnya sambil memegang dadanya yang memberontak tidak karuan.
Brian segera memutus pandangannya dari Aqira, lalu masuk ke walk in closet.
Malam sudah sangat larut, Brian memutuskan untuk tidur, dan melanjutkan pekerjaannya esok hari.
Brian mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar, mencari cari tempat dimana dia akan tidur malam ini. Setelah menimang cukup lama, akhirnya dia memutuskan tidur di sofa, tempat biasa istrinya tidur.
Sudah hampir setengah jam Brian mencoba memejamkan matanya, tapi tidak bisa. Sofa ini sangat tidak nyaman, pria itu tidak terbiasa tidur di sofa. Entah kenapa Aqira bisa tidur dengan lelap di sini setiap malamnya.
Brian mengusap rambutnya kasar, lalu dengan badan yang lemas karena kantuk, Brian berjalan ke tempat tidur. Mengambil tempat untuk berbaring di sebelah Aqira.
Karena sudah mengantuk, tanpa butuh waktu lama, Brian sudah terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Suara tangisan Aqira yang begitu lirih, mau tidak mau membuat pria di sebelahnya tersadar dari alam bawah sadarnya.
"Ayah... Ibu... Kalian dimana...." tangisan Aqira makin keras. Brian menoleh ke Aqira, mata gadis itu masih tertutup rapat, hanya saja air mata gadis itu sudah merambat melewati pipinya. Aqira tengah mimpi buruk.
Gadis itu terlihat gelisah, tangannya seolah menjangkau sesuatu di depannya.
"Kalian dimana...aku merindukan kalian.. "
tangisan yang terdengar memilukan membuat hati Brian terasa sakit melihat gadisnya itu.
Tanpa sadar, tangan Brian terulur membawa gadis itu ke dalam dekapannya. Mengelus punggung Aqira sembari mengucapkan kata kata yang membuat Aqira merasa tenang.
"Aku di sini, tidurlah." seolah kata kata itu adalah sebuah mantra ajaib, tangis Aqira seketika mereda. Digantikan dengan suara sesenggukan yang lama kelamaan menjadi suara dengkuran halus dari gadis itu.
Aqira menggeliat pelan, bergerak mencari posisi tidur yang nyaman. Tetapi gadis itu malah makin merapatkan tubuhnya ke tubuh Brian, menelusupkan kepalanya ke dada bidang pria itu.
Brian juga membalas pelukan Aqira, meletakkan dagunya di atas kepala gadis mungil itu. "Kau benar benar merindukan orangtuamu ya." lirih Brian sebelum akhirnya terlelap dalam tidurnya bersama gadis dalam pelukannya.
Flashback of
"Joe.." panggil Brian lagi saat Joe keluar dari ruangannya.
"Ya Tuan, ada hal yang Anda butuhkan?"
"Tolong urus surat pendaftaran masuk ke salah satu universitas terbaik kita di kota ini!"
Joe terlihat bingung, siapa yang ingin kuliah, pikirnya.
"Dasar bodoh, bukan aku. Aku sudah mendapat gelar sampai S3, untuk apa aku kuliah lagi." ucap Brian kesal karena tingkah bodoh sekretarisnya itu.
"La..lalu siapa Tuan?" Joe gelagapan.
"Untuk dia."
Joe semakin bingung, siapa dia, pikirnya.
"Dia siapa, Tuan?"
"Gadis itu."
"Maaf Tuan?"
Brian berdecak kesal melihat sekretarisnya itu. "Istriku! Kenapa kau sangat bodoh?" ketus Brian, yang begitu enggan menyebut nama istrinya sendiri.
"Ma..maaf Tuan, saya bodoh."
"Kau yang mengatakannya, bukan aku." Brian terkekeh.
"Segera urus pendaftarannya, minggu depan dia sudah harus masuk." perintahnya.
"Baik Tuan, segera saya laksanakan. Permisi Tuan."
__ADS_1
"Hmm.."
Di rumah, Aqira sedang memasak untuk makan malam. Dirinya berencana memasak makanan yang lebih mewah untuk Brian, sebagai ucapan terima kasih pada lelaki itu, karena telah mengizinkannya untuk kuliah.
Bel rumah Brian berbunyi, Aqira bingung siapa yang datang bertamu sesore ini, kalau itu Brian, tidak mungkin menekan bel untuk masuk ke rumahnya sendiri.
Aqira terburu buru melangkah ke pintu utama, lalu membuka pintu besar itu perlahan.
"Hai Kakak ipar..?"
"Maaf, apa aku mengenalmu?"
"Aku..."
.
.
.
.
.
.
Jngan lupaa like, coment and vote ya
votenya yang banyak okπ
.
.
.
.
.
.
.
.
.Love you allππ€
.
.
__ADS_1