
LIKE DULU SEBELUM BACA
"Aku mendengar semua yang kau katakan saat itu. Ungkapan perasaanmu padaku dan juga rahasia yang selama ini kau sembunyikan dariku." raut wajah Brian seketika menjadi bingung usai mengucapkan kalimat terakhirnya.
Aqira terdiam, dia tidak mampu berkutik sama sekali. Apalagi sekarang tatapan Brian tidak sehangat beberapa detik yang lalu, membuat wanita itu menjadi ketakutan setengah mati.
Jadi Brian sudah mengetahuinya. Aqira merutuki kebodohannya saat itu yang dengan mudahnya mengatakan rahasia itu kepada Brian yang masih belum sadar saat itu. Dia tidak mengira bahwa ternyata Brian mendengar semua ucapannya.
Dan sekarang, suaminya sudah tahu, kecemasan kini melanda hati wanita itu. Apakah Brian marah kepadanya, dan setelah itu pergi meninggalkannya?
Jika Brian memang kecewa padanya, Aqira akan pasrah menerima kemarahan pria itu. Karena ini juga merupakan kesalahannya, dia pantas menerima kemarahan Brian.
"Ra-rahasia... kau kau mendengarnya?" Aqira terbata-bata.
"Ya aku mendengarnya." jawab Brian dingin.
"Semuanya?"
"Semuanya." ulang Brian.
__ADS_1
Mendengar itu Aqira melingkarkan kedua tangannya di perut Brian, merengkuhnya erat seolah tidak ingin kehilangan.
"Maafkan aku, kumohon jangan tinggalkan aku ....hu...hu...hu.." Isak tangis Aqira.
Brian dapat merasakan dadanya basah akibat air mata Aqira. Tapi pria itu masih belum bergeming, tidak menolak ataupun membalas pelukan Aqira.
Mendapat reaksi Brian seperti ini, Aqira semakin mengeratkan pelukannya, sehingga membuat Brian kesulitan bernafas.
Aqira mengira bahwa Brian memang benar-benar marah padanya.
Brian boleh marah padanya, tapi jangan sampai Brian meninggalkannya. Jika Brian meninggalkannya, dia tidak akan sanggup hidup sendiri tanpa pria itu.
Aqira melepas pelukannya, menatap Brian lekat tapi masih terlihat memelas.
"Jangan tinggalkan aku..." lirihnya.
Brian tidak bergeming sama sekali, dia hanya menatap Aqira tanpa ekspresi, membuat Aqira berpikir bahwa Brian memang sudah kecewa padanya.
Entah mendapat keberanian dari mana, Aqira mendekatkan wajahnya ke wajah Brian, perlahan tapi pasti kini bibirnya sudah menempel sempurna di bibir tipis milik Brian.
__ADS_1
Brian cukup terkejut akan perbuatan istrinya saat ini, jarang sekali Aqira berinisiatif menciumnya lebih dulu. Walaupun begitu, Brian tidak menolak ataupun membalas ciuman Aqira. Dia hanya diam memperhatikan semua tindakan Aqira saat ini.
Karena tidak mendapat penolakan, Aqira mulai mel*m*t bibir Brian, bahkan Aqira tidak segan untuk menelusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Brian. Aqira dengan gencarnya mel*m*t bibir tipis Brian, karena Brian tidak menunjukkan penolakan walaupun tidak membalas ciumannya.
Ciuman itu berakhir ketika Aqira merasa kehabisan oksigen, dengan nafas yang masih terengah-engah Aqira kembali menatap Brian dengan sendu.
"Jangan tinggalkan aku..."
"Aku tahu aku salah, kau boleh memarahiku atau menghukumku, tapi kumohon jangan pergi... Aku tidak bisa hidup jika kau meninggalkanku..." lirih Aqira. Air matanya kembali membendung di sudut matanya dan bersiap-siap untuk menetes.
"Bukankah kau yang lebih dulu ingin meninggalkanku?" ujar Brian tiba-tiba setelah beberapa saat membungkam.
"A-ku... meninggalkanmu?"
"Hm bukankah sebelum aku kecelakaan kau ingin bercerai dariku?"
Brian memejamkan matanya sejenak, lalu menatap Aqira lekat-lekat.
"Aku akan mengabulkan keinginanmu itu." ucap Brian datar.
__ADS_1