
•Happy Reading•
Alta langsung turun dari motor hitam milik Kafka, gadis itu langsung berjalan kearah pintu masuk rumah nya.
"Alta?" Panggil Kafka, namun tak di respon gadis itu.
Kesal dengan ulah Alta, pemuda itu pun dengan segera langsung turun, berlari kecil mensejajarkan langkah kekasihnya itu.
"Lo marah?"
Mendengar penuturan pemuda disampingnya itu, Alta menghentikan langkahnya.
"Menurut lo?"
Kafka terdiam, pemuda itu tak dapat menjawab. Ia hanya mampu menutup matanya perlahan, mencari ketenangan sembari menghirup udara perlahan. Terdengar suara helaan napas mengalah.
"Oke, gue tau gue salah. Gue minta maaf" pemuda itu tersenyum, menahan emosi nya.
Alta berbalik menatap wajah Kafka. "Gue paham kaf, lo jealous. Tapi nggak perlu kan lo harus ngehajar dia?"
"Tapi Al,"
"Please, kali ini gue gak mau denger pembelaan dari lo. Gue cuma gak mau lo dihukum." Alta menghela napas panjang "Terimakasih udah anter gue balik, sekarang gue mau istirahat."
Setelah mengatakan dua kalimat tersebut, Alta kembali berjalan untuk memasuki kediaman nya. Bertepatan dengan sebuah mobil berwarna merah memasuki pekarangan rumah. Alta begitu sangat tahu pemilik mobil itu siapa sehingga ia berhenti sejenak.
Arta Narendra, ya mobil itu milik ayah Alta. Pria paruh baya yang masih terlihat keren dan gagah itu baru saja keluar dari mobilnya setelah hampir seharian berkutat menjalani aktivitas pekerjaan nya sebagai arsitek terkenal, menghampiri Alta dan Kafka yang masih berdiri didepan pintu. Di susul seorang wanita cantik di belakangnya yang juga baru turun setelah di jemput sang suami tercinta dari butik miliknya.
"Eh ada nak kafka, Ayo masuk" ucap Gaby, Mamah Alta.
Kafka tersenyum, menyambut Mama Gaby dan juga Ayah Alta. Memberikan salam dan menyampiri tangan mereka untuk Salim.
"Siapa Mah?" tanya Arta.
"Ah ini Kafka, Pah. Pacarnya Alta." bisik Gaby yang masih bisa di dengar.
"Oh, masuk nak?" ucap Arta, sembari merangkul Kafka dengan senyum manis yang tercetak jelas di rautnya.
"Baik Om" Kafka tersenyum penuh kemenangan, lalu ikut melangkah masuk untuk mendekati Alta yang kini menghela napas dan bibir mengerucut.
"Kenapa pacar nya di biarkan diluar, lagi ngambek nih ceritanya?" goda Arta kepada Alta yang kini memeluknya erat. Gadis itu menggeleng kepala pelan, Arta tersenyum dengan respon yang di berikan anak gadis satu-satunya itu.
"Nggak ngambek kok, bibirnya manyun." timpal Gaby. "Anak Tante kamu apain sih Kaf? Sampai ngambek gitu. Terus kenapa sama wajah kamu?"
"Ah ini, biasa tan." ucap Kafka sambil memegang wajah nya. "Altanya gak Kafka apa-apain, gak tau juga ngambek karena apa!"
__ADS_1
Mama Gaby menggeleng. "Ya sudah ayo masuk, gak baik kalau berlama-lama di luar, sudah mau magrib juga." mereka semua masuk kedalam.
"Mbak?" panggil Gaby.
"Iya Bu" seru art di kediaman keluarga Arta.
"Tolong buatin minum untuk Kafka dan Bapak, ya."
"Baik Bu" setelah menjawab, art tersebut pun kembali ke dapur.
"Eh, kamu mau kemana, dek?" tanya Arta yang melihat anak gadis nya main nyelonong ke atas, meninggalkan Kafka.
"Mau ke kamar, Alta capek mau tidur."
Kafka memandang Alta, sementara Arta yang masih duduk di sofa langsung mengomel. "Mana boleh tidur jam segini, sayang. Tidur sehabis sholat ashar sampai menjelang Maghrib itu dapat menyebabkan beberapa efek buruk bagi kesehatan. Masa anak papa yang cantik ini tidak mengerti?
Mendengar ucapan papa nya yang terdengar seperti seolah mencari alasan agar ia tidak meninggalkan Kafka, terdengar seperti membela Kafka. Ia hanya mampu berdecak kesal. "Iya, kalau gitu Alta mau mandi dulu."
"Terus gue nungguin disini? Ikut." pertanyaan yang dilontarkannya Kafka berhasil membuat Alta, Gaby dan Arta membelalakan mata sempurna.
