KAFKA

KAFKA
ICE CREAM


__ADS_3

•Happy Reading •


Es krim adalah kudapan manis yang digemari oleh segala kalangan, mulai dari yang muda hingga dewasa. Enggak heran sih mengingat rasanya yang manis dan menyegarkan, apalagi dibeliin nya sama orang tersayang bukan? ☺☺


Outlet ice cream di sebuah mall menjadi tempat tujuan dari Kafka dan Alta setelah mereka pulang dari sekolah. Sesuai janjinya, Kafka membelikan gadis ini ice cream sebagai bayaran atas maaf yang sudah di berikan Alta untuk nya.


"Apa ada yang lain, yang lo pinta dari gue selain ice cream ini?" Tanya Kafka sambil meletakkan nya di meja salah satu food court yang Alta tempati.


"Ada"


"Apa? Mumpung masih disini be."


"Setianya lo."


Kafka malah tertawa, "Gue setia be."


"Yakin?"


"Em, gue tau lo cemburu kan sama Aluna?"


"Kalau iya kenapa? Apa gue nggak boleh kalau cemburu?"


"Boleh banget, berarti lo sayang gue bukan?"


"Mybee" Jawab Alta asal sekenanya sambil ******* ice cream strawberry smoothies milik nya. "Thanks kaf, atas ice cream nya." Sambung Alta.


"Kalau masih ada yang mau lo beli, bilang aja." Ujar Kafka.


"Nggak ada, gue cuma pengen es cream." Cakap Alta.


"Majuan be" Perintah Kafka.


"Apa sih? " Alta kebingungan namun ia menuruti perintah Kafka dan memajukan wajah nya.


Beberapa detik kemudian jari jempol Kafka menyentuh sudut bibir Alta dan menyeka sisa ice cream yang ada di sana.


"Berantakan ya?" Gadis itu mengeluarkan handphone dari saku rok nya, kemudian membuka kamera untuk memeriksa penampilan nya.


"Udah cantik." Celetuk Kafka.


"Dih, ngak perlu di perjelas kali kalau gue cantik. Semua orang juga tau kalau gue udah cantik dari lahir." Alta mematikan kamera handphonenya dan memasukkan kembali kedalam saku rok. "Ayo, pulang." Ajak Alta.


"Ngak mau nambah lagi ice cream nya?" Tawar Kafka.


Alta menggelengkan kepala "Udah kenyang" Tolaknya, kemudian ia beranjak dan merengkuh tangan Kafka bergelayutan manja disana.


Kafka tersenyum tipis, "Masa cuma makan ice cream bisa kenyang sih be, lo tuh emang cewek paling aneh tau nggak." Mengacak rambut Alta pelan. Sambil berjalan beriringan menuju basement.


Seperti biasa, ritual baru yang Kafka lakukan adalah memasangkan helm ke kepala gadisnya. Seperti sekarang ini, sebelum mereka akan pulang maka dengan otomatis Kafka lebih dulu memasang helm dikepala Alta.


"Mau pakai jaket?"


"Nggak, gerah gue."

__ADS_1


"Oke, " Seru Kafka memasang helm nya sendiri dan naik keatas motor. Kemudian disusul Alta yang naik ke atas motor.


"Habis ini mau kemana?" Tanya Alta kepada Kafka.


"Habis anter lo, palingan gue ke markas bentar." Jawabnya sambil menarik pedal gas, melajukan motor nya kebahu jalan raya yang mulai padat dan mengantar Alta sampai kedepan rumah gadis itu. Butuh tiga puluh lima menit untuk mereka sampai tepat di perkarangan rumah Alta dari mall XX.


Alta turun dan kembali Kafka membukakan pengait helm di kepala Alta. "Makasih, mau mampir dulu?"


"Lain kali be, salam aja sama bokap nyokap kalau mereka udah pada pulang."


"Em, Hati-hati ya. Kabarin gue kalau lo udah sampe markas."


Kafka terkekeh. "Pasti, masuk sana."


"Lo aja yang pergi sana." Usir Alta.


"Gue mau mastiin lo masuk dengan aman dan gak akan kemana-mana lagi."


"Emangnya gue mau kemana?"


"Kali aja lo terbang ketiup angin be, mau cari cewek gue kemana coba."


"Dih, pacar sial*n lo ya." Memukul mundur dada Kafka dengan pelan. "Pergi sana, nanti keburu maghrib."


Kafka terkekeh pelan sambil mengusap dadanya yang barusan di pukul Alta. "Sakit be." Ujar Kafka drama.


Alta langsung panik dan mengusap dada Kafka, "gue pukul nya kekencengan ya, Sorry kaf. " Seru Alta dengan rasa bersalah nya.


Kafka tersenyum simpul, dan di detik itu juga Alta kembali tersadar dan memukul Kafka lagi. "Masa panglima tempur kesakitan di pukul sama cewek."


"Dih, minta gue teriakin ya."


Lagi-lagi Kafka tersenyum sebelum akhirnya ia kembali melajukan motor nya.


...****************...


