JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Tendangan Maut


__ADS_3

Happy Reading


Like dulu sebelum baca


"Sudah bangun?" sapa Brian saat melihat mata Aqira mulai mengerjap.


Aqira tersenyum, wajah tampan pria itu menyambutnya dari tidur lelapnya.


"Hmm.." gumam Aqira, gadis itu masih belum sadar dengan keadaan mereka yang masih polos tertutup selimut.


Tangan Aqira bergerak ingin menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka, tapi Brian dengan cepat menahan tangan Aqira.


"Apa?" tanya Aqira polos.


"Kau berniat menggodaku?"


"Apa maksudmu?" Brian mengarahkan matanya ke arah dada Aqira yang telanjang, Aqira juga mengikuti pandangan Brian. Seketika gadis itu terkesiap, "Aaa... apa yang kau lakukan padaku?" teriak Aqira.


Brian tersenyum puas melihat kepanikan Aqira, bagaimana mungkin gadis ini melupakan peristiwa tadi pagi.


"Kenapa berteriak...?"


"Tentu saja aku berteriak, kenapa aku tidak memakai pakaianku?" tiba-tiba Aqira sadar "Kau juga kenapa kau telanjang, apa yang terjadi? Kau apakan aku?" Aqira berteriak histeris mengisi kesunyian kamar ini.


Brian tergelak melihat reaksi Aqira yang berlebihan menurutnya, "Apa kau lupa gadis kecil, eh bukan, maksudku wanita kecil? Tadi pagi kau menggodaku dan sekarang kau malah menyalahkanku, secepat itukah kau melupakan peristiwa bersejarah kita ini?" Brian terkekeh menatap Aqira yang kebingungan, yang mencoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya.


Hingga akhirnya Aqira mengingat semuanya, dari awal mereka bangun tadi pagi dan kegiatan panas mereka. Wajah Aqira kini terasa panas, rasa malu menggerogoti jiwa gadis itu.


"Sudah ingat, atau perlu kuingatkan lagi?" Brian tersenyum menyeringai melihat wajah merona Aqira.


"Tidak usah!" sergah Aqira menepis tangan Brian yang akan menarik selimut yang menutupi tubuhnya.


"Sudah ingat ya, bagaimana rasanya pasti nikmat bukan. Ingin merasakannya lagi?" goda Brian. Ini adalah kegiatan menyenangkan bagi Brian, menggoda gadis pemalu ini sungguh membuat hatinya senang.

__ADS_1


"Hentikan!! Dasar tidak tau malu." Aqira setengah berteriak, kemudian menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


"Tidak tau malu? Tadi pagi kau yang lebih dulu menggodaku, siapa yang tidak tau malu di sini?" Brian meraba tubuh Aqira yang terbungkus selimut, membuat gadis itu panas dingin di dalamnya.


"Hentikan Brian!" Aqira menggeliatkan tubuhnya.


"C'mon baby. Jangan malu-malu begitu, kita sudah melakukannya. Kau tidak ingat kegiatan panas kita, bahkan kau lebih agresif dariku, sampai membuatku kewalahan melayani dirimu." Brian tertawa dalam hati telah berhasilkan fakta yang sebenarnya.


Seketika Aqira membuka selimutnya, menahan di dadanya. Kemudian menatap pria itu galak, "Kau memang tidak tau malu, bukankah itu sebaliknya?!" Aqira mengambil bantal dengan satu tangan, memukuli tubuh Brian bertubi-tubi.


Brian menangkap tangan mungil Aqira, menguncinya agar tidak bisa bergerak.


"Itu faktanya sayang, aku masih ingat saat suara manjamu memanggil-manggil namaku untuk meminta lebih."


"Aaa.. Brian tutup mulut vulgarmu itu, tidakkah kau malu mengatakan itu? Telingaku panas mendengarnya." teriak Aqira.


Kaki gadis itu menendang tubuh Brian agar menyingkir dari tempat tidur, "Pergi sana, pergi pria tidak tau malu!" akhirnya Brian tersingkir dari tempat tidur, dan sempat mengaduh akibat tendangan kaki Aqira yang kuat, hingga terjerembab di lantai. Pria itu heran, kenapa tendangan gadis kecil ini begitu kuat.


Brian berdiri sambil mengusap bokongnya yang polos tak tertutup sehelai benang pun.


