KAFKA

KAFKA
WALDEMARR VS ZYGMUNT


__ADS_3

•Happy Reading•


Mata elang Leo menyorot tajam ke arah gerombolan laki-laki yang baru saja tiba di jalan XX dengan kuda besi kebanggan mereka masing-masing.


Bahkan kubu dari Leo pun juga sudah siap siaga menutup ujung jalan XX agar tidak ada kendaraan atau orang lain yang melintasi jalan tersebut dengan beberapa bambu dan balok.


Kelima inti dari Waldemarr mensejajarkan motor mereka seperti layaknya barisan, lalu disusul beberapa anggota biasa di belakang mereka.


Kafka turun terlebih dahulu dari kuda besi kesayangannya yang kemudian di ikuti inti lain dari Waldemarr. Mereka berjalan ketengah, berdiri paling depan berhadapan dengan geng Zygmunt.


Mata Kafka menatap datar tanpa ekspresi yang orang lain pun pasti akan kebingungan dengan apa yang di pikiran remaja tampan satu itu. Sehingga strategi yang akan Kafka jalankan pun sulit untuk di tebak musuh.


"Prok... Prok... Prok..." bunyi tepuk tangan dari Leo yang menandakan penyambutan kedatangan geng Waldemarr.


"GUE AKUIN NYALI LO GAK MAIN-MAIN DAN GUE MERASA CUKUP TERKESAN, KARENA DI AKHIR MASA KEJAYAAN LO YANG SEBENTAR LAGI BAKALAN LENYAP DI TANGAN GUE DENGAN SOMBONGNYA WALDEMARR BERANI DATANG MENERIMA JAMUAN GUE, MENYERAHKAN DIRI TANPA HARUS DI PAKSA." suara Leo melengking keras, menatap nyalang ke arah Kafka.


"ANJ*NG, BANYAK B*COT LO, T*I. ENGGAK SEMUDAH ITU BODOH. LO PIKIR ZYGMUNT BISA NANDINGIN WALDEMARR?" Sanz menyahut takkalah keras.


Ketika Telapak tangan Kafka yang berdiri di jajaran paling depan terangkat keatas semua anggota Waldemarr langsung bungkam. Sanz tau apa maksud instruksi itu, menyuruh anggota nya untuk diam. ya, Kafka bukan tipikal orang yang banyak omong kosong, ia akan menunjukkan dengan sebuah pembuktian tanpa banyak cingcong.


"KENAPA, NGEDOWN LO? DASAR WALDEMARR PECUNDANG! KALAU TAKUT BILANG, MAZEHH." teriak Leo, sambil berjalan tiga langkah maju kearah waldemarr.


Ucapan Leo berhasil meningkatkan emosi Kafka yang sejak awal ia tahan.


Sebuah senyum miring tercetak jelas di sudut bibir Kafka. Wajah tampannya melukis kan wajah datar tanpa ekspresi yang membuat orang yang menatapnya menjadi bergidik ngeri, persis seperti seorang psikopat.


"PECUNDANG, KOK TERIAK PECUNDANG." ungkap Kafka santai.


"BANGS*T"


Leo langsung melompat tinggi hendak melayangkan pukulan ke kepala Kafka tapi hal itu sia-sia ketika dengan sigapnya Sanz memegang, menangkis, serta melindungi, Kafka dari serangan Leo.


"SLOW NJ*NG !! Mau nyoba mukul Bos gue lo? Lo langkahin dulu mayat gue, baru lo bisa berhadapan sama Bos gue langsung." Sanz tak terima, ia jadi ikut tersulut emosi.


"Bos lo itu udah berkali-kali gue peringatin, jangan coba-coba ngelirik bahkan ngedeketin cewek gue." sahut Leo dengan nada tak suka.


"Ya elah, posesif banget lo jadi cowok. Selama janur kuning belum melengkung bisa kali buat di embat. Yang sudah melengkung aja juga kadang masih bisa di embat." celetuk Gaishan.


Kafka maju satu langkah, merentangkan tangan kirinya ke depan dada Gaishan. Mengisyaratkan bahwa ini urusan gue dan Leo.


"Asal lo tau, setelah gue tau Luna itu pacar lo. Di saat itu juga gue berhenti buat deketin dia, gue menghargai keputusan yang dipilih oleh Aluna bahkan sampai sekarang gue berusaha buat mengikis jarak agar gue gak nyakitin perasaannya lagi. Jadi mau lo apa sekarang?" tanya Kafka dengan gerangan kecil di akhir kalimatnya.