"Kamu mau ikut keatas, ke kamar Alta?" Arta menjawab pertanyaan konyol Kafka.
"Memangnya boleh Om?"
Kafka tersenyum seraya menunduk tak enak. "Ya ampun Om, Kafka cuma bercanda kok. Lagian gak berani juga macem-macem sama anak Om. Alta Galak, sudah kaya macan."
Keluarga itu pun terkekeh bersamaan.
...****************...
Jam sudah menunjukkan Pukul 19.00 WIB, sambil menunggu Mbak menyiapkan makan malam untuk keluarga Alta. Kedua remaja itu tengah duduk di gazebo taman samping rumah, pasalnya Kafka masih belum diperbolehkan untuk pulang sebelum makan malam bersama.
"Al?"
Yang di panggil malah membuang muka dan lebih memilih menatap kolam ikan di bawah sana.
"Gue nya disini Al, lo gak usah liat ke kolam ikan. Emang yang lagi ngajak lo ngomong itu ikan-ikan di sana?" ujar Kafka dengan posisi duduk di samping Alta, lalu menyenderkan kepalanya di bahu Alta.
Detik itu juga Alta langsung menengok, mendorong kepala Kafka pelan. "Gak usah nyender, berat." Ketusnya.
Mendengar nada bicara Alta yang ketus membuat Kafka tersenyum tipis. "Aku minta maaf ya sayang, please maafin aku" memohon, agar Alta memaafkan nya.
"Ishhh, nyebelin lo"
"Kalau mau senyum, ya senyum aja, Be. Gak usah pakai di tahan-tahan. Kalau mau marah ya marah nya jangan bikin gemes."
__ADS_1
"Apaan sih lo."
Tiba-tiba kedua tangan Kafka meraih tangan Alta, membuat cewek itu menatap nya. "Marah nya jangan lama-lama dong, kan aku udah minta maaf dari tadi. Emang nya kamu gak kasihan apa sama aku. Nih liat udah babak belur, di ketusin pacar sendiri, aku sedih."
Ketika lo gue berubah menjadi aku kamu, ternyata bagi Alta damage nya bukan main.
"Salah lo sendiri lah, apa-apa langsung gelut, apa-apa main tonjok." tanpa sadar Gadis itu jadi mengomel. "Gue mau lo jangan suka berantem, jangan suka buat masalah dan bikin onar, bisa?"
Kafka mengangguk "Bisa, buat kamu."
Kini giliran Alta dibuat salting oleh Kafka. "Gausah aku kamu lah, gak pantes juga buat lo"
Kafka terkekeh, "Jijik sendiri juga jadi nya." cowok pemarah yang biasanya tidak sabaran, kali ini hanya karena ucapan seorang gadis yang duduk di sampingnya itu menjadi penurut. "Jadinya dimaafin nih?"
Alta tersenyum, lalu mengangguk.
"Ya sudah, sini peluk."
Alta langsung saja mengikis jarak diantara mereka, menenggelamkan kepalanya di dada bidang Kafka. "Gue gak mau lihat lo kaya gini kaf, pasti sakit kan? Kecuali mendesak dan terdesak. Lo boleh deh nyalurin hoby berantem lo, gue janji gak akan ngelarang."
"Sakit nya sedikit, Be."
"Bohong lo, gue tau pasti itu sakit. Kenapa sih lo seneng banget babak belur begini?" ucap gadis itu sambil mendongakkan kepalanya melihat wajah Kafka.
"Kalau gue kaya gini, mungkin lebih banyak dapat perhatian, Be." tersenyum lalu mengecup pucuk kepala Alta.
"Kaf?"
"Iya"
"Dosa gak sih kalau gue ngehujat pacar gue sendiri dengan kata-kata yang kasar?"
Kafka tertawa lepas, "Kaga Be, gue yang nanggung dosa lo deh. Gue kan pacar yang baik."
"NAJIS, PD BANGET SIH." teriak Alta, memutar bola matanya sebal.
"Udah gue bilangin, marah lo tuh bikin gemes."
"Terus lo mau apa?"
"Mau makan lo hidup-hidup." ucap Kafka ngegas sambil memiting kepala Alta, jadi gemas sendiri.
"Udah seru-seruan bareng nya. Kita makan malam dulu, Papa udah nunggu kalian berdua buat makan bersama." seru Gaby yang berdiri di depan pintu kaca besar yang menghubungkan ruang tamu dengan taman samping rumah Alta.
Atensi keduanya beralih kepada Gaby. "Ganggu orang pacaran aja" ejek Alta lalu langsung bangun dan mengulurkan tangannya untuk membantu Kafka.
__ADS_1