JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Obsesi Jessi


__ADS_3

LIKE DULU SEBELUM BACA...


Aqira sungguh tidak menyangka apa yang dilihatnya baru saja. Benarkah laki-laki yang yang sedang bercumbu tadi adalah suaminya? Aqira ingin sekali menyangkal, tapi mau bagaimana lagi, itu memang benar adanya.


Kenapa Brian sejahat itu padanya, Aqira tidak menyangka Brian akan berpaling darinya hanya karena ketidakjujurannya.


"Brian, kau sungguh jahat!!" jerit hati wanita itu, sambil meremas dadanya yang berdenyut sakit.


Aqira menumpahkan air mata kekecewaannya di dalam mobil itu.


Sedangkan sang sopir yang mengemudikan mobil, dibuat bingung olehnya. Pasalnya Aqira belum menyebutkan tujuan mereka, dan sopir itu juga tidak berani bertanya kepada Aqira yang masih setia dalam tangisannya.


Di kantor Brian, Brian begitu cemas karena Aqira tidak mau mendengar penjelasannya. Dengan wajah lesunya Brian kembali ke ruangannya setelah mendapat info dari Pak Mata, supir pribadi Aqira, bahwa istrinya telah pergi naik taksi.


Di ruangannya Brian mendapati Jessi, wanita licik itu sedang duduk dengan santainya di sofa ruangan itu.


Dengan emosi yang membara Brian menghampiri Jessi, menarik lengannya kasar kemudian menyeret wanita itu keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"Dasar perempuan jal*ng!!" bentak Brian dengan wajah merahnya menahan amarah.


"Brian kenapa kau sekasar ini?" ujar Jessi dengan wajah menjijikkan.


Hal itu justru membuat amarah Brian semakin tidak terkendali. Dihempaskannya tubuh Jessi hingga terjungkal di lantai.


"Kau tanya kenapa? Karena perempuan jal*ang sepertimu Aqira menjadi salah paham padaku." teriak Brian.


Ingin sekali rasanya Brian menampar mulut kotor wanita licik itu.


Brian berdecih, "Sekalipun wanita di dunia ini habis, sampai matipun aku tidak akan pernah memilihmu." ucap Brian dengan suara tajamnya. Emosi pria itu masih membara sampai detik ini.


Jessi segera terbangun dari duduknya, membenahi pakaiannya yang berantakan akibat hempasan dari Brian.


"Jangan munafik Brian. Aku tau sebenarnya kau masih mencintaiku, dan istri kecilmu itu hanya kau jadikan pelarian." ucap wanita itu dengan penuh percaya diri.


"Tidak usah sok tahu tentang perasaanku. Di hari kau memutuskan untuk meninggalkanku demi pria lain, di hari itu pula aku sudah mengubur semua rasa cintaku. Kau ingat itu dengan jelas, kau sudah terhapus dari memori kehidupanku." ujar Brian dengan telak membuat wanita licik itu kesal.

__ADS_1


Setelah mengucapkan hal itu Brian berbalik masuk ke dalam ruangannya.


"Brian jika aku tidak bisa memilikimu maka wanita lain pun tidak!!" teriak Jessi membuat langkah Brian terhenti.


Brian membalikkan tubuhnya lagi, mendekati Jessi lalu mencengkeram rahang wanita itu dengan kuat.


"Awas saja jika kau berani menyentuh istriku, akan kupastikan hidupmu tidak akan lama lagi." ucap Brian penuh penekanan.


Tentunya ancaman itu membuat Jessi ketakutan, karena dia sendiri tahu bagaimana sifat Brian. Pria itu bisa menghancurkan lawannya tanpa ampun sedikitpun.


Tapi sepertinya rasa ingin memiliki lebih besar dari pada rasa takutnya kepada Brian. Jessi sudah bertekad akan menyingkirkan semua perempuan yang ada di sekitar Brian.


Tangan kekar Brian menghempaskan rahang Jessi dengan kasar.


"Kau pikir aku takut Brian?" Jessi tersenyum menyeringai. "Akan kupastikan kau sendiri yang akan memohon kembali padaku." ucap wanita licik itu.


"Bermimpilah selama Tuhan masih mengizinkan." ucap Brian sebelum benar-benar masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2