KAFKA

KAFKA
DIA PIKIR PANEN BUAH


__ADS_3

•Happy Reading•


Sebuah notifikasi pesan di handphone milik Kafka berbunyi. Dengan segera Kafka menggeluarkan ponselnya dari saku celana.


Si Singa🦁 : Bagaimana untuk undangan gue kali ini? Akan kah seorang Bos besar dari Waldemarr akan memberikan kedua bola matanya secara langsung? Atau mau mundur?


Kafka menggenggam handphone miliknya dengan sangat kuat. "Bangs*t !!!" gumam nya datar.


Semua netra murid yang berada di kelas langsung menengok ke arah meja Kafka akibat seruan pemuda itu.


"Kafka?" panggil Bu Berta.


"Emm."


"Barusan kamu berbicara?" tanya Bu Berta lagi.


"Enggak, Bu." jawab Kafka pelan.


"Oh, Ibu pikir kamu bicara tadi. Ya sudah silahkan di lanjutkan kembali dan jangan ada yang berisik. Kalian paham?"


"Paham Bu!!" seru semua murid kelas IPS¹.


Ketua Zygmunt sudah mengkibarkan bendera perang terlebih dahulu. Itu artinya mereka sudah siap menerima konsekuensinya sendiri, entah menang atau kalah itu urusan belakangan. kalau kata Ali, "SATU DARI KAMI KAU LUMPUHKAN, SEPULUH DARI KALIAN KAMI RATAKAN. MENANG URUSAN BELAKANGAN, YANG PENTING PERTAHANKAN HARGA DIRI. KARENA HARGA DIRI, HARGA MATI !!"


"Kaf, gue denger lo mau perang ya? Emangnya masih musim? Kita itu udah merdeka kaf, ngapain sih harus perang lagi." bisik Alta.


"Huufft !!" Kafka menarik napas nya perlahan. Ia tidak habis pikir dengan gadis di sebelah nya itu. Mana ada perang musiman, dia pikir panen buah.


"Kaf, lo dengerin gue gak sih?"


"Emm,"


"Gue boleh ikut gak? Gue mau nonton lo berperang."


"Lo kira zaman penjajahan, BERPERANG !!!" ungkap Kafka dengan penuh penekanan di kata berperang.


"Boleh ya??"


"Gak !!!"


"Boleh dong kaf? Lo ganteng banget asli."


"Gak !!!"


"Please??" tersenyum manis ke arah kafka, meskipun Kafka tidak melihat, bahkan meliriknya.


"Gak !!!"


"Pokoknya gue mau ikut, gue bosen Kaf dirumah. Yang lain juga nanti pada ikutan." protes Alta kesal.


"Enggak, emangnya lo pikir mau nonton film layar lebar? Kalau lo bosen, ya lo bisa jalan-jalan aja sama Jessie ke mall."


"Gue maunya Ikut lo."


"ENGGAK, KALAU GUE BILANG ENGGAK, YA ENGGAK !!! LO PIKIR GUE MAU BIKIN FILM LAGA??" bentak Kafka.


Sontak, semua netra murid kembali menengok ke arah meja mereka berdua.


"Kafka, Alta?? Ada apa kok kalian berdua ribut-ribut?"


"Kafka nih Bu, gak mau a..." suara Alta terhenti seketika.


"Bisa diem nggak lo?" sarkas Kafka sambil membekap mulut Alta.


"Gak ada apa-apa Bu. Tadi Alta minta contekan ke saya."

__ADS_1


"Bo...bo...boho..." ucap Alta susah. Ia hanya mampu memelototi Kafka tanpa bisa berbicara karena mulutnya masih di bungkam.


"Emmp... Empth...!!" terpaksa Alta menggigit jari tangan Kafka.


"Aauuwwhh," ringis Kafka pelan. "Sakit, Bangs*t.!!"


"Lagian, bukannya di lepas. Gue gak bisa napas bodoh." protes Alta.


"Lo ya,"


"Kalau kalian berdua masih ribut-ribut, lebih baik kalian keluar dan tinggalkan ulangan kalian di meja kalian masing-masing. Saya anggap kalian sudah selesai." seru Bu Berta naik satu oktaf dari ucapan sebelumnya.


"Jangan Bu, kita masih belum selesai." Alta.


Tringggg (bunyi bel pulang)


"Selesai, atau tidak selesai, silahkan bereskan peralatan kalian dan tinggalkan kertas ulangan itu di atas meja kalian. Lalu kalian boleh pulang." perintah Bu Berta tak mau terbantahkan.


"Arga dan Maurin bisa bantu ibu?"


"Bisa Bu"


"Tolong kalian kumpulkan kertas ulangan teman kalian semua dan bawakan keruang guru."


"Baik Bu" seru Maurin dan Arga bersamaan.


...****************...


Senja menyapa, mengikis warna biru di langit yang mendominasi dan menggantikan dengan warna jingga yang memanjakan mata.


Kafka memarkirkan kuda besi kesayangannya di antara jejeran motor khusus sebuah bangunan tua yang berkibarkan Bendera Pusaka kebanggaan Waldemarr.


