JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Salah Paham


__ADS_3

Happy Reading


Brian dan Aqira berjalan beriringan keluar dari restaurant. Seketika langkah Aqira terhenti kala wanita itu melihat seseorang yang terasa familiar baginya.


Aqira mempertajam penglihatannya ke arah wanita yang duduk di dekat pintu masuk restaurant itu. Aqira mencoba mengingat kapan dia bertemu dengan wanita itu.


Hingga beberapa saat Aqira dapat mengingat wanita itu, hatinya bergemuruh riuh saat mengetahui siapa wanita itu.


Aqira kembali menoleh dan betapa sakitnya hati Aqira melihat pemandangan di depannya ini.


Sejak dirinya mengingat-ingat wajah wanita tadi, ternyata tanpa disadarinya suaminya yang sedari tadi di sampingnya mengikuti pandangan Aqira.


Dan benar saja, Brian menghampiri wanita itu, meninggalkan Aqira yang tengah kebingungan sendirian.


Kini Brian tengah berdiri di hadapan wanita itu, matanya seolah tak pernah lepas memandang wanita yang sangat dirindukannya selama ini.


"Jessi..." lirih Brian memanggil nama wanita yang hanya duduk diam memperhatikan Brian.


Jessi akhirnya berdiri, masih memandang Brian dengan tatapan sendu. Manik keduanya sama-sama memancarkan kerinduan yang tak terkira.


Seolah rindu tak terpuaskan hanya dengan tatapan mata saja, wanita yang bernama Jessi itu langsung mendekat dan memeluk tubuh Brian dengan erat.


Brian yang juga sama rindunya kepada wanita itu, membalas pelukan dari Jessi tanpa mempedulikan Aqira yang tengah memperhatikan keduanya dengan perasaan hancur.


Aqira tak kuasa menahan air matanya, melihat suaminya memeluk wanita lain di depannya sendiri, istri mana yang tidak sakit hati.


Aqira tidak sanggup lagi melihat semua itu, dengan air mata yang tiada henti mendera, Aqira pergi meninggalkan tempat itu.


Berlari secepat yang dia bisa, menjauh dari tempat itu sesegera mungkin.


Setelah dirasa sudah cukup jauh, Aqira berhenti sejenak, napasnya tersenggal akibat berlari.


Air matanya tiada henti mengalir setiap mengingat kejadian tadi.


Hatinya kembali merasakan sakit, bahkan lebih sakit ketika Brian memperlakukannya dengan buruk.


Aqira tidak tau harus bagaimana lagi, mau mengadu kepada siapa Aqira tidak tau.


Kini dia hanya bisa menangis, menangisi nasib buruknya yang tiada henti menghampiri.


Aqira begitu kalut dalam perasaannya, sampai tidak merasakan sakit pergelangan kakinya yang telah mengeluarkan darah, akibat bergesekan dengan tali sepatu yang dipakainya saat berlari tadi.


Aqira terduduk di pinggir jalan, menangis tersedu-sedu tanpa memikirkan para pengendara yang lalu lalang melihat heran kepadanya.


Sedangkan di restaurant, Brian dan wanita bernama Jessi itu kini duduk berhadapan.


Kedua mata mereka saling memandang tanpa satu ucapan kalimat keluar dari mulut mereka.


Setelah beberapa saat, akhirnya wanita itu membuka pembicaraan. Dirinya terlihat ragu, tapi akhirnya dia tetap berbicara.


"Maafkan aku." hanya itulah kata yang terucap dari bibir wanita itu.


Brian hanya diam, tidak menanggapi ucapan wanita itu. Matanya terus menatap lekat manik mata Jessi yang menyiratkan sebuah penyesalan.

__ADS_1


Brian sama sekali belum menyadari istrinya yang telah pergi.


Jessi kembali menundukkan kepalanya, wanita itu takut jika sampai Brian menolak permintaan maafnya.


Selama beberapa menit Brian hanya diam saja, tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulutnya. Dan saat itu juga Brian menyadari sesuatu.


"Aqira!" pekik Brian.


Brian membalikkan tubuhnya ke arah tempat sebelumnya Aqira berada.


Brian segera berdiri saat menyadari Aqira tidak lagi di sana.


"Bodohnya aku." rutuk Brian.


Pria itu bergegas untuk mencari istrinya, langkahnya tertahan ketika Jessi mencekal lengannya.


"Brian.." panggil Jessi dengan air matanya yang sudah membanjiri wajah cantiknya.


Tanpa mengatakan apapun Brian melepaskan cekalan tangan Jessi lalu meninggalkan tempat itu.


Brian setengah berlari mencari keberadaan Aqira, tapi nihil dia tidak menemukan Aqira dimana pun.


Brian meraup wajahnya kasar, "Dia pasti sudah salah paham." lirih Brian dengan matanya yang masih menelusuri sekitar restaurant itu.


Brian pikir Aqira sudah pulang duluan, maka dia memutuskan untuk segera menyusul istrinya.


