
"Aqira semua belum terlambat, kau kan bisa membuka alat kontrasepsi itu dan bisa hamil secepatnya. Aku yakin Brian tidak akan tau jika kau pernah menunda kehamilanmu." ujar Sindy.
Aqira hanya melihat Sindy, mencerna ucapan teman baiknya itu. "Kita ke rumah sakit hati ini ya?" ajak Sindy.
Aqira mengangguk, dia berharap setelah melepas alat kontrasepsi ini, dirinya bisa secepatnya hamil dan mewujudkan harapan suaminya dan juga kedua mertuanya.
Keduanya keluar dari toilet, di meja Hans masih duduk di sana, nampaknya pria itu memang menunggu Aqira, padahal mereka sudah cukup lama di toilet.
Sindy hanya tersenyum kecut, melihat sikap Hans kepada Aqira. Sindy memang belum pernah pacaran sebelumnya, tapi dia bukanlah gadis bodoh yang tidak tau menerjemahkan tatapan Hans kepada Aqira.
__ADS_1
Dia tau Hans memang benar-benar menyukai Aqira. Tapi kenapa hatinya sedikit mencelos melihat itu, padahal dia baru saja bertemu dengan Hans, dan Sindy merasa sesak saat Hans dari tadi mengabaikannya.
Tidak dapat dipungkiri, Sindy memang terpesona pada Hans sejak pertama kali bertemu di depan kafe ini. Sindy terkekeh dalam hati, tidak mungkinkan dia menyukai Hans pada pandangan pertama? Lucu sekali, pikirnya.
Aqira pamit kepada Hans, tapi akhirnya keluar dari kafe setelah Hans menawarkan tumpangan, tapi ditolak oleh Aqira. Selain karena tidak ingin membuat Brian murka, tujuan mereka kali ini adalah rumah sakit. Lagi pula ada sopir yang selalu ada mengantarnya kemana-mana.
Tak butuh waktu lama, mobil mereka sudah sampai di halaman rumah sakit. Sebelumnya Aqira sudah membuat janji dengan dokter yang menanganinya, jadi mereka tidak perlu mengantri. Proses pelepasan alat itu akhirnya selesai, kini mereka sedang berkonsultasi dengan dokter kandungan, agar Aqira cepat hamil.
Dokter wanita itu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Aqira. "Begini, Sebelumnya saya sudah menjelaskan kepada Nona sebelum anda memutuskan menggunakan kontrasepsi. Usia Nona yang masih muda menggunakan kontrasepsi tentu saja akan beresiko, dan untuk bisa hamil secepatnya dalam dunia medis, hal itu sedikit sulit. Karena rahim Nona masih butuh waktu untuk menetralkan atau menstabilkan hormon progesteron atau yang sering kita dengar, hormon kehamilan." tutur dokter itu dengan sangat jelas.
__ADS_1
Yang tentu saja membuat Aqira menundukkan kepalanya, kalau tidak ada dokter Aqira ingin menangis saat itu juga. Sindy yang sedari tadi mendengar penuturan dokter, memegang tangan Aqira, berusaha menenangkan teman baiknya.
"Dok, apakah tidak ada cara lain, agar teman saya bisa hamil dalam waktu dekat?" tanya Sindy, karena dia tau Aqira sudah sangat sedih.
"Jika Nona memang ingin hamil sesegera mungkin, Nona bisa melakukan kontrol rutin yang bertujuan menyuburkan kandungan setelah melepas alat kontrasepsi. Karena sejauh dari yang saya periksa, rahim nona sangat sehat, hanya saja sedikit terganggu karena penggunaan alat kontrasepsi terlalu dini. Jika Nona mau, saya akan segera membuat jadwal rutin untuk kontrol."tutur dokter wanita itu.
Aqira mengangkat pandangannya, menatap dokter itu penuh. antusias, Aqira mengangguk dengan cepat "Ya saya mau dokter."
"Baiklah kalau begitu, saya akan mengabari untuk jadwal pertemuan kita selanjutnya. Ini," menyodorkan kertas bertuliskan resep obat yang harus dikonsumsinya untuk melancarkan proses peluruhan Kontrasepsi itu. "Silahkan di tebus obatnya, agar prosesnya cepat." ujar dokter.
__ADS_1
Pertemuan itu berakhir setelah kata terimakasih terucap dari bibir kedua wanita itu.