
•Happy Reading•
Langit yang sekiranya tadi terlihat menghitam menandakan akan segera hujan, tiba-tiba saja menjadi begitu cerah.
Alta menyeka keringatnya, ia masih terus berjalan di atas trotoar jalan menuju komplek perumahannya karena ban ojek online yang Alta tumpangi tadi pecah. Iya tidak ingin menunggu terlalu lama sehingga ia akhirnya memilih berjalan kaki menuju komplek perumahannya. Karena jarak tempuh untuk sampai ke sana sudah sangat dekat.
Bugkh !!!
"NJIRRR SAKIT, OGEB." teriak Alta terkejut bukan main saat tiba-tiba saja seorang pemuda jangkung menabraknya.
"So... Sorry gue gak sengaja." pekik pemuda itu sambil bangun.
"KAFKA?" jerit Alta menyeruak kencang, pasalnya ia terlihat sangat panik melihat wajah pemuda itu yang sudah terlihat lebam dan sudut bibir kirinya sobek sehingga terdapat darah.
"Alta? Cepet lo bangun Al." ucap Kafka membangunkan Alta sambil menoleh kebelakang takut-takut jika yang mengejarnya tadi semakin dekat.
"Eh kaf, tapi kenapa?" sanggah Alta yang masih bingung, namun ikut bangun karena di tarik paksa oleh Kafka.
"Ya udah ayo lo ikut gue dulu."
"Tapi kenapa sama muka lo?" Alta masih saja tak mau berlari mengikuti perintah Kafka yang menarik paksa tangannya untuk berlari.
"Gue di keroyok." katanya langsung sewot.
"Dikeroyok?" mata Alta langsung melebar sempurna.
"MAKANYA AYO CEPET LARI, LO MAU JUGA IKUT DI GEBUKIN KALAU LO DIEM AJA DI TEMPAT." Ucap Kafka ngegas.
Alta menggelengkan kepalanya, lalu ikut berlari heboh disamping Kafka.
"JANGAN KABUR LO, ANJ*NG!!" teriak segerombolan pemuda yang sejak tadi mengejar Kafka.
"Fu*k." umpat Kafka menengok kearah dimana suara itu berseru.
Mereka berdua langsung saja berlari bergandengan tangan dengan dibelakangnya terdapat segerombolan para pemuda yang memang sudah membawa segala macam rupa, mulai dari tongkat baseball, stik golf, dan beberapa kayu seperti Gagang sapu, mengejar mereka.
"Cepet Al."
"Gue udah enggak kuat lari lagi kaf, capek." gumamnya perlahan karena Alta sudah benar-benar sangat ngos-ngosan.
"Tahan, sampai kita agak aman."
"Mereka masih ngejar kita emang nya, kaf? gue beneran udah enggak kuat lari lagi ini."
Kafka menengok kearah belakang namun sudah tak terlihat lagi segerombolan pemuda itu.
"Ayo cari tempat aman."
Mereka berjalan menuju ke arah bangunan tua yang memang sudah tak berpenghuni.
"Lo yakin kita aman kalau ngumpet di sini?" tanya Alta yang memang sudah duduk selonjoran di lantai bangunan kosong, tempat mereka mengumpat sambil terus saja mengatur ritme nafasnya.
"Sstth!!" pemuda tampan yang dipenuhi luka itu menatap wajah Alta, garang.
__ADS_1
"Lo kenapa bisa di kejar-kejar sih?" tanya Alta menuntut penjelasan Kafka.
"Gue enggak tau." balasnya jutek.
Alta mendelik tak percaya atas ucapan Kafka barusan. "Mana mungkin lo gak tau, Kaf?! Jelas-jelas mereka ngeroyok lo. Bukan nya tadi lo pulang bareng Luna. Apa jangan-jangan ini ada kaitannya sama Leo yang tau kalau Luna balik bareng lo?" tanpa sadar Alta jadi mengomel. "Iyakan, ini ulah nya si Leo?"
"Ini bukan perkara tentang gue yang balik bareng Luna, orang tadi gue nganterin Luna ke Pelita school. Mereka juga bukan anggota Zygmunt. Gue enggak tau apa masalah nya dan kenapa mereka nyerang gue."
Alta frustasi mendengar penjelasan Kafka dan menghela nafas panjang. "Kenapa gue jadi sial sih hari ini, kenapa juga gue harus di tabrak lo