Di mobil Brian begitu panik, Brian sudah dapat menebak bahwa Aqira pasti salah paham padanya. Brian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dirinya ingin cepat sampai ke rumah dan menjelaskan semuanya pada Aqira.


Pria itu melangkahkan kakinya lebar menuju kamar mereka.


Brian takut kalau sampai Aqira merasakan sakit hati lagi, padahal dirinya sudah berjanji tidak akan menyakiti wanita itu.


Brian membuka pintu kamarnya, maniknya menulusuri ruangan itu, tidak ada seorang pun di sana. Brian mencari di kamar mandi dan ruang ganti, sama saja, Aqira tidak ada di kamar ini.


Brian turun ke bawah, kepanikan jelas sekali melanda di raut wajah Brian.


"Bi Lusi.. Bi Lusi.." suara Brian membahana di ruang tengah itu.


Beberapa saat kemudian munculah Bi Lusi dari arah dapur.


"Ada apa Tuan..?" tanya Bi Lusi sambil menundukkan kepalanya.


"Dimana istriku, kenapa dia tidak ada di kamarnya." Brian tidak sabaran.


"Maaf Tuan, Nona Aqira belum pulang sejak Tuan membawa Nona keluar, Tuan." jelas Bi Lusi yang juga ikut panik saat menetahui Nona mudanya menghilang.


Brian menjadi lebih panik saat mendengar ucapan Bi Lusi.


"Kemana dia pergi?" Brian menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


Kedua tangannya menyangga kepalanya, dirinya sungguh menyesali perbuatannya yang membuat istrinya salah paham.


Dan sekarang dia tidak tau keberadaan istrinya, hal itu membuat Brian cemas, bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada Aqira. Brian tidak bisa membayangkan jika sampai hal itu terjadi.

__ADS_1


Brian teringat, dia belum menghubungi Aqira. Dengan cepat Brian mengambil ponselnya lalu menghubungi istrinya.


Harap-harap cemas, Brian mendekatkan ponselnya ke telinganya.


Sial! Ponsel Aqira tidak aktif sama sekali.


Bi Lusi yang sedari tadi melihat kepanikan majikannya, akhirnya membuka suara.


"Maaf Tuan, saya lancang. Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa Nona Aqira tidak pulang bersama Anda." tanya Bi Lusi hati-hati.


Bi Lusi pikir Brian akan marah karena telah bertanya urusan pribadi rumah tangganya.


Ternyata tidak, pria dingin itu menanggapi Bi Lusi, "Aku yang salah Bi, Aku telah membuatnya salah paham." jawab Brian dengan lesu.


"Sekarang aku tidak tau dimana istriku berada, aku tidak tau harus mencarinya kemana lagi Bi." lanjut Brian lagi.


"Maaf Tuan. Apakah Tuan sudah menanyakan ke rumah Tuan Besar? Mungkin saja Nona ada di sana." usul Bi Lusi.


"Iya Bi, aku lupa. Aku terlalu panik sampai tidak memikirkan hal itu." Brian mengambil ponselnya lagi, ingin menghubungi Mommynya.


Brian langsung menanyakan istrinya begitu Mommynya mengangkat, tapi sayang ternyata Aqira tidak ada di sana. Risa malah mencecar putranya itu dengan pertanyaannya, ikut cemas saat tau menantunya tidak ada di rumah.


Setelah mematikan telepon, Brian menghela napasnya, "Istriku tidak ada di sana Bi." ujar Brian lesu.


Bi Lusi nampak berpikir, kemana kira-kira majikannya itu pergi.


"Tuan, coba cari Nona di rumah orangtuanya, saya yakin Nona pasti ada di sana." ujar Bi Lusi.


Brian seketika bangkit dari duduknya, "Iya Bi.. istriku pasti ada di sana. Terima kasih Bi, aku aku pergi dulu." Brian bergegas keluar dari rumah.


Brian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pria itu seperti sudah tidak menyayangi nyawanya lagi.


Yang terpenting sekarang adalah menemui Aqira, lalu menjelaskan semuanya.


Perjalanan yang harusnya ditempuh dalam satu jam lebih, Brian akhirnya sampai ke rumah Aqira dalam waktu setengah jam.


Brian turun dari mobil terburu-buru, melangkahkan kakinya ke rumah sederhana itu.


Brian mengetuk pintu itu beberapa kali, menunggu beberapa saat dan terdengarlah suara pintu yang dibuka.


Setelah pintu terbuka, muncullah Aqira dengan wajah sembabnya. Air mata wanita itu masih menggenan di sudut matanya.


"Sayang maafkan aku. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kau sudah salah paham sayang.."


Belum juga Brian menyelesaikan ucapannya Aqira langsung memotongnya.


"Aku membencimu." ucap Aqira lantang lalu menutup pintu dengan kasar.


Brian menatap nanar pintu yang tertutup dengan kasar. Tangannya bergerak memegang dadanya yang berdenyut sakit.


Sakit sekali rasanya saat mendengar ucapan istrinya barusan.


"Jangan membenciku." lirih Brian sambil menyandarkan kepalanya di depan pintu rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2