JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Kenapa begitu menggoda


__ADS_3

Like dulu sebelum baca


Mendengar ucapan Arian barusan membuat Brian terkekeh.


"Menyesal? Yang benar saja, malah aku senang dia pergi."


Brian tidak bisa fokus bekerja, memikirkan semua ini membuatnya frustasi.


Tangannya menekan tombol intercom untuk memanggil Joe.


Beberapa detik kemudian Joe sudah datang.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"


"Aku ingin keluar, mungkin tidak kembali lagi, urus semuanya selama aku tidak di kantor." perintahnya.


Tanpa banyak tanya, Joe mengiyakan perintah tuannya.


Brian keluar dari kantor, pikirannya selalu terganggu oleh istri kecilnya. Dia butuh menenangkan diri.


Brian melajukan mobilnya menuju hotel terdekat, yang pastinya sudah ditunggu wanita bayarannya di sana.


Beginilah cara Brian menenangkan diri, melampiaskan kekesalan dan kegelisahannya dengan s**s.


Di rumah, Aqira sedang mengobrol dengan Bi Lusi. Di sela obrolan mereka, ponsel Aqira berdering.


"Nomor siapa ini?" tanya Aqira karena melihat tidak ada nama menandakan bahwa itu adalah nomor baru.


"Angkat saja Nona, mungkin penting."


Aqira menganggukkan kepalanya lalu mengangkat telpon tersebut.


"Halo.."


"Halo Aqira..."


"Kak Hans?" ucapnya yang langsung mengenali suara itu.


"Iya ini aku..."


"Dari mana kakak tahu nomorku?"


"Kau tidak ingat pertama kali kita bertemu?


Kau sendiri yang memberikannya."


Aqira mencoba mengingat "Ahh.. iya iya aku ingat, maaf aku lupa hehe." ucapnya terkekeh.


"Kau ini masih kecil sudah lupa."


"Kak Hans aku tidak lupa, aku hanya tidak ingat saja." sungut Aqira.


"Apa bedanya, sama saja hahaha"


"Hmm.. terserah kakak saja"


"Ada apa kakak menelponku?"


"Apa aku tidak bisa menelponmu?"


" Baiklah kumatikan saja."


"Tidak tidak, jangan dimatikan. Bukan begitu maksudku, kakak ini sensitif sekali."


"Hahaha...aku menghubunginmu ingin menagih hutangmu menagih hutangmu."


"Hutang? Kapan aku meminjam uang kakak?"


"Kau ini memang benar benar pelupa ya?


ck ck ck kecil kecil sudah pikun."


"Aku tidak pikun!"


"Iya iya aku ingat, aku hanya bercanda, mana mungkin aku melupakan kebaikan kakak."


"Baguslah kalau ingat.


Aku senggang siang ini, jadi aku ingin kau mentraktirku siang ini."


"Siang ini?"


"Bisakah?"


"Tentu saja bisa."


"Baiklah aku akan menjemputmu."


"Tidak usah kak, aku datang sendiri saja."


"Memangnya kau tau kota ini, yakin tidak akan tersesat?"


"Tentu saja aku tau kak. Jadi kakak tidak perlu menjemputku."


"Tapi aku sudah di depan rumahmu."


"Hah..?" Aqira langsung menoleh ke jendela kaca yang mengarah ke halaman rumah.


Hans melambaikan tangannya yang sedang duduk di belakang kemudi mobil.


"Kakak sejak kapan di sana."


"Belum lama, bersiaplah aku menunggumu."


"Baiklah, aku akan cepat." ucapnya langsung mematikan panggilan.


"Bi Lusi, aku pergi keluar sebentar ya?"

__ADS_1


"Memangnya Nona mau kemana?"


"Aku punya janji makan siang dengan temanku, dia sudah menunggu di depan"


"Baiklah Nona, bersiap siaplah nanti teman nona menunggu lama."


"Iya Bi aku siap siap dulu." ucap Aqira lalu menaiki tangga menuju kamar dengan terburu buru.


.


Aqira masuk ke mobil Hans yang parkir di depan rumahnya.


"Maaf aku lama."


"Tidak apa apa, baru dua tahun hahaaha"


"Kak Hans..." sungut Aqira.


"Baiklah baik, jangan cemberut nanti jeleknya hilang."


"Kak Hans..." meninggikan suaranya.


"Maaf aku hanya bercanda." ucapnya terkekeh


"Ayo kita berangkat." melajukan mobilnya.


"Hmmm.."


"Masih marah ya?"


"Tidak!"


"Jangan marah gadis manis." rayu Hans sambil mencubit pipi chubby Aqira.


"Iya aku tidak marah."


"Baiklah dimana kau akan mentraktirku?"


"Rahasia." tersenyum lebar


"Kakak dengar saja intruksiku."


"Baiklah, terserah gadis kecil saja."


.


"Ini tempatnya?"


"Iya Kak, dulu setiap akhir tahun ayah dan ibu selalu membawaku ke sini." ucapnya dengan matanya yang sudah berkaca kaca.


