
•Happy Reading•
"ANJ*NG!!!" umpat Prince berkali-kali.
PRAAAANG
Cowok itu melemparkan asbak beling yang berada di meja ruang santai ke arah sebuah kaca besar yang terletak tepat di depan nya. Seakan masih belum puas melampiaskan rasa amarah nya.
"BANGS*T" murka Prince. Ia terus-menerus menghantamkan kepalan tangannya yang kuat ke dinding, hingga menyebabkan suara tulang yang di balut sebuah kulit dan tembok terdengar mengerikan saling beradu.
"LO PIKIR LO SIAPA, BISA BIKIN GUE KAYA GINI. LO PIKIR LO HEBAT BISA BUAT GUE SEBERANTAKAN INI!! BRENGS*K LO, CEWEK BRENGS*K, ALTA. LO BANGS*T TAU NGGAK!!"
Darah menetes deras dari buku-buku tangan nya yang sobek dan terlihat begitu menyakitkan. Tulang beradu menghantam dinding berulangkali di iringi dengan umpatan yang keluar dari mulutnya. Ia bahkan seperti tak merasakan sebuah sakit, mati rasa atau mungkin ia lupa bagaimana rasa dari sebuah kata yang bernama "Sakit", semenjak sakit hati yang ia rasakan akibat dari bentakan demi bentakan yang keluar dari mulut gadis itu tadi malam.
Kini pandangan matanya mengarah pada salah satu kaki tangan Volzer "JOEL" panggilnya.
Joel dengan refleks ketika namanya di serukan pun langsung berjalan kearah prince cepat tapi dengan rasa takut. Ia takut jika menjadi sasaran amukan pemuda itu. Pemuda itu jika sudah marah seperti ini bagai kerasukan setan, tak terkendali.
"GUE MINTA DALAM WAKTU DUA JAM, LO UDAH HARUS BAWA ORANG ITU KE HADAPAN GUE!! SIAPAPUN ITU, SERET! ATAU LO YANG TANGGUNG AKIBATNYA. GUE GAK MAU NAMA GUE RUSAK KARENA HAL YANG NGGAK PERNAH GUE LAKUIN. JELAS LO?"
Joel menganggukan kepala mengerti. Dengan gerakan cepat ia melangkah membawa anggota nya untuk diberikan tugas penting sesuai mandat Leader mereka.
__ADS_1
...****************...
Sementara di area markas Waldemarr, tepatnya di ruang tengah semua sedang berkumpul untuk membahas permasalahan tentang sabotase motor Leader mereka. Yang di pimpin oleh Gaishan sebagai Accomplice. Ya mereka langsung memutuskan untuk kembali ke Jakarta pagi hari nya, setelah dari ke jadian kecelakaan Kafka malam itu. Tak lupa juga sebelum nya, pun mereka memaksa mengobati Leader mereka, membawa ke rumah sakit terdekat agar luka-luka itu tidak terinfeksi.
"Lo udah bawa barang bukti yang kita temukan di TKP bukan?"
Chalief langsung menjawab pertanyaan yang Gaishan lontarkan "Udah Gaish, sesuai dengan arahan yang di berikan Sanz tadi. Kita udah bawa ke kantor Uminya Aleshaqi buat di periksa lebih lanjut. Tinggal kita tunggu hasil nya yang kemungkinan besar selesai malam ini dan besok pagi nyokapnya Aleshaqi bakalan ngabarin. kita bisa tau sidik jari siapa yang terakhir ada di barang bukti." Jelas Chalief.
"Bagus, sekarang kalian semua istirahat."
"Siap Bos"
...****************...
"Jangan terluka lagi." tutur Alta, mengusap pipi Kafka yang tidak terluka dengan begitu lembut.
"Maaf, sempet buat lo khawatir tadi. Tapi gue udah gak apa-apa sekarang." ujar Kafka masih dengan senyum mengembangnya.
"Gue gak suka saat lo bilang gak apa-apa padahal lo kenapa-kenapa, kaf! Buat apa gue ada di deket lo tapi lo selalu gak seterbuka itu sama gue. Lo bisa bilang ke gue kalau lo lagi gak baik-baik aja. Lo bebas berkeluh-kesah ke gue."
Kafka terdiam sambil menikmati sentuhan kecil yang Alta berikan di pipinya yang terus saja di usap. Pemuda itu kembali tersenyum, "Gue berjanji akan seterbuka itu sama lo. Gue akan bilang kalau gue lagi tidak baik baik aja. Sini naik, tidur di sebelah gue, lo pasti capek kan?"
__ADS_1
Alta menurut, ia naik ke atas bed dan langsung ikut membaringkan tubuhnya di samping Kafka. "Gue nggak butuh janji, tapi gue butuh sebuah bukit nyata."
"Iya Queen Bos cantik, bawel banget sih"
Alta mengerucutkan bibirnya "Mulut lo kaya gulali tau nggak!"
"Em, kenapa kaya gitu?"
"Iya, manis. Selalu berhasil bikin gue jadi salah tingkah." tutur gadis yang tengah terbaring dengan posisi miring ke arah Kafka. Yang di respon Kafka dengan tertawa nyaring. "Udah nggak lancar lagi ya, kaya jalan tol."
"Yang itu juga, masih."
"Can i prove it? (Bisakah gue membuktikan nya?) Kafka memiringkan kepalanya dan menarik kepala Alta pelan. Hidung mancung mereka bertabrakan. Pandangan mata keduanya saling berbagi, hingga sampai saat nya Alta memejamkan mata memberikan isyarat untuk mempersilahkan Kafka membuktikan. Bibir gulali yang rasanya manis, justru lebih sibuk menyes*pi tiap titik bibir bon cabe milik Alta, melum*tnya dengan begitu pelan. Sesekali memberikan gigitan kecil. "Pegel" bisik Alta disela aktivitas nya barusan.
Kafka terkekeh geli, Bibir rasa gulali kembali ia persatukan dengan bibir rasa bon cabe. Pemuda berwajah tampan itu tak henti-hentinya memainkan bibir Alta sambil mengambil posisi ternyaman di ikuti oleh gadisnya yang juga mengambil posisi ternyaman tanpa melepaskan pautan bibir mereka.
"Kaf, nanti ada yang masuk." seru gadis itu pelan setelah pautan bibir mereka terlepas.
Kafka menggeleng. "Nggak akan ada yang berani masuk tanpa seizin gue."
Gadis itu tersenyum kecil sambil memainkan rambut Kafka, Kafka lagi dan lagi menyapu bersih bibir gadisnya. Ci*man itu kini berlanjut mata yang semula terpejam kini saling tatap.
__ADS_1
"Istirahat dulu disini. Nanti sore baru gue suruh Gaishan atau Sanz buat anterin lo pulang."
Alta mengangguk mengerti, memposisikan dirinya kembali terbaring di sebelah Kafka dan mulai beristirahat sejenak.