Brian menyeringai, "Kenapa kau begitu shock, tadi kau sudah merasakannya, jangan takut, coba saja memegangnya, dia tidak akan memakanmu." Brian kembali menindih Aqira.


"Kalau kau mengatakan satu kata lagi, kupastikan milikmu itu akan kehilangan nyawanya." ancaman Aqira membuat Brian meringis, saat membayangkan juniornya merasakan tendangan maut dari gadis ini.


Lebih baik sekarang melarikan diri saja, daripada juniornya tewas mengenaskan di tangan Aqira.


"Jangan membunuhnya sayang, atau kau tidak akan bisa merasakannya lagi." teriak Brian dari pintu kamar mandi, dengan badannya yang sudah setengah di kamar mandi dan kepalanya menjulang keluar.


Dengan Brian menutup pintu, saat melihat sebuah bantal sudah melayang ke arahnya.


"Astaga wanitaku sangat berbahaya." Brian terkekeh sambil menyalakan shower.


Setelah keluar dari kamar mandi, Brian melihat Aqira yang duduk menyender di atas tempat tidur, masih dengan selimut membalut sampai dada wanita itu.

__ADS_1


"Sayangku tidak ingin mandi?" tanya Brian lembut, tanpa ada maksud terselubung. Sepertinya sifat mesumnya sudah terbuang saat pria itu mandi.


"Mmm... aku..aku." Aqira terlihat malu mengatakannya.


"Iya kenapa sayang?" Brian menghampiri Aqira.


"A..aku kesulitan berjalan." akhirnya Aqira mengatakannya. Sudah sejak Brian masuk ke kamar mandi, dia mencoba untuk berdiri, tapi itu masih sangat sakit.


"Masih sakit ya? Kemari biarkan aku membantumu." Brian meletakkan tangannya di punggung dan bawah kaki Aqira, lalu meraupnya dalam pelukannya, membawa gadis itu ke kamar mandi.


"Aku heran, kenapa saat kau menendangku begitu kuat kau tidak kesakitan sama sekali. Sedangkan sekarang hanya berjalan saja kau sudah kesakitan. Kau ingin mencari kesempatan ya?" ucap Brian dengan nada bercanda, sambil meletakkan Aqira di dalam bath up.


"Aduh." Aqira mencubit lengannya.


"Kau pikir untuk apa aku mencuri kesempatan darimu, aku memang benar-benar kesulitan berjalan. Lagi pula aku menendangmu adalah sebagai bentuk pertahananku jika merasa terancam." Aqira menatap Brian galak.


"Sudah alasan saja kau ini." Brian menyalakan shower dengan suhu yang sangat dingin.


Aqira menjerit kedinginan, "Brian dingin sekali..." gadis itu berusaha menjangkau Brian yang berdiri menertawakannya.


"Ini hukumannya karena telah menendang suami sendiri." Brian tertawa terbahak-bahak melihat Aqira yang gelagapan di bawah dinginnya air shower.


"Brian ini dingin sekali, dimana pengatur suhunya." tangan mungilnya meraba-raba dinding di dekatnya.


"Baiklah, baiklah. Aku akan menolongmu. Aku pria yang baik bukan?" Brian mendekati tombol shower lalu mengatur suhu dan kecepatan aliran air.


Aqira menatap tajam pada Brian, lalu memercikkan air di wajah pria itu, "Dasar jahat." mengerucutkan bibirnya.


"Sudah diamlah, aku akan memandikanmu. Kemari." Brian meraih tubuh Aqira, lalu membuka selimut yang menggulung tubuh Aqira. Tubuh gadis itu terpampang jelas di hadapan Brian, Brian meneguk ludahnya kasar, sepertinya gairahnya bangkit lagi.


"Brian, kau tidak sopan!" Aqira berusaha menutupi tubuhnya.


"Diam, kalau kau masih teriak-teriak lagi, kupastikan kita akan berada di dalam sini sampai besok pagi." ancam Brian.

__ADS_1


Akhirnya Aqira diam, membiarkan Brian memandikannya. Dari pada dia di dalam sini sampai pagi, lebih baik menurut saja.


Dan benar saja, pria itu memandikannya dengan telaten, terkadang tangan pria itu tidak terkontrol, merabai tubuh gadis itu dengan sengaja. Sepertinya sifat mesumnya kembali lagi.


__ADS_2