JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Tidak Mungkin


__ADS_3

Setelah Brian pergi, tangis Aqira pecah seketika. Apa yang telah dikatakannya baru saja. Cerai?


Apakah dia benar-benar ingin berpisah dari Brian? Ya Tuhan, ada apa dengan dirinya. Kenapa dia sanggup mengucapkan kata perpisahan di saat hatinya masih sangat mencintai pria itu.


Kakinya mulai melemah, tidak sanggup lagi menopang tubuhnya.


Tubuh mungil itu limbung seketika di atas lantai dingin kamar itu.


Meraung-raung menyebutkan nama Brian disela tangisnya. Dirinya juga sama seperti Brian, tidak sanggup berpisah darinya. Ada rasa penyesalan terbersit di dalam benaknya setelah mengatakan itu pada Brian.


Tapi entah mengapa egonya lebih mendominasi dirinya sore itu.


Hujan yang semakin deras disertai petir berkilat membuat cahaya kilas di langit sana. Entak mengapa, cuaca juga seakan mengerti keadaaan hatinya saat ini.


Hampir setengah jam Aqira menangis di lantai keramik itu. Rasanya air matanya seakan enggan untuk berhenti mengalir.


Hingga sebuah ketukan dari pintu membuat tangisnya terhenti.


Orang di luar kamar tidak mendengar tangisannya bukan? Aqira baru mengingat, bahwa kamar ini kedap suara.


Aqira menghapus air matanya, kemudian mengusap wajahnya agar tidak terlalu sembab. Sia-sia saja, wajahnya masih saja sembab, apalagi matanya yang memerah, orang pasti tau dia habis menangis.


Aqira membuka pintu, "Mom?" sapanya, ternyata orang itu adalah Risa.


Aqira sedikit bingung, karena Risa sedang menangis.


"Ada apa Mom? Kenapa menangis?" cemas Aqira lalu mendekati Risa. Memeluknya erat.

__ADS_1


Risa semakin menguatkan tangisnya.


"Aqira..." panggilnya dengan tangisnya yang masih belum mereda.


"Iya Mom, apa yang terjadi. Kenapa menangis." Aqira mengusap punggungnya lembut.


"Brian...Brian...hu..hu.hu.."


Aqira tersentak, Brian? Ada apa dengan Brian? Apa terjadi sesuatu kepada Brian?


Pikiran Aqira semakin berkecamuk.


"Brian? Brian kenapa Mom?!" teriaknya.


Risa hanya menangis, tidak menjawab pertanyaan menantunya itu.


"Brian..Brian.. kecelakaan ..hu..hu..hu..." jawab Risa semakin menangis keras.


Aqira tertegun, Brian kecelakaan, pikirnya.


Bukankah dia baru saja bertemu pria itu, dan sekarang...Brian kecelakaan?


"Mom jangan bercanda.." semoga saja tidak benar, harapnya.


Risa menggeleng, "Brian kecelakaan Aqira, pihak kepolisiaan baru saja... menelpon bahwa mobil yang Brian kendarai menabrak mobil yang melintas di ..." tangis Risa semakin pecah kala menjelaskannya.


Aqira menggelengkan kepalanya, "Tidak..tidak mungkin...Brian baru saja dari sini, kenapa secepat itu...." tangis Aqira pecah begitu saja.

__ADS_1


"Dimana, dimana Brian sekarang Mom.." teriak Aqira.


"Brian dalam perjalanan ke rumah sakit...kata dokter.. lukanya cukup parah...." Risa menangis lagi.


Aqira berlari setelah mendengar ucapan Risa. Dengan langkah seribu Aqira keluar dari rumah, berlari secepat mungkin berharap cepat sampai di rumah sakit. Bahkan hujan yang semakin deras pun diterjangnya.


Sebuah mobil berhenti di hadapannya, menghadang langkahnya. Aqira ingin sekali mengumpat saat itu, tapi tidak jadi ketika melihat Joe di dalam sana.


"Silahkan masuk Nona."


ujar Joe.


Dengan cepat Aqira masuk ke dalam mobil. "Joe, bagaimana keadaan suamiku, dia tidak apa-apa kan?" tanya Aqira cemas. Bahkan dia tidak mempedulikan bajunya yang sudah basah kuyup.


Wajah Joe tiba-tiba menjadi sendu. "Kita doakan saja yang terbaik untuk Tuan, Nona."


Aqira mengerti makna ucapan Joe, berarti suaminya terluka parah bukan?


Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di rumah sakit. Aqira berlari di sepanjang koridor rumah sakit menuju tempat suaminya ditangani.


Sampai di sana, Aqira melihat seorang dokter dengan dua orang perawat di belakangnya baru keluar dari bangsal.


"Dok bagaimana keadaan suami saya.." tanya Aqira harap-harap cemas.


Tidak tau kenapa dokter itu malah menggelengkan kepalanya, dengan wajah sendunya seolah mengatakan....


Tidak mungkin...

__ADS_1


__ADS_2