Leo berdecih pelan, "Enggak yakin gue, kalau lo udah berusaha buat enggak ngedeketin dia lagi. Atau mungkin disaat dia lagi sama gue lo baru nggak ngedeketin dia? Tapi ngelirik bahkan berani mandangin wajahnya dari jauh. Lo pikir gue gak tau? Kemarin di seafood gang lo masih coba-coba buat mandangin dia. Gue mau kita selesaiin semua nya disini sekarang!" Ucap Leo menantang.


Dilihatnya pasukan Waldemarr yang jauh lebih sedikit di bandingkan dengan pasukan Zygmunt, Leo yakin kali ini Zygmunt lah yang akan membawa kemenangan.


Kafka tersenyum tipis mendengar perkataan Leo. Tanpa ia sadari, Leo langsung bertindak menghantam perut Kafka. Kafka yang lengah pun sontak mundur merasakan sedikit rasa sakit di bagian perutnya. Namun tidak menjadikan seorang Kafka lemah, ia langsung bertindak membalas pukulan Leo bertubi-tubi tanpa ampun. Semua inti Waldemarr yang melihat itu pun langsung bertindak jika ketua mereka sudah mulai bertindak, begitupun dengan kubu Leo.


Adu kekuatan otot pun terjadi di antara kedua geng tersebut. Debu-debu tipis di atas jalan raya mulai naik bercampur dengan udara karena hentakan kaki yang mulai tak santai, suara pukulan demi pukulan menggema, rentekan tulang yang terasa ngilu di telinga pun tercampur ngeri.


"Bertindak, ketika lawan lengah adalah hal yang melanggar aturan. Berarti sama saja lo mempercepat ajal lo sendiri." Sigap dengan satu gerakan saja Kafka sudah bisa merobohkan pertahanan Zygmunt.

__ADS_1


"Argh, si*lan." Leo memekik, tak kuasa menahan rasa sakit.


Melihat lawannya menjadi tak terkendali, Kafka dengan cekatan menendang tulang kering leo, yang menjadikan Leo langsung tersungkur.


"STOP." Instruksi Kafka menggelegar ketika Leo sudah di bawah kendali ketua Waldemarr.


"Kalau kalian masih bertindak, gue pastiin Bos kalian pulang hanya tinggal sebuah nama dan bendera kemenangan yang kalian bawa adalah berwarna kuning. Lo semua cari gara-gara dengan orang yang salah. Dan buat lo," jari telunjuk Kafka mengarah pada kening sebelah kiri Leo. Ya, Leo kini sekarang sedang berada di dekapan Kafka. Tubuhnya terkunci kuat dan lemah, sehingga ia tak mampu berontak.


"Gue emang suka dan kagum sama Luna, Bahkan dari gue pertama kenal dia. Tapi bukan berarti gue tipe orang yang suka merebut pacar orang, paham lo."


Plak!!


Tiba-tiba saja ada sebuah pukulan pelan dari arah belakang Kafka.


Sontak membuat Kafka mendorong Leo kearah Gaishan dan Ali, Gaishan dan Ali dengan begitu cekatan langsung memegang kedua tangan Leo.


Kafka berbalik hendak memberikan Bogeman ke arah orang yang sudah berani memukul kepalanya itu.


"AGKKHHH." teriak gadis cantik yang sudah menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Mendengar teriakan itu, Kafka langsung mengurungkan Bogemannya.


"BODOH, NGAPAIN LO DISINI??"


"Hay, kaf." katanya sambil tersenyum manis, menampilkan deretan gigi putihnya.


"LEO?!" teriak Alta disaat ia melihat wajah sepupunya.


Sontak membuat kedua kubu geng tersebut melongo tak percaya, dan didetik selanjutnya mereka tertawa terbahak-bahak.


"Lo kenal sama cecunguk ini, Babe?" tanya Gaishan.


"Iya," angguk Alta.


"Kok, bisa?"


"Ya bisa lah, orang dia anak dari kakak nyokap gue. Eh, jangan kencang-kencang peganginnya. Meskipun dia musuh sekolah kita, tapi dia sepupu gue."


"Brengs*k," Leo memberontak dari pegangan Ali dan Gaishan. Ia berhasil lepas, lantas ia langsung menarik tangan Alta menjauh dari kerumunan kedua geng tersebut.


Sementara di dalam mobil, Jessie dan yang lainnya sudah di buat khawatir dan geleng-geleng kepala. "Ya ampun, itu si Alta kenapa malah nyamperin anak-anak Waldemarr coba." geram Jessie.


"Mamp*s deh, udah pasti kena amukan nya si Kafka." Cherry ikut berceloteh.


