
Happy Reading all
Pagi ini, seperti biasa Aqira pergi ke kampus dengan diantar oleh Brian.
Brian merasa heran dengan sikap istri kecilnya itu, pasalnya sejak pulang dari rumah orangtuanya, wanita itu lebih banyak diam. Biasanya Aqira akan selalu mendebat celotehan dari Brian.
Dan saat Brian menciumnya di depan Joe, wanita itu tidak protes sama sekali, dia menurut saja tanpa ada bantahan seperti biasanya.
Brian dibuat bingung akan sikap diam istrinya, dia mencoba mengingat-ingat apakah dia memiliki kesalahan yang tidak disadarinya.
Tapi nihil, Brian merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
Sampai di kantor pun Brian tidak bisa fokus bekerja sama sekali, pikirannya hanya dikuasai oleh Aqira saat ini.
Memikirkan hal apa yang membuat sifat Aqira berubah seperti ini.
Brian yakin pasti terjadi sesuatu saat istrinya pulang ke rumah orang tuanya.
Sebenarnya Brian ingin cepat-cepat pulang, ingin menemui istrinya. Tapi sepertinya tidak bisa, karena banyak pekerjaannya yang harus diselesaikan secepatnya.
Hari menjelang sore, Brian segera menghubungi Aqira untuk mengabari bahwa dia akan pulang lama hari ini.
Dan seperti yang Brian pikirkan, Aqira hanya menjawab seadanya tanpa sikap manjanya yang selalu ditujukan pada pria itu.
"Ada apa sebenarnya yang terjadi padanya?" tanya hati Brian setelah mematikan panggilannya.
•••
Aqira menghempaskan tubuhnya di atas ranjang setelah menerima telepon dari suaminya.
Dia baru saja sampai ke rumah saat suaminya menghubunginya. Untung saja Brian pulang lama hari ini, jadi Brian tidak akan tahu kalau sebenarnya dirinya terlambat pulang.
Setelah membersihkan tubuhnya, Aqira turun ke bawah untuk makan malam, kali ini Aqira makan malam sendiri.
Aqira memandangi kursi makan tempat biasa Brian duduk, dengan pandangan sendu.
Entah apa yang sedang dipikirkan wanita itu, hingga tangannya hanya bergerak membolak-balikkan makanannya.
Aqira memutuskan kembali ke kamar tanpa menghabiskan makan malamnya.
Ada banyak hal yang sedang menghantui pikiran wanita itu, membuat selera makannya turun.
Aqira merebahkan tubuhnya di ranjang, kepalanya sedikit pusing dan juga perutnya bergejolak sakit.
Aqira memejamkan matanya, mungkin karena sakit kepalanya yang menghantam, dengan cepat wanita itu telah jatuh ke alam bawah sadarnya.
Brian pulang saat Aqira sudah terlelap dalam tidurnya. Terlebih dahulu pria itu mencium kening istrinya yang sudah terlelap, kemudian membersihkan tubuhnya.
Setelah itu, Brian ikut bergabung bersama istrinya di tempat tidur, merebahkan tubuhnya di sana, lalu menarik Aqira ke dalam pelukannya.
Ternyata tarikan itu membuat Aqira terbangun dari tidurnya.
Mata mereka bersitatap, keduanya memancarkan kerinduan yang ditahannya satu hari ini.
Brian menyunggingkan senyumnya kepada Aqira, sedangkan Aqira, wanita itu memandang Brian dengan tatapan penuh arti.
"Ada apa dengan sikapmu satu hari ini?" tanya Brian. Pria itu tidak dapat menahan untuk tidak bertanya.
__ADS_1
Aqira terhenyak, dan dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa." jawab Aqira.
"Jangan mencoba menutupinya dariku, aku tau kau pasti menyembunyikan sesuatu." ucapan Brian yang berubah menjadi serius.
"Aku sungguh tidak apa-apa, ini hanya karena perubahan hormonku menjelang datang bulan, membuat moodku berubah-ubah." jawab Aqira asal.
Tak luput mata gadis itu melirik ke arah Brian, memastikan pria itu percaya akan ucapaannya.
"Benarkah?" tanya Brian penuh selidik.
"Iya.. lihat saja di internet, semua wanita pasti mengalami hal itu." ucap Aqira penuh keyakinan.
"Baiklah, aku percaya. Tapi awas saja jika kau menyembunyikan sesuatu dariku, aku akan menghukummu tanpa ampun." ucap Brian setengah bercanda. Nampaknya pria itu percaya dengan ucapan Aqira.
"Tapi tunggu... kau bilang menjelang datang bulan?" Aqira mengangguk.
"Itu artinya kau belum hamil..?"
Degg..
Jantung Aqira berdegub kencang, dirinya merasa tertohok akan ucapan Brian baru saja.
Aqira hanya diam saja, wanita itu terlihat panik. Dan tentu saja Brian melihat kepanikan istrinya itu. "Hei.. kenapa sayang, kenapa kau panik?" ucap Brian lembut.
"Ti.. tidak aku tidak apa-apa." kepanikan belum juga reda dari wajah wanita itu.
"Sayang, kau tidak perlu cemas." sambil mengelus surai hitam wanita itu.
"Tidak apa-apa kalau kau belum hamil, semua butuh proses." tangannya bergerak mengusap air mata Aqira.
Aqira terisak dalam dekapan Brian, air matanya membasahi piyama yang dikenakan oleh suaminya.
