JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Bercerai


__ADS_3

LIKE DULU SEBELUM BACA


"Sekarang jawab pertanyaanku, bagaimana mungkin dia menjebakmu sedangkan kau sendiri dalam kesadaran penuh saat itu.


Kau pikir aku bodoh tidak dapat membedakan mana yang dijebak atau kau yang juga bernafsu pada wanita itu?!!" pertanyaan itu membuat Brian kalah telak, tidak tau harus menjawab apa.


Bagaimana cara agar Aqira percaya padanya


Melihat kebungkaman Brian, Aqira tersenyum kecut.


"Kau tidak bisa menjawab bukan?"


"Sekarang aku dapat menyimpulkan, kau tidak pernah mencintaiku sedikitpun." ucapnya dengan air matanya yang sudah berlinang membasahi pipinya.


Brian tersentak, kata-kata itu terasa menghujam jantungnya.


Bagaimana mungkin Aqira berpikiran seperti itu kepadanya.


Brian ingin mencela ucapan itu, tetapi lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sepatah katapun.


Dia masih terkejut akan ucapan istrinya itu.


"Kau tidak pernah mencintaiku Brian. Selama ini kau hanya memanfaatkanku sebagai pemuas nafsumu, tidak lebih." ucap Aqira lagi.

__ADS_1


Brian masih membisu, tidak tau harus mengatakan apa lagi untuk membuat Aqira percaya.


Aqira menjerit dalam hati, sakit sekali rasanya. Brian bahkan tidak menyangkal ucapannya. Mungkin benar Brian memang tidak mencintainya.


"Pergilah Brian. Besok aku akan ke rumahmu untuk mengambil barang-barangku. Dan aku akan segera pulang ke rumah orang tuaku." ucap Aqira. Tidak ada yang tau betapa hancurnya hatinya saat ini.


Brian tertegun setelah berhasil mencerna ucapan Aqira.


"Apa maksudmu kembali ke rumah orangtuamu?" tidak ada lagi kelembutan di sana.


Aqira membalas tatapan Brian. "Ya. Aku sudah memikirkannya matang-matang, lebih baik kita bercerai saja." ucapnya dengan mudahnya.


Brian tersentak, ada apa dengan istrinya ini?


"Kenapa kau mengambil keputusan seperti itu. Sadarlah sayang, jangan sekejam ini padaku.


mengguncang kedua bahunya, berharap wanita itu tersadar akan ucapannya baru saja.


"Maaf Brian. Hubungan kita sampai di sini saja. Kita tidak saling mencintai, jadi untuk apa kita tetap bersama." ucap Aqira.


"Siapa bilang kita tidak saling mencintai. Aku mencintaimu sayang. Aku mencintaimu lebih dari hidupku. Kumohon jangan mengambil keputusan seperti ini. Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu." Brian memeluk tubuh Aqira erat, seakan enggan melepasnya.


Aqira yang memang merindukan pelukan pria ini, membiarkan Brian memeluknya. Air matanya mendera membasahi kemeja Brian, tempat dia menyandarkan wajahnya.

__ADS_1


Pelukan yang berlangsung cukup lama itu segera dilepas oleh Aqira.


Aqira menatap pria itu penuh keseriusan. "Keputusanku sudah bulat Brian. Perpisahan adalah jalan terbaik untuk kita." lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Aqira.." pandangannya melemah menatap manik berwarna coklat itu. Sungguh tidak adakah kesempatan untuknya?


"Pergilah Brian, aku tidak akan mengubah keputusanku apapun yang terjadi."


"Sayang kumohon jangan lakukan ini padaku." Brian memohon dengan wajah sendunya.


"Jika kau tidak mau pergi, baiklah, biar aku yang pergi." ucap Aqira dan ingin beranjak pergi.


Tapi ditahan oleh Brian, tangannya dicekal "Aku yang pergi. Tetaplah di sini." ucap Brian. Air matanya yang ditahan itu hampir saja terjatuh di depan Aqira.


"Kumohon pikirkan sekali lagi keputusanmu. Jangan bohongi hatimu." ucap Brian sebelum benar-benar pergi dari sana.


Akhirnya Brian yang pergi dari kamar itu. Meninggalkan Aqira yang kini duduk terkulai di atas lantai.



Oh ya sambil menunggu up selanjutnya, silahkan mampir di novel keduaku. Dijamin seru kok


Love you all

__ADS_1


Keep safe and healthy


__ADS_2