JODOHKU PEMBANTUKU

JODOHKU PEMBANTUKU
Mengacuhkanmu..


__ADS_3

Like dulu sebelum baca, biar Author makin semangat nulisnya.


Ajak yang lain baca juga ya πŸ˜€πŸ˜€


Aqira berlalu dari hadapan pria itu menuju sofa dan merebahkan tubuhnya di sana.


Tangannya bergerak menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Brian menatap Aqira yang terbungkus selimut tebal. Dia dibuat heran dengan sikap istri kecilnya itu malam ini.


Brian mengangkat bahunya acuh, seolah tidak peduli, padahal di dalam hatinya banyak pertanyaan yang ingin dilontarkannya pada gadis itu.


"Benarkah dia tidak melihatnya?


Tapi kalau bukan gadis ini lalu siapa?" hatinya bertanya tanya.


Mungkin ia akan menanyakannya besok saja.


Sedangkan Aqira, jangan ditanya, air matanya sudah membasahi bantal yang menumpu kepalanya.


Aqira menangis dalam diam menutup mulutnya rapat rapat agar suara isakannya tidak lolos dari mulutnya. Selama menikah, menangis dalam diam sudah menjadi keahlian baru Aqira.


Aqira benar benar tidak bisa tidur malam ini, setiap dirinya merapatkan matanya, tiba tiba bayangan Brian dan wanita itu selalu muncul di pikirannya.


Karena terlalu lelah menangis akhirnya Aqira tertidur saat pagi menjelang.


Pagi menjelang, Brian mengerjapkan matanya lalu menatap jam besar di dinding kamarnya.


Jam menunjukkan pukul tujuh lewat, dia terlambat.


Biasanya Brian akan dibangunkan oleh Aqira supaya tidak terlambat.


"Kenapa gadis itu tidak membangunkanku?" heran Brian, lalu beranjak duduk di tepi tempat tidur.


"Dia masih tidur? Tidak biasanya"


Brian segera berjalan ke kamar mandi, dirinya sudah terlambat ke kantor, pagi ini ada meeting penting.


Saat keluar dari kamar mandi Brian masih melihat Aqira tertidur lelap di atas sofa.


Padahal ini sudah hampir jam delapan, biasanya sebelum matahari naik gadis ini pasti sudah bangun.


Brian dengan tangannya yang mengikat dasi di lehernya berjalan menuju Aqira yang masih terlelap.


Memperhatikan wajah Aqira secara intens, matanya menangkap lingkar mata Aqira yang menghitam.


"Apa dia kurang tidur?"


"Hei.. bangun..bangun rubah kecil" dengan tangannya bergerak menarik selimut yang menutupi tubuh Aqira.


Aqira terkesiap, dengan terpaksa mengerjapkan matanya, melihat Brian yang berdiri di sebelah sofa menatapnya dingin.


"Jangan menggangguku, aku masih mengantuk" sahut Aqira dengan suara serak lalu merebahkan tubuhnya kembali membelakangi Brian.


Brian heran melihat sikap Aqira, tidak biasanya istri kecilnya seperti ini.


"Aku mau ke kantor" ucap Brian.


Mendengar itu Aqira membuka matanya, tiba tiba sekelebat bayangan tadi malam terlintas di otaknya.


"Pergi saja, kenapa melapor padaku, biasanya kau juga pergi tanpa pamit" ucap Aqira ketus.


Setelah kejadian kemarin malam Aqira berjanji akan mengacuhkan Brian.


Aqira harus kuat, dia tidak boleh lemah di hadapan pria ini.


"Kau..." dahi Brian berkerut dalam.


"Aku mau sarapan" lirihnya pelan, tapi masih dapat di dengar Aqira lalu membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Brian.


"Sial" padahal bukan itu yang mau Brian ucapkan.


"Kau mau sarapan?" dijawab dengan anggukan pelan Brian, tetapi matanya menatap ke arah lain.


"Kalau mau sarapan ke ruang makan sana, Bibi Lusi pasti sudah menyiapkannya" lalu merebahkan tubuhnya lagi.


Brian mulai geram, Aqira mengacuhkannya lagi.


"Kau bilang mau menjadi istri yang baik, tapi lihatlah, suaminya mau bekerja kau malah enak enakan tidur jam segini"


Seketika Aqira terduduk menatap pria itu tidak kalah dingin dari Brian. Dengan lingkar mata yang hitam itu ditambah dengan tatapan dingin Aqira membuatnya terlihat menyeramkan.

__ADS_1


Brian tersenyum miring melihat raut wajah Aqira, ternyata ucapannya tadi bisa memancing amarah Aqira.


"Tidakkah kau ingat ucapanmu saat pertama kali kita tinggal bersama, kurasa kau tidak lupa bukan?" ucap Aqira dingin dengan tangan bersedekap menatap ke arah lain.


"Berani sekali gadis ini bersikap sombong di depanku" geram Brian.


"Apa maksudmu gadis rubah?"


"Aa.. ternyata kau lupa, biar kuingatkan" ucapnya sambil bangkit berdiri.


"Tidakkah kau ingat hari itu kau memintaku untuk tidak perlu menjadi istri yang baik? Sekarang aku sudah melakukannya, jadi kau tidak perlu memarahiku lagi karena aku mengurusmu" langkahnya terhenti saat Brian menarik tangan gadis itu.


"Sepertinya aku terlalu baik padamu gadis rubah" dengan sorot mata yang menghujam.