"Mitha, kenapa lo biarin si Alta kesana?" Maurin menyalahkan Mitha.


"Lah, gue mana tau. Orang dari tadi gue lihat dia anteng duduk di bangku belakang. Tau-tau udah di depan Kafka aja tuh orang." ungkap Mitha yang tidak mau di salah kan.


"Lah, itu si Alta mau di ajak kemana sama si singa?" heboh Mitha.


"Eh iya, kenapa si kulkas diam aja dah." geram Cherry.

__ADS_1


"Wah, gak bisa di biarin. Ayo kita tolongin si Alta. kalau dia kenapa-kenapa gimana?" Jessie ikut menggebu-gebu.


"Tapi emangnya kalian berani kesana?" tanya Unge, ngeri.


"Enggak sih," jawab mereka kompak.


"Tapi, mau enggak mau harus berani. Karena yang ajak Alta kesini tuh kita guys." Cherry.


...****************...


"Ya ampun Al, kenapa bilang muka gue di coret-coret. Lah lo kaga liat nih muka gue pada bonyok begini." tunjuk Leo pada wajahnya.


"Lagian, ngapain juga lo nantangin war si kafka. Emangnya lo gak takut apa sama psikopat macam Kafka gitu. Cewek itu bukan cuman Luna doang Leo. Ish, lo bikin gue emosi aja." geram Alta.


"Dia cewek gue Alta, wajarlah kalau gue bertindak. Siapa coba yang suka lihat ceweknya di deketin sama cowok lain? Lo sih gak pernah pacaran."


"Enak aja, cowok gue di London itu banyak. Sekarang aja gue disini, jadi gue tinggalin mereka." Alta tak terima.


"Terus apa hubungannya lo sama Kafka? Gue lihat lo berani mukul dia tadi?"


"Dia milik gue." suara serak menginterupsi dari arah belakang.


"Hah, gimana? Gue kaga salah denger. Wah, wah, otaknya mulai koslet akibat baku hantam." batin Alta. Alta membulatkan mata tak percaya. "*Si*lan, bikin jantung gue mau berhenti aja. Jangan kegeeran Alta, Kafka cuman sukanya sama Luna doang. Please, bawa gue menghilang. Gue gak kuat* !!" Gumam batin Alta


"Maksud lo?" Leo membuka suara.


"Dia milik gue, begitu pun sebaliknya."


Alta hanya terdiam kaku tanpa bisa berseru.


Leo tertawa nyaring, "Kafka, Kafka, lo itu gak bisa bohong. Gue tau, yang lo cinta itu Luna dan sampai kapan pun yang lo cinta itu ya cewek gue. Garis bawahi Luna itu cewek gue. Lo bilang kaya gini biar gue mau berdamai sama lo? Ck, jangan harap."


"Le, gak usah ya lo nyeka Kafka kaya gitu." kesel Alta.


"Le, le, lo pikir gue lele." protes Leo, membuat Alta tertawa. "Gitu aja ngambek lo."


"Whatever lah, gue cuman mau bilang. Siapa pun berhak suka dengan siapapun yang ia sukai, selama dia enggak merebut milik orang lain karena kita gak pernah tau pada siapa rasa suka ini akan menepi. Jadi kalau emang Kafka juga suka sama Luna, whaynot? Selama Kafka tidak merebut Luna dari sisi lo dan Luna tidak berpaling dari lo, apa yang mesti lo takutin?! Kecuali..."


"Oke, mulai saat ini gue nggak akan ngelarang dia suka sama Luna. Tapi dia gak berhak buat jadiin lo pelampiasan, Al?" potong Leo.


"Gue bukan pelampiasan Kafka, kok."


"Tapi kenapa dia bilang lo miliknya, sedangkan yang ada di hatinya sampai saat ini tuh masih nama cewek gue."


Kafka mengepalkan tangannya. "Alta bukan pelampiasan gue, dia itu milik gue. Jadi bac*t lo nggak usah, sok tau."


"Diem lo, gue lagi enggak ngomong sama lo." tunjuk Leo pada Kafka. "Kalau dia sampai nyakitin lo, lo bilang gue. Gue bakalan ngabisin dia buat lo." tekan Leo pada Alta. "Please Al, jangan jadi cewek bodoh nanti nya." Leo mengusap lembut pucuk kepala Alta.


"Bawa balik milik lo, udah malam." ucap Leo, lalu meninggalkan Alta dan Kafka menuju kearah motornya.


Sedangkan Waldemarr sendiri sampai saat ini masih menunggu Kafka mengintruksikan untuk mereka kembali ke markas.

__ADS_1


__ADS_2