Aqira merasa berdosa telah melakukan kesalahan yang fatal. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak punya pilihan lain selain melakukan kesalahan itu.
"Jangan menangis sayang, kita baru saja memulainya, aku yakin sebentar lagi kau pasti akan segera mengandung anakku." Brian berusaha menenangkan Aqira. Mendengar itu membuat tangis Aqira semakin keras, tangan mungilnya memeluk erat tubuh pria itu, seakan dirinya takut kehilangan.
Brian kira, Aqira sedih karena belum juga hamil, dan membuat wanita itu merasa bersalah.
Padahal bukan, Aqira sedih karena telah melakukan sesuatu, yang pasti akan membuat suaminya marah jika dia sampai dirinya ketahuan. Bukan hanya suaminya saja, semua keluarga Brian pasti akan sangat kecewa kepada wanita itu.
Akhirnya Aqira berhenti menangis, setelah beberapa kali Brian mencoba menenangkannya.
Tangan Brian masih mengelus lekuk punggung wanita itu.
"Sayang..." panggil Brian.
Aqira hanya menatap Brian, tidak menjawab panggilan suaminya. Masih terdengar suara senggugukannya akibat terlalu lama menangis.
"Kurasa kita harus lebih giat lagi." Brian mengerling nakal.
Tangan pria itu sudah menjalar kemana-mana membuat tubuh Aqira meremang.
"Kita harus lebih gial lagi, agar Brian junior bersemayam di sini." mengelus perut rata Aqira.
Mendengar itu, kembali membuat hati Aqira terhenyak. Ada sesuatu yang mengganjal hati wanita itu.
Dan mulailah Brian kembali menjamahi tubuh Aqira. Meluapkan segala kerinduannya satu hari ini. Brian berharap istrinya akan segera mengandung.
__ADS_1
Pria itu juga sama antusiasnya dengan Daddynya. Dia juga ingin menimang anaknya nanti, darah dagingnya sendiri yang merupakan duplikat pria itu.
Sedangkan Aqira pasrah akan apa yang dilakukan Brian malam ini. Biarlah ini menjadi penebus perbuatannya itu.
•••
Sudah seminggu berlalu, semuanya berjalan dengan baik.
Sikap Aqira juga sudah kembali seperti dulu lagi, kembali banyak bicara dan selalu berdebat dengan Brian.
Walau terkadang, wanita itu merasa bersalah setiap Brian membahas tentang anak. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskannya mengenai itu.
Tapi terlepas dari situ, Aqira merasa bahagia untuk saat ini. Brian selalu memprioritaskan dirinya atas segalanya. Brian selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan hal-hal romantis kepadanya.
Setiap hari Brian pasti mengirimkan bunga untuknya, menuliskan puisi-puisi cinta yang diselipkannya di bunga itu.
Dan seperti malam ini, Brian membawanya ke sebuah restaurant ternama, untuk apa? Tentu saja Brian akan membuat acara dinner romantis untuk istri tersayangnya.
Kedua insan itu terlihat duduk berhadapan di sebuah meja bulat yang dihiasi lilin-lilin cantik di tengah-tengah meja itu.
Aqira memandang takjub ruangan ini, meja tempat mereka duduk juga di kelilingi banyak lilin yang membentuk gambar hati.
Wah Brian romantis sekali.
Ruangan yang hanya diterangi lilin yang menyala, ditambah dengan suara biola yang mendayu-dayu indah di telinganya.
Suasana ini sangat menyenangkan, dan lebih menyenangkan lagi apabila dinikmati bersama orang yang kita sayang.
Brian menjulurkan tangannya untuk menggapai tangan Aqira di atas meja, "Kau bahagia?" tanya Brian lembut disela makan mereka.
"Hm.. sangaaat.. bahagia." jawab Aqira penuh semangat.
Aqira juga membalas genggaman tangan Brian.
"Terima kasih sayang.." ucap Aqira dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Sama-sama sayang." Brian mengangkat punggung tangan Aqira, lalu mengecupnya lama.
Setelah mereka selesai makan, Brian mengajak Aqira berdansa.
Aqira tidak pandai berdansa sama sekali, membuat kaki Brian selalu terinjak olehnya.
Dan akhirnya Brian mengangkat tubuh Aqira, memegang erat pinggang wanita itu agar tidak terjatuh, hingga menempel sempurna di tubuhnya.
Selama beberapa menit mereka berdansa, membuat Aqira mengantuk, mungkin karena efek kekenyangan dan terlalu nyaman berada di pelukan Brian.
"Sayang.. aku mengantuk." ucap Aqira dengan manja. Brian masih setia melangkah teratur sambil memeluk erat tubuh mungil istrinya.
"Baiklah. Kita sudahi sampai di sini." Brian berhenti melangkah.
Masih memeluk Aqira, lalu mengecup lama bibir mungil itu menyudahi dinner romantis mereka malam ini.
Brian dan Aqira melangkah beriringan keluar dari restaurant itu.
Mata Aqira yang tadinya terlihat sayu, tiba-tiba saja terbuka lebar saat melihat seseorang yang dikenalnya.
Aqira terhenti, manik hitamnya masih memperhatikan wanita berambut panjang yang duduk di dekat pintu masuk restaurant itu.
__ADS_1
Aqira memastikan bahwa dirinya tidak salah lihat, ternyata tidak wanita itu tidak salah orang.
"Jessi?"