"Berhenti memanggilku rubah, aku punya nama, namaku Aqiraa..!" teriaknya.


Selama pernikahan Brian tidak pernah sekalipun memanggil namanya.


Dirinya selalu dipanggil rubah, Aqira sudah muak, gadis rubah, rubah licik, rubah kecil.


Rasanya tangannya ingin mencabik cabik mulutnya saat pria itu memanggilnya dengan sebutan rubah.


Brian tersenyum licik "Lalu kau mau aku memanggilmu apa? Sayang? Istri kecilku? Atau kelinci manisku?"


Aqira geram, hatinya berusaha untuk tidak menanggapi Brian, tidak ada gunanya berdebat dengan pria ini. Dengan kesal Aqira berkata "Terserah kau saja mau apa, aku sudah lelah berdebat denganmu" ucapnya lalu bergegas masuk ke kamar mandi.


Brian mematung menatap kepergian Aqira, biasanya gadis itu akan melawannya setengah mati walaupun tetap saja kalah.


Brian bertanya tanya " Ada apa dengan gadis ini? Apa mungkin dia lelah kepadaku?"


"Hah harusnya aku senang kalau dia menyerah, jadi aku tidak perlu menanggapinya lagi, apa yang kucemaskan".


Tiba tiba ponselnya berdering membuyarkan lamunannya, Joe memanggil,


Brian melihat jam tangannya, dirinya sudah sangat terlambat.


Tanpa menjawab panggilan Joe, Brian melangkahkan kakinya cepat.


Di depan rumah Joe sudah berdiri menyambutnya di samping mobil.


Joe membukakan pintu mobil untuk Brian.


Mereka sedang terburu buru mengejar waktu untuk rapat penting pagi ini.


Selama di perjalanan menuju kantor Joe memperhatikan tuannya yang gelisah sedari tadi. Apa dia punya masalah? Biasanya tuannya itu selalu tenang dan dingin seberat apapun masalahnya.


"Apa ada masalah tuan?" tanya Joe.


"Tidak ada, fokuslah mengemudi" ucapnya dingin.


Joe heran, tidak biasanya tuan muda seperti ini, pasti ada masalah.


Apa mungkin karena nona muda?


Tapi apa yang dilakukan nona sampai membuat Brian seperti ini?


Sedangkan Aqira, gadis itu sedang meluapkan rasa kesalnya. Menangis tersedu sedu menatap wajahnya di depan cermin kamar mandi.


"Sebenarnya apa yang diinginkan pria itu?


Dia selalu semena mena kepadaku".


Pikirannya kembali terbayang Brian dengan wanita itu. Membuat tangis Aqira pecah seketika.


"Ya Tuhan hatiku sakit sekali, kenapa aku bisa mencintai lelaki itu"


Sebenarnya hatinya sudah sedikit lebih tenang dari pada tadi malam.


Seseorang telah memberinya pencerahan membuat Aqira sedikit lega.


*Flasback on


Malam itu, Aqira berlari keluar dari rumah Brian dengan air mata yang berlinang.


Aqira berjalan menyusuri jalanan sepi kompleks perumahan Brian.


Berjalan tanpa arah yang menentu.


Hatinya begitu kalut, segores luka tengah merayapi hatinya.


Dia tidak menyangka Brian ternyata menghianatinya.

__ADS_1


Memang mereka menikah secara terpaksa, tapi pikiran polos Aqira tidak pernah terbayang kalau Brian akan berkhianat.


Aqira memang belum tau jika sebelum menikah, Brian adalah seorang pemain wanita. Itulah sebabnya Aqira begitu kalut melihat Brian melakukan hal itu.


Dan yang paling menyayatkan hatinya, Brian bahkan membawa wanita itu ke rumahnya, melakukan hal tak senonoh dengan wanita itu di rumahnya sendiri.


Harga dirinya telah di lukai sebagai seorang istri.


Walaupun Aqira belum pernah sama sekali menjalin hubungan, tapi hatinya menolak keras yang namanya pengkhianatan.


Mungkin Aqira bisa menerima semua sikap buruk Brian kepadanya selama ini. Tapi tidak untuk yang satu ini, Aqira tidak bisa.


Aqira memang tidak bisa menjanjikan apa apa kepada Brian, tapi percayalah dia akan berusaha untuk setia dan cinta yang tulus untuk pria itu.


Tapi sekeras apa pun usaha Aqira untuk membenci Brian, hatinya justru semakin erat merengkuh Brian ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam, tidak membiarkan Brian lenyap sedikitpun.


Saat Aqira berjalan dengan kekalutan hatinya, sebuah mobil yang terasa familiar berhenti di sebelah Aqira.


Seketika lamunannya buyar, hatinya bertanya tanya, mobil siapa ini.


Seorang pria jangkung turun dari mobil itu.


"Kak Hans" panggilnya dengan suara serak habis menangis.


Pria jangkung itu adalah Hans, pantas saja Aqira seperti kenal dengan mobil itu.


Lagi lagi selalu saja Hans datang saat Aqira terkena musibah.


Muncul pertanyaan dalam benaknya, apakah Hans diciptakan sebagai malaikat penolongnya?


Aqira segera menghapus air matanya berusaha menutupi luka mendalamnya.


Secepat kilat mengubah raut wajahnya tersenyum pada Hans*.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Selamat malam, Lisa balik lagi nih


votenya yang rajin ya biar Lisa rajin up


Love you all😘


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2