Ya, bangunan itu adalah gedung yang di jadikan markas Waldemarr.


Sejak 15 tahun yang lalu, menjadi saksi sejarah awal generasi ke generasi pemimpin Waldemarr terbentuk hingga kepemimpinan Kafka sekarang.


Kafka melenggangkan kakinya menuju gerbang utama markas tersebut dan duduk di antara Sanz dan Ali. Menaikkan satu kakinya lalu memantikan api ke sebatang rokok dan melemparkan handphonenya ke meja.


"Pelan-pelan Bos, mahal itu." kata Ali.


Gaishan mengambil handphone yang Kafka lempar. Lalu, segera membaca pesan dari Leo bersamaan anggota inti lainnya.


"Wah gila, cari mati nih orang." seru Aleshaqi.


"Ini sih namanya, gali lubang kuburan nya sendiri." Ali menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


"Tapi, sebelum itu. Gue mau tanya satu hal Bos? Kenapa bisa Leo meminta kedua bola mata lo dengan alasan lo sudah nyuri pandangan nya si Luna? Bukan kah Kemarin, satu hari full itu lo gak ketemu sama Luna?" Sanz begitu sangat penasaran.


Kafka membuang batang rokoknya yang masih tinggal setengah itu.


Kafka tidak menjawab sedikit pun ucapan Sanz. Hanya menggedikan bahunya sebagai jawaban.


"Sial*n lo Kaf, gue nanya serius. Malah jawaban lo gitu doang." kesel Sanz.


"Mau tahu enggak? Kalau kemarin itu gue dapat fakta menarik yang bakalan mengejutkan kalian." ungkap Aleshaqi tiba-tiba.


"Apa? Apa woy." jawab Sanz, Ali, dan Gaishan kompak. Biasanya yang selalu update informasi terakurat itu Sanz, tapi justru kali ini Aleshaqi lah yang malah mendapat fakta. Sehingga menarik perhatian ketiga inti Waldemarr.


"Gue, ngeliat Bos gengnya Waldemarr. Dia lagi makan sama seseorang di warung seafood gang."


"Lah, Bos Waldemarr kan Bos kita, ogeb."


"Cewek or cowok?" kini giliran Gaishan yang kepo.


"Cewek."

__ADS_1


"Seriosly?"


"Ya, dan lo semua mau tau ceweknya siapa?"


"Siapa??"


"Nungguin ya??" ledek Aleshaqi cengengesan.


"Anj*ng !!"


"Bang*e lo. Gue penasaran nj*rr."


Aleshaqi tertawa senang. "Suasana yang begini yang gue demen. Apalagi kalau suasananya udah mancing keributan, udah paling demen dah gue."


"Akh, lama lo." seru Ali, menoyor kepala Aleshaqi.


"Slow, gue kasih tau. Tapi jangan berebut."


"Cot, cepetan!"


"Cewek nya, anak baru di kelas kita."


"WHAT'S?" teriak Gaishan kencang.


"ALTA??" teriak Ali dan Sanz kaget.


"Bener Bos yang di bilang Alesh, kalau lo makan sama Alta kemarin?"


"Iseng." jawab Kafka santai.


"Hah? Gimana ceritanya Bos?" kata Ali yang sebenernya sangat penasaran.


"Biar rame." balas Kafka Asal.


"Gila aja cuman iseng." timpal Sanz.


Aleshaqi mengernyitkan keningnya, pertanda ia bingung. Baru pertama kalinya seorang Kafka membicarakan tentang perempuan dan bahkan sampai mau mengajaknya makan. "Lo waras kan Bos? Enggak lagi sakit karena frustasi?"


"Beneran udah pindah haluan nih ceritanya? Apa karena penolakan terus yang di terima?"


"Widih, tumben ngemengin perempuan." tanya Gaishan dengan nada sedikit menggoda.


"Sanz yang nanya." Kafka menjawab seadanya sambil sibuk main game di ponselnya.


"Iya juga sih," Ali dan Gaishan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tapi tetap saja, rasanya Aneh.


"Tringggg." bunyi notifikasi pesan dari ponsel Kafka.


"Si singga 🦁 : Jangan lupa jam tujuh malam nanti. Gak datang, gue anggap Zygmunt yang menang!!


"Sial*n" geram Kafka.


"Kenapa Bos.?"


Lagi-lagi Kafka melempar handphone miliknya ke meja.


"Aduh, mendingan buat gue deh itu Bos. Gak takut lecet apa tu handphone mahal."


"Sial*n, emang anak Dajjal. Gak semudah itu mengklaim bahwa kalian yang akan menang."


"Jadi gimana, Bos?" tanya Gaishan setelah membaca pesan itu.


"Mereka bukan level kita, gak perlu bawa semua pasukan Waldemarr." jelas Kafka acuh.


Mereka mengangguk paham, "Jadi kita terima tantangan mereka?" Noah ikut bersuara.

__ADS_1


KAFKA tersenyum Devils. "KITA TERIMA JAMUAN MEREKA DAN BERSIAP." Intrusi Kafka tegas.


__ADS_2