
LIKE DULU SEBELUM BACA
Aqira berlari sekencang mungkin, tidak menghiraukan hujan yang semakin deras disertai petir yang terus menggelegar di atas sana. Aqira tidak takut sekalipun, kini yang paling ditakutkannya adalah suaminya, yang sedang terluka parah entah dimana.
Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di hadapannya, membuatnya hampir saja menabrak mobil itu. Aqira ingin sekali mengumpat, tapi tidak jadi saat melihat Joe, sekretaris suaminya di dalam sana.
"Silahkan masuk Nona." ucap Joe.
Dengan cepat Aqira masuk ke dalam mobil, di samping kemudi.
Pakaian wanita itu basah kuyup, tapi Aqira tidak peduli sama sekali.
Brian lebih penting saat ini.
"Joe bagaimana keadaan suamiku, lukanya tidak parah bukan?" tanya Aqira kepada Joe penuh harap.
Wajah Joe tiba-tiba menjadi sendu, "Kita doakan saja yang terbaik untuk Tuan, Nona."
Kata-kata Joe begitu sederhana, tapi Aqira tau makna ucapan itu, bahwa sebenarnya Brian terluka parah. Joe hanya tidak ingin membuatnya cemas.
Aqira menundukkan kepalanya, penyesalannya semakin besar.
__ADS_1
Ini semua terjadi karena dirinya, jika saja dia tidak menyuruh Brian pergi, semua ini tidak akan terjadi. Brian pasti tidak akan mengalami kecelakaan.
Aqira merutuki dirinya, dia menyesal, sangat menyesal. Kalau saja waktu bisa diputar, Aqira akan memutarbalikkan semuanya.
Tapi terlambat sudah, nasi sudah menjadi bubur. Akibat egonya yang terlalu tinggi Brian harus mengalaminya.
"Bodoh, kau bodoh Aqira. Kau membuat suamimu dalam bahaya Aqiraa. Bodoh...bodoh!" teriaknya dalam hati.
Di perjalanan menuju rumah sakit, Aqira melihat orang-orang berkerumun di pinggir jalan. Dan lagi, mobil polisi dan ambulans juga berbaris di sana. Tapi hanya satu yang menjadi pusat perhatian Aqira, sebuah mobil yang hancur parah di bagian depannya.
Aqira merasa familiar dengan mobil itu.
Entah Joe memang sengaja, mobil melaju agak sedikit melambat saat melewati kerumunan itu.
"Benar Nona, mobil itu adalah mobil yang dikendarai oleh Tuan." jawab Joe lesu.
Aqira menggeleng, separah itukah kecelakaan yang menimpa suaminya?
Mobil itu rusak parah, bahkan hampir tak berbentuk.
"Joe... aku..aku tidak..." Aqira tidak sanggup lagi harus mengatakan apa.
__ADS_1
Baru setengah jam yang lalu Brian bertemu dengannya, secepat itukah...
Hanya dalam waktu setengah jam suaminya mengalami kecelakaan separah ini.
"Bersabarlah Nona. Doakan saja agar Tuan selamat." hanya itulah yang bisa Joe katakan untuk menenangkan Nona mudanya itu.
"Cepat Joe... Suamiku membutuhkanku Joe..."
Joe mengangguk, dia menaikkan kecepatan mobil, tapi masih mengutamakan keselamatan.
Dalam sepuluh menit mereka sudah sampai di rumah sakit. Dengan langkah cepat Aqira berlari di sepanjang koridor rumah sakit, setelah mendapat informasi ruangan perawatan suaminya.
Setelah sampai di sana, Aqira melihat dokter keluar dari ruangan VVIP yang merupakan kamar Brian, diikuti dua orang perawat di belakangnya.
"Dok bagaimana keadaan suami say, dia tidak apa-apa kan?" tanyanya begitu sampai di hadapan dokter.
Dokter itu menggelengkan kepalanya, menatap Aqira dengan wajah sendu, "Anda harus bersabar Nona. Keadaan Tuan Brian sangat parah. Terdapat benturan di kepala pasien, dan beberapa luka serius di bagian tubuh lainnya. Saat ini keadaan Tuan Brian masih kritis.
Kami harus melakukan operasi secepatnya, agar kerusakan sistem saraf tubuh Tuan Brian akibat hantaman benda keras, tidak berlanjut." jelas dokter laki-laki itu.
Bagai mendapat hantaman berat, Aqira menutup mulutnya, dia tidak percaya apa yang baru saja didengarnya.
__ADS_1
Brian kritis?
LOVE YOU ALL