
LIKE DULU SEBELUM BACA
"Maaf Nona, kemana saya harus mengantar Nona." tanya supir taksi setelah memastikan Aqira sudah berhenti menangis.
Aqira mengangkat pandangannya, melihat keluar melalui kaca jendela mobil. Aqira segera menyebutkan tujuannya kepada sang supir taksi.
Rupanya supir taksi tadi memilih berkeliling kota tanpa arah yang pasti, karena ragu bertanya pada Aqira.
Setelah sampai di tujuannya, Aqira segera turun dari taksi setelah membayar lebih untuk supir taksi.
Langkah kecilnya tertuju pada bangunan mewah yang menjadi tempat dirinya pertama kali bertemu dengan Brian.
Terlebih dahulu Aqira menghapus air matanya yang masih menggenang di pelupuk matanya, sebelum memasuki rumah mewah itu.
"Mommy." panggil Aqira kepada Risa yang sedang duduk santai di taman belakang.
"Sayang." sapa Risa.
Aqira berlari kecil menghampiri Risa, menghempaskan tubuh mungilnya di pelukan Risa.
"Mommy aku rindu." ucap Aqira dengan menyenderkan kepalanya di dada Risa.
"Ada apa ini. Cepat sekali rindunya, bukankah semalam baru bertemu." ujar Risa sembari mengelus kepala Aqira.
Risa bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan menantu kecilnya ini. Terlihat dari kedatangannya uang tiba-tiba serta mata wanita itu terlihat sembab tadi.
"Ceritakan pada Mommy, apa sebenarnya yang telah terjadi." tanya Risa lembut.
__ADS_1
Aqira tidak menjawab, kemudian melepas pelukannya menatap Risa dengan pandangan sendu.
Air matanya kembali menggenang di sudut matanya.
"Brian menyakitimu lagi?" tanya Risa lagi dan membuat air mata Aqira lolos begitu saja.
Aqira mengangguk, lalu menenggelamkan wajahnya lagi di pelukan Risa.
"Jadi benar Brian pelakunya?"
Aqira mengangguk.
"Dasar anak durhaka itu!!" gerutu Risa sembari mengusap punggung Aqira yang bergetar akibat tangisannya.
Risa membiarkan Aqira menangis dalam pelukannya, berharap perasaannya lebih baik setelah ini.
"Ceritakan pada Mommy, apa yang telah anak itu lakukan padamu." tanya Risa sambil mengusap air matanya.
Aqira sedikit ragu ingin mengatakannya, tapi dia tidak tau lagi harus berbuat apa selain menceritakannya pada Risa.
Karena hanya Risalah tempat yang tepat untuk dijadikan untuk meluapkan perasaannya selain Sindy.
Awalnya Aqira ingin menemui Sindy, tapi mengingat Sindy juga sedang menemui seseorang membuatnya mengurungkan niatnya itu.
"Brian... Brian selingkuh Mom..." cicit Aqira. Tangisnya seketika pecah ketika mengingat Brian bercumbu dengan Jessi di kantornya.
"Apa?!!" teriak Risa dengan suara meninggi.
__ADS_1
"Brian selingkuh?!" wanita paruh baya itu begitu terkejut.
"Iya Mom.." jawab Aqira dengan pelan disertai Isak tangisnya.
"Ceritakan pada Mom, kenapa kau bisa mengatakan kalau Brian selingkuh." nampaknya Risa masih belum percaya.
Tapi mengingat Aqira yang mengatakan, membuat Risa ingin memastikannya lebih dulu.
"Tadi aku pergi ke kantor Brian Mom..." dengan suara sesenggukan Aqira mulai bercerita.
"Aku mendapati Brian sedang...sedang bercumbu dengan...Jessi.." tangis Aqira kembali pecah saat itu juga.
Risa memeluk tubuh mungil Aqira lagi.
"Dasar anak tidak tau diri." rutuk Risa.
Rasanya ingin sekali Risa memukuli putra sulungnya itu karena telah menyakiti Aqira, menantu kesayangannya.
"Tenang ya sayang, Mommy akan memberikan pelajaran untuk anak tak tau diri itu." ucap Risa berusaha menenangkan Aqira.
Aqira tidak menjawab, masih setia dalam tangisannya.
"Sekarang ayo masuk ke dalam dulu. Istirahatlah sebentar, Mommy akan menyiapkan hukuman yang berat untuk suamimu yang tak tau diri itu." ucap Risa sambil memegang tangan Aqira memasuki rumah.
"Mom, kalau Brian datang, tolong jangan memberitahukan kalau aku ada di sini." pinta Aqira kepada Risa yang akan keluar dari kamar Aqira.
Risa mengangguk mengerti, "Iya sayang. Mommy tidak akan memberitahukan Brian. Istiratlah." ujar Risa kemudian meninggalkan Aqira.
__ADS_1