JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Rahasia


__ADS_3

LIKE DULU SEBELUM BACA


Malam sudah semakin larut, tapi Aqira sangat enggan untuk meninggalkan ruang rawat suaminya.


Kedua mertuanya beserta Sasha, telah istirahat di salah satu ruangan di sebelah kamar ini, yang disiapkan oleh pihak Rumah Sakit, kebetulan rumah sakit ini adalah milik keluarga Charles, sehingga mereka dapat memudahkan mendapat fasilitas lebih.


Aqira masih setia duduk di sisi brankar, tempat Brian terbaring lemah. Tangan mungilnya dengan lembut menggenggam tangan suaminya yang ditempel selang infus.


Sedangkan hidungnya masih terpasang ventilator, yang digunakan untuk membantu pernafasan pria itu.


"Sayang..." panggil Aqira, berharap lelaki ini akan menyahutnya.


"Bangunlah sayang..."


"Kumohon bangunlah..." air mata wanita itu seperti tidak ada habisnya mengaliri wajahnya.


"Jika kau bangun, aku janji akan menarik kata-kataku tentang perceraian kita. Aku janji akan selalu ada di sisimu...."


"Bangun sayang... kumohon buka matamu... Kau tidak kasihan padaku? Kalau kau pergi aku..." Aqira tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


Rasanya sungguh berat jika membayangkan Brian akan meninggalkannya untuk selamanya.

__ADS_1


Apalagi jika sampai benar-benar terjadi, dirinya pasti akan tersiksa, tanpa Brian di hidupnya.


Karena tidak ada respon sama sekali dari Brian, Aqira memutuskan untuk tidur. Jiwa dan raganya juga lelah satu hari ini, begitu banyak kejadian yang begitu menguras tenaga dan pikirannya.


Aqira menaiki tempat tidur Brian dengan hati-hati, menelusupkan tubuh mungilnya di sisi tempat tidur yang masih kosong.


Tubuhnya yang memang mungil, tidak membuat ranjang itu menjadi sempit.


Setelah mencari posisi yang pas, tangan mungilnya memeluk perut Brian.


Terlebih dahulu dia mengecup kening Brian, kemudian membisikkan ucapan selamat tidur, sebelum benar-benar jatuh dalam alam bawah sadarnya.


Tanpa sepengetahuan Aqira, sebulir air mata menetes mengalir dari sudut mata pria, yang kini sedang terbaring lemah itu.


Ingin sekali rasanya Brian memeluknya, tapi sangat sulit baginya. Untuk membuka mata saja dan menggerakkan tubuhnya pun tidak bisa.


Tubuhnya terasa kaku dan sulit digerakkan.


Esok harinya, Aqira yang sudah terbangun sedari tadi, kini kembali menangisi pria yang sangat dicintainya itu. Saat ini, tidak ada lagi hal yang bisa wanita itu lakukan selain menangis.


Ada seberkas penyesalan yang begitu besar dalam hati wanita itu. Rasanya dia ingin meledak menahan semua rasa bersalah ini.

__ADS_1


"Nak." panggil Darman yang saat itu baru masuk ke ruangan, dengan sebuah kotak makanan di tangannya.


Aqira menoleh, "Ya Dad?" tanya Aqira dengan suara parau.


"Sarapanlah Nak, dari kemarin malam kau belum makan sama sekali. Apa kau tidak lapar?" ucap pria itu.


"Entahlah Dad, rasanya aku tidak selera makan apapun. Bagaimana keadaan Mommy Dad?" cemasnya.


Karena Risa kemarin sempat tidak sadarkan diri akibat terlalu shock.


"Mommymu tidak apa-apa, dia hanya sedikit lelah." jelasnya.


"Nak, kau harus makan juga. Tidak baik untuk kesehatanmu. Bagaimana jika kau sampai sakit nanti, siapa yang akan menjaga Brian nanti?" ucap Darman.


Mendengar itu membuat Aqira mengangguk mengerti, benar juga, siapa yang akan menjaga Brian jika dirinya sakit.


"Baiklah Dad, terima kasih."


Setelah Darman keluar, Aqira langsung memakan sarapannya.


Setelah itu kembali duduk di sisi Brian.

__ADS_1


"Sayang...sebelum kau bangun aku ingin memberitahumu sebuah rahasia. Sudah lama aku ingin memberitahumu, tapi aku takut, kau akan marah dan kecewa. Dan pada akhirnya akan meninggalkanku." ucap Aqira sambil mengusap punggung tangan pria itu.


LOVE YOU ALL


__ADS_2