JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Kedatangan Hans


__ADS_3

LIKE DULU SEBELUM BACA


"Kakak..." tiba-tiba saja Sasha masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu, membuat kedua insan yang sedang berbahagia itu terkejut. Apalagi Brian, pria itu mendengus kesal karena kegiatan mereka terganggu akan kedatangan mereka.


Bukan hanya Sasha saja yang datang, Sindy, Risa dan Darman juga ikut di belakangnya.


"Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Risa duduk di sebelah Aqira kemudian memeluk sebentar.


"Sudah lebih baik Mom." jawabnya pelan. Pandangannya beralih kepada Sindy yang berdiri di samping Sasha.


"Sindy kau datang? Tau dari mana aku di sini." tanya Aqira yang melihat kedatangan teman baiknya. Karena seingatnya dia sama sekali tidak memberitahukan kepada siapa pun, bahwa dirinya ada di rumah sakit.


"Aku cemas karena kau sudah beberapa hari tidak kuliah tanpa pemberitahuan sama sekali, jadi aku datang ke rumahmu. Bi Ane bilang Kak Brian kecelakaan, jadi aku datang kemari." jelas Sindy.


"Tapi kenapa jadi kau yang sakit?" tanya Sindy lagi, karena melihat Aqira memakai baju khusus pasien serta selang infus melekat di punggung tangannya.


Mendapat pertanyaan seperti itu, Aqira menjadi terdiam. Apakah dia harus menjawab kalau dirinya melakukan tindakan bunuh diri?


Sasha yang seakan mengerti perasaan kakak iparnya itu, segera menjawab.

__ADS_1


"Mereka itu pasangan yang romantis Kak Sin, Kak Brian yang sakit, eh Kakak Ipar jadi ikut-ikutan sakit. Ikatan batin mereka memang sangat kuat." ujar Sasha sambil tergelak.


Sindy mencebikkan bibirnya, "Aqira memang bucin parah sama Kak Brian..." Sindy ikut menimpali membuat suasana di ruangan itu mencair.


"Apa itu bucin?" tanya Darman.


"Daddy tidak tau? Daddy dari mana saja selama ini, bucin itu singkatan dari budak cinta." jelas Sasha terkekeh.


"Daddy mana tau, bahasa anak muda sekarang sangat aneh."


Aqira tersenyum malu mendengar adik ipar dan teman baiknya saling meledek dirinya. Karena memang benar, dia sudah menjadi budak cinta suaminya ini.


Mereka yang mendengar usiran Brian berdecih kesal. "Bilang saja kau yang tidak ingin diganggu bermesraan." decak Risa sambil menoyor kepala Brian.


"Mom, hentikan. Selalu saja kepalaku, aku ini sudah besar." kesal Brian, karena di umurnya yang sudah berkepala tiga pun, Mommynya selalu memperlakukannya seperti anak-anak.


Mereka semua tertawa melihat Brian kesal seperti ini. Apalagi Aqira, dia bisa melihat sisi lain dari suaminya saat bersama keluarganya.


Tawa mereka berhenti ketika melihat seseorang masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Kak Hans.." panggil Aqira.


"Pangeranku..." terdengar cicitan Sasha namun masih bisa di dengar orang-orang di ruangan itu.


Semua orang menatap Sasha heran, apa maksud gadis ini?


Sasha tersadar dirinya menjadi pusat perhatian, lalu menutup bibirnya.


"Siapa pangeranmu Sasha?" tanya Aqira.


"Huh datang lagi satu pengganggu yang lain." Brian berdecak kesal, melihat rivalnya itu datang.


"Hei kau ini, orang belum dipersilahkan masuk kau sudah kesal." ujar Darman kepada putranya itu.


"Silahkan masuk Nak, ingin menjenguk siapa, Brian atau Aqira?" tanya Darman sopan.


Sasha bernapas lega karena tidak harus menjawab pertanyaan Aqira tadi. Kenapa tadi dia bisa keceplosan memanggil Hans seperti itu?


"Awalnya ingin menjenguk Brian, tapi sekarang sepertinya tidak lagi, karena Aqira adalah teman saya yang sebenarnya, jadi saya akan menjenguk Aqira saja." ucap Hans yang sepertinya sengaja ingin memanas-manasi Brian.

__ADS_1


__ADS_2