"Jangan bersedih, ayah dan ibumu sudah tenang di sana." sambil mengusap air mata Aqira.


"Sekarang kau tidak sendiri."


Aqira menatap Brian bingung.


"Kak Hans huhu..huhu.." langsung memeluk Hans.


Hans tertegun saat Aqira memeluknya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Sejak orangtuaku tiada, aku selalu sendirian, aku tidak memiliki siapa siapa lagi." menangis tersedu sedu di pelukan Hans.


Hans membalas pelukan Aqira, dia juga ikut merasakan kesedihan Aqira yang tidak memiliki seorang pun di dunia ini.


"Jangan menangis lagi." mengelus surai hitam gadis itu.


Hans melepas pelukannya lalu menghapus air mata Aqira.


"Dengarkan aku, sekarang kau tidak sendiri lagi, aku selalu bersamamu ok?" Aqira menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih Kak Hans." ucapnya dengan matanya yang masih sembab.


"Jangan berterima kasih terus, aku sudah menganggapmu seperti adikku."


"Sekarang ayo kita masuk, aku sudah lapar."


"Ayo..."


.


Kini mereka telah duduk di salah satu meja kosong di sudut rumah makan itu. Tempat itu ramai pengunjung, karena ini jam makan siang.


"Walaupun tempatnya kecil begini, tapi kalau makanannya jangan di ragukan kak."


"Memangnya seenak apa?"


"Sangat enak, kakak coba saja nanti."


"Sepertinya kau sangat senang datang ke sini?"


"Tentu saja kak, aku sangat merindukan kenangan bersama ayah dan ibuku." ucapnya hampir meneteskan air mata lagi.


"Apa kakak tau, meja yang kita duduki ini adalah meja favorit kami." kembali tersenyum ceria.


"Benarkah? Wahh aku sangat beruntung ternyata."


"Kenapa beruntung?" heran Aqira.


"Karena aku sudah menggantikan orangtuamu duduk di sini." terkekeh pelan.


"Kakak bisa saja, ayah dan ibuku tidak pernah tergantikan."


" Iya aku tau."


"Tapi bolehkan aku menjadi salah satu orang penting di hidupmu?"


"Tentu saja, aku sudah menganggap kak Hans seperti kakakku sendiri."

__ADS_1


"Malah aku senang, ternyata masih ada orang mau menganggapku." ucapnya dengan wajah berbinar.


"Kalau begitu janji mulai sekarang jangan bersedih lagi, aku tidak suka melihatmu bersedih." mengangkat tangannya menjulurkan jari kelingkingnya.


Yang disambut Aqira dengan jari kelingkingnya.


"Iya aku janji." ucap Aqira tersenyum lebar.


.


Aqira sampai di rumah sekitar jam empat sore. Tadi sehabis makan siang, Hans mengajaknya ke taman bermain. Aqira sangat menikmati saat berada di taman bermain sampai lupa waktu.


Aqira memasuki kamarnya, dia sangat lelah seharian ini, ingin segera mandi lalu tidur.


Tangannya membuka resleting belakang dress yang dikenakannya.


"Dari mana saja kau gadis rubah!!" Aqira tersentak kaget saat mendengar suara Brian yang ternyata sedari tadi duduk di sofa memperhatikannya.


"Aaaa...dasar mesum!!" teriak Aqira menarik kembali dressnya yang sudah turun sampai ke pinggang.


"Aku mesum?"


"Iya kau mesum, sejak kapan kau di sini?"


sudah memperbaiki dressnya.


"Sejak kau masuk, aku sudah di sini."


"Berarti ka..kau melihatku..." lirih Aqira terbata bata.


"Aku melihat semuanya." tersenyum licik.


"Kecil sekali, dada rata seperti itu siapa yang selera." terkekeh mengejek Aqira.


Aqira langsung menyilangkan tangan di dadanya "Dasar mesum!"


"Heh jangan terlalu percaya diri, aku tidak selera dengan dada ratamu itu." mengejek Aqira lalu berjalan ke kamar mandi.


"Hei kau, kau mau kemana?" saat melihat Brian akan masuk ke kamar mandi.


Brian berbalik "Tentu saja mau mandi bodoh."


"Aku yang duluan tadi kenapa jadi kau?" kesal Aqira.


"Kalau begitu kita mandi bersama saja?"


ucap Brian berniat menggoda.


"Hihh.. enak saja, dasar mesum pergi sana cepat!!" kesal Aqira.


"Ya sudah kalau tidak mau." masuk ke kamar mandi.


.


Di kamar mandi, Brian langsung mengguyur tubuhnya di bawah shower yang sudah panas dingin sedari tadi.


Membasahi tubuhnya dengan air dingin setidaknya bisa meredakan hasrat yang ditahan saat melihat tubuh telanjang Aqira.


Gadis rubah itu, kenapa begitu menggoda? gumam Brian masih membayangkan tubuh Aqira.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa votenya yang banyak yaaa๐Ÿ˜€


.


Love you all๐Ÿ˜—๐Ÿ˜˜


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2