Suasana markas besar Waldemarr terasa begitu ramai. Para anggota inti maupun biasa kini berkumpul bersama ditambah lagi mereka akan menyambut hari bersejarah sekali dalam setahun. Selain kegiatan bakti, dan amal, mereka juga akan mengadakan acara hari jadi atau yang biasa kita dengar sebagai Anniversary Waldemarr. Tentu mereka semua akan mempersiapkan acara tersebut. Semua nya larut dalam candaan juga obrolan ringan malam, disuguhi beberapa camilan dan minuman.


"Emang paling enak nih, makan gorengan dorongan nya Es mangga nya kang Eman!" Ujar Aleshaqi di iringi anggukan oleh Ali. "Apalagi mie Ronggeng telor, kornet, free seikhlasnya yang mau bayarin. Beh, nambah nikmat lagi."


"Kalau kata Abi gue, nikmat mana lagi yang kau dustakan." Setelah Aleshaqi berujar, ia langsung dapat toyoran cantik dari Gaihan dan bang Jo secara bersamaan.


"Ngehalu aja lo, noh makan tuh kacang di depan lo biar samaan kaya mony*t."


"Kali aja ada yang berbaik hati neraktir." Sanggah nya sewot.


"Kafka kalau lagi ngebucin lama bener." Keluh Gaishan. Pemuda berhoodie maroon itu kini meraih es cekek yang sedari tadi ia geletakan di pinggiran meja bilyard, lalu menyedot nya.


Bang Jo terkekeh, sambil matanya terfokus kearah Chalief yang sedang memainkan game online di ponsel miliknya sedangkan tangannya masih terus memetik senar gitar secara pelan.


"Ini si Sanz kemana dah, kok gak kelihatan dari balik sekolah?" Tanya Chalief.


"Tadi sih ada, habis itu cabut." Jawab bang Jo

__ADS_1


"Emangnya lo gak tau Bang kalau Bang Sanz lagi nganterin ka Cherry balik. Bang Sanz kan lagi ngincer ka Cherry." Seru Naya sambil terus terfokus pada layar pipih di depannya.


Gaishan langsung menengok ke arah Naya. "Pantesan tuh anak gue telpon nyautnya bentar, bentar mulu. Anj*ng, rupa nya nyolong start dia."


"Harusnya lo malu ogeb."


Gaishan terkekeh, "Malu kenapa gue? Punya gue malah lebih gede, anj*rr."


Celetukan yang Gaishan layangkan berhasil meraih atensi dan mendapatkan reaksi serentak dari para anggota Waldemarr yang kini tengah berkumpul di ruang belakang markas. Semua yang mendengar dan berada di sana pun langsung tertawa kencang.


Ali menggeleng tanda tak setuju dengan ucapan Gaishan. "Lo masih standart bangs*t. Gue bisa Jabarin urutan dari yang terkecil sampai yang paling besar." Seru Ali terkekeh keras.


Terdengar decakan kesal Gaishan sebagai tanggapan atas perkataan Ali "Jangan sotoy gobl*k."


"Gue berani taruhan ya, sat. Kalau punya lo mah ya elah... Lewat" Sambil menyilangkan tangan di dadanya membentuk huruf x.


"Gak kerasa brothers, pantesan aja Jessie gak minat." Seru Aleshaqi ikut menjahili Gaishan.


Suasana markas bertambah ramai dengan candaan dan celetukan Ali yang random. Sementara dari markas depan terlihat Sanz baru saja tiba setelah mengantarkan Cherry pulang dan berjalan menghampiri sebagian anak inti yang tengah berkumpul di ruang belakang. Ia melepas leather jaket hitam miliknya, lalu menepuk bahu bang Jo.


"Wih, kayanya lancar. Tanpa gagal" Seru bang Jo kencang. Seruan bang Jo memancing atensi yang lain dan menoleh menatap Sanz.


"Lancar apanya bang?"


"Gue rasa duluan lo yang official ketimbang Gaishan." Seru bang Jo.


Belum sempat Sanz membantah ucapan Bang Jo, terdengar suara langkah dari ketukan suara sepatu yang mereka kenali.


Kafka, pemuda itu melangkah perlahan memasuki ruang belakang markas. Dengan jari jemari yang terus bergerak merapihkan rambut nya yang terlihat berantakan akibat helmnya. Mata tajam penuh pesona tersendiri mengedar kesegala arah mengamati anggota nya.


"Beh, banditnya Lentera Bangsa akhirnya datang juga." Seru Ali, menghampiri Kafka dan memberikan satu minuman kaleng non alcohol.


"Bisa aja cari mukanya, anj*ng."


Kini giliran Aleshaqi ikut berjalan menghampiri Kafka dan kemudian menepuk bahu Kafka. "Li" Pangil Aleshaqi kepada Ali.


Ali yang merasa di panggil pun lantas menengok "Gak berani gue kalau sama yang ini. Tapi kalau mau di bandingin sama punya dia, Nyerah pasti."


Semua kembali mengeluarkan tawa kencang mendengar celetukan dari Ali.


Sedangkan sang empu, Kafka terlihat bingung sendiri mengangkat satu alisnya seolah bertanya tentang pembahasan apa yang kali ini anggota nya bahas.


"Tenang aja Kaf, semua nya aman." Seru Gaishan sambil terkekeh kecil.


"Bagus, oh iya lupa gue minta masukin Alta ke grup inti Waldemarr. Tolong lo masukin, Li. Hape gue low."


"Siap bos" Memberi hormat.




__ADS_1




__ADS_2