JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Belajar Mencintaimu


__ADS_3

Happy Reading


Like dulu sebelum baca


"Jangan pergi.."


"Iya, aku tidak pergi. Aku hanya ke dapur sebentar."


"Jangan pergi dari hidupku." Aqira terdiam begitu mendengar ucapan Brian.


Brian tidak ingin dia pergi dari sisinya? Apakah pria ini telah membuka hatinya?


Aqira tersenyum tipis, membayangkan Brian telah membuka hati untuknya. Ya Tuhan, semoga saja ini bukan mimpi.


"A..pa maksudmu?" tanya Aqira terbata-bata.


"Jangan pergi, tetaplah di sisiku..."


"Brian...?" Aqira masih bingung dengan ucapan Brian.


Brian bangkit dari duduknya menghampiri Aqira yang berdiri mematung menatap dirinya. Kemudian maraih tangan Aqira dan menuntun untuk duduk di pinggir tempat tidur. Aqira mengikuti Brian tanpa penolakan sama sekali.


"Aqira.." Brian menggenggam tangan mungil Aqira dengan lembut.


"Apa pun yang terjadi di masa depan, kumohon jangan tinggalkan aku, tetaplah di sisiku." pinta Brian, menatap sendu manik coklat gadis kecilnya itu.


Aqira mencerna perkataan Brian baru saja. Kenapa pria ini memintanya untuk bertahan, apakah dia memang benar-benar sudah membuka hati untuknya?


"Brian..." lirih Aqira.


"Brian katakan padaku, katakan atas dasar apa aku harus tetap bertahan untukmu, berikan aku alasan yang tepat agar aku tidak pergi." Aqira meremas tangannya yang sedang digenggam oleh Brian.


Brian terdiam setelah mendengar ucapan Aqira yang menohok hatinya langsung. Benar, atas dasar apa dia mempertahankan Aqira, apakah dia mencintai gadis ini, Brian tidak tau. Setelah memikirkan itu semua beberapa hari ini, Brian tetap tidak menemukan jawabannya.


"Brian..?" Aqira memanggil Brian, karena pria itu hanya diam seraya menundukkan kepalanya.


Brian mengangkat pandangannnya, "Kau benar, aku tidak punya alasan yang tepat untuk menahanmu di sisiku." Brian memejamkan matanya.


"Tapi biarkan aku untuk belajar mencintaimu."


Aqira terperangah seketika, matanya menatap Brian penuh menyelidik, berusaha mencari kebohongan di sana. Tapi nihil, Brian mengatakannya dengan bersungguh-sungguh.


"Jujur saja, aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu, bahkan bayang-bayangmu selalu terlintas dalam pikiranku setiap aku jauh darimu dan aku juga tidak ingin kau jauh dari sisiku, ingin selalu dekat denganmu. Aku merasa nyaman jika berada di dekatmu Aqira." Brian menghela napas pelan.


"Tapi aku tidak tau, apakah ini cinta atau hanya rasa yang sudah terbiasa akan kehadiranmu. Aku sungguh merutuki kebodohanku yang sulit mengenal cinta, karena masih terjerat dengan masa laluku.


Maka untuk itu, berikan aku waktu, waktu untuk menemukan jawabannya." jari tangan Brian bergerak memegang wajah mungil gadis itu, mengusap air mata yang menetes membasahi pipi gadis itu.


Gadis itu begitu terharu mendengar kejujuran dari Brian, tersenyum bahagia menatap mata elang milik suaminya.


"Maukah kau menungguku?"

__ADS_1


Aqira mengangguk kecil sebagai tanda menuruti permintaan Brian, "Iya, aku akan menunggumu."


"Terima kasih, sayang." Brian meraih tubuh Aqira ke dalam pelukannya, mendekap tubuh mungil itu dengan erat.


Aqira dengan senang hati membalas pelukan dari suaminya, pelukan ini begitu hangat, nyaman dan menenangkan.


Air mata bahagia masih merembes dari mata gadis itu hingga membasahi baju yang dikenakan Brian saat itu.


"Terima kasih, telah bersedia menungguku. Aku janji secepatnya akan menemukan jawabannya."


Aqira mengangguk dalam pelukan Brian, "Iya, aku akan menunggumu."


Semakin merengkuh pinggang Brian dengan erat, meluapkan segala kerinduannya terhadap pria ini, yang ditahannya selama ini.


Pelukan itu berlangsung lama, hingga membuat Aqira tertidur lelap dalam dekapan hangat Brian.


Brian mengelus lekuk punggung Aqira, "Sepertinya kau sangat senang dalam pelukanku." Brian terkekeh karena Aqira tak kunjung melepas pelukannya.


Aqira tidak menyahut, dia sudah jatuh ke dalam mimpi indahnya.


Sama seperti Brian, selama beberapa hari ini Aqira juga tidak bisa tidur sama sekali. Makanya dia dengan begitu mudahnya terlelap dalam dekapan Brian.


"Aqira...? Sayang..." Brian mengangkat wajah Aqira hingga dapat melihat mata Aqira yang tertutup rapat.


"Dia tertidur?"


"Gadis ini memang benar-benar ajaib sekaligus langka. Bisa-bisanya kau tertidur di tengah pembicaraan serius kita." Brian terkekeh lalu mencapit ujung hidung Aqira menggunakan siku jari tengan dan jari telunjuknya.


"Selamat tidur, gadis kecilku." Brian mengusap pipi Aqira pelan dan beranjak berdiri dari tempat tidur.


Brian berjalan menuju kamar mandi di kamar itu. Dia ingin mandi sekarang, tubuhnya sangat lengket akibat berkeringat banyak bercampur dengan bau alkohol, membuat bau tubuhnya terasa menyengat.


Entah kenapa Aqira bisa tahan mencium aroma tubuhnya yang menyengat ini dan berlama-lama dalam pelukannya, bahkan gadis itu tertidur dengan pulas.


•••


"Sudah bangun?" tanya Brian begitu keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk melilit pinggangnya, dan melihat Aqira yang baru bangun dan masih terlihat linglung berusaha mengumpulkan kesadarannya.


Brian terpana melihat Aqira, ayolah, gadis ini sangat menggemaskan ketika bangun tidur, persis seperti anak kecil yang mengusap kedua matanya. Brian geram ingin mencium bibir tipis gadis itu.


"Eh.. maaf, aku ketiduran.." cicit Aqira.


Brian mendekati Aqira, lalu duduk di sebelahnya, tangannya bergerak mengusap puncak kepala gadis itu, "Tidak apa-apa. Tidurlah lagi, sepertinya kau sangat kelelahan. Kau pasti tidak tidur selama beberapa hari ini, iya kan?" Brian berucap dengan lembut.


"Mmm." Aqira menganggukkan kepalanya lalu sesaat kemudian menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mengantuk lagi. Aku sudah merasa segar setelah tidur sebentar."


Brian terkekeh geli melihat Aqira yang mengangguk dan menggelengkan kepalanya di saat yang bersamaan, "Baiklah kalau begitu tunggu sebentar, aku akan ke kamar kita dulu."


"Untuk apa?" tanya Aqira polos


"Tentu saja untuk berpakaian. Kenapa? Apakah kau masih ingin menikmati tubuh indahku ini?" goda Brian.

__ADS_1


Saat itu juga Aqira sadar, ternyata Brian tengah bertelanjang dan hanya mengenakan sehelai handuk saja menutupi tubuh bagian bawahnya.


Wajahnya memerah malu, "Pergilah.." usir Aqira lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Brian terkekeh melihat sikap malu-malu Aqira, "Jangan malu-malu, sayang. Kau akan terbiasa dengan ini." bisik Brian lirih di telinga Aqira.


Brian mengecup puncak kepala Aqira sebelum keluar dari kamar itu. "Aku keluar dulu sebentar." tidak lupa mengusap surai hitam gadis itu, sebelum benar-benar pergi dari kamar itu.


Aqira membuka kedua telapak tangan yang menutupi wajah merahnya, setelah terdengar bunyi pintu yang tetutup oleh Brian.


Tangan mungilnya bergerak menyentuh dadanya yang berdebar sedari tadi, "Huh.. pria itu selalu membuat jantungku berdebar." menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Brian.


.


.


.


.


.


.


Votenya yang banyak ya readers kesayanganku semua😀😀.


Udah pada mampir belum ke novel keduaku


"KETIKA SANG PANGERAN BALAS DENDAM"


dijamin seru loh.


Maaf bgt ya Buat para readersku yang minta up banyak-banyak😮, aku sih pengennya juga gitu, pengen nulis banyak.


Tapi sayang, aku ga bisa, waktuku tidak cukup cuma untuk nulis aja.


Aku ini seorang mahasiwa, kalian juga tau kan gimana sibuknya seorang mahasiswa. Tugas2 bisa sampai menumpuk dan harus cepet2 dikumpul😥. Jadinya aku nulis pas udah mau tengah malam deh.


Sekali lagi maaf ya readers kesayanganku semua. I Love you all😘😗


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2