JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Akhirnya...


__ADS_3

LIKE DULU SEBELUM BACA


Pikiran wanita itu sudah tidak jernih lagi. Bayang-bayang Brian akan meninggalkannya sendiri di dunia ini, membuat batinnya tersiksa setengah mati. Dia tidak sanggup jika harus terpisah dunia dengan Brian. Brian adalah lelaki pertamanya, sekaligus cinta pertamanya, dia tidak akan sanggup hidup sendiri tanpa pria itu.


Jika mungkin ini adalah jalan terbaik untuk keduanya, Aqira tidak apa-apa jika harus bertemu dengan Brian di dunia lain, walaupun rasanya itu tidak mungkin. Tapi rasa takut kehilangan lebih ditakutinya dari pada rasa takutnya kepada Tuhan.


Karena bagaimana pun juga, Tuhan sangat tidak menyukai dan membenci hamba-Nya yang melakukan perbuatan seburuk ini.


"Baiklah sayang, tidak apa jika kau tidak mau bangun, karena aku akan lebih dulu meninggalkanmu, dan setelah itu kau boleh menyusulku, kita akan bertemu dunia lain...." ucap Aqira, dengan perlahan menggoreskan pisau itu di pergelangan tangannya.


Aqira memejamkan matanya, berusaha menahan rasa sakit yang dihasilkan oleh goresan pisau bermata tajam itu.


Tapi, tiba-tiba saja gerakan tangan Aqira terhenti oleh tangan kekar yang menarik tangannya dengan kasar.


Pisau yang sudah sempat dialiri oleh darah segar milik Aqira, terhempas begitu saja di atas lantai. Menyebabkan darah itupun menghambur berceceran, mengotori lantai putih kamar itu.


Aqira melihat tangannya yang berlumuran oleh darah segar yang masih merembes dari kulitnya, kini digenggam erat oleh sebuah tangan kekar.


Perlahan tapi pasti, Aqira menelusuri bentuk tangan itu, kemudian menaikkan pandangannya kepada sang pemilik tangan kekar itu.


Sepasang mata yang sudah berbinar-binar, kini menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

__ADS_1


Mata yang selama ini dirindukan oleh wanita itu, kini terbuka lebar, menatapnya dengan intens.


"Sa...sayang...?" lirihnya.


Aqira masih belum percaya, akan apa yang dilihatnya ini.


Ini bukan mimpi bukan, Brian memang benar-benar bangun bukan?


"Sayang ...kau bangun...?" Aqira mengangkat satu tangannya yang lain, bergerak perlahan menyentuh wajah pucat pria itu.


Tapi sepertinya itu bukan mimpi, ini semua memang nyata.


Memeluk pria yang dicintainya seerat mungkin, seakan tidak ingin kehilangannya.


Bahkan tangannya yang sudah bercucuran darah, kini tidak dirasakannya lagi. Dia sangat senang, sampai tidak menyadari telah kehilangan banyak darah.


Tangis wanita itu pecah seketika di dalam pelukan Brian. Meluapkan segala perasaan yang selama tiga hari ini ditahannya.


Perasaan lega sekaligus bahagia, kini dirasakan wanita itu secara bersamaan.


Aqira mengangkat kepalanya, tetapi tubuhnya masih berada dalam pelukan Brian. "Sayang..." lirihnya dengan sesenggukan.

__ADS_1


"Kau sudah bangun... atau hanya mimpi...?" tanya Aqira seraya mengelus pipi yang terasa bulu-bulu halus tumbuh di sana.


Brian yang juga sama bahagianya, tersenyum dan melupakan tangan Aqira yang masih mengucurkan darah di balik punggungnya.


"Sayang sekali, ini bukan mimpi." jawab pria itu.


Kemudian menarik wajah Aqira, mencium bibir merah itu dengan lembut.


Ciuman yang awalnya hanya menempel, kini berubah menjadi lum*t*n kecil.


Ciuman dalam yang mereka lakukan, seperti ingin meluapkan perasaan bahagia dalam hati masing-masing.


Brian melepas pertautan mereka, ketika merasakan Aqira yang mulai kehabisan oksigen.


Diraupnya wajah mungil yang kini terlihat nampak pucat dengan kedua telapak tangannya.


Manik coklatnya kian meredup seraya dengan pelukan erat tangannya mulai lepas dari tubuh Brian.


Dan akhirnya, tubuh wanita itu terkulai lemas di dalam pelukan Brian.


LOVE YOU ALL

__ADS_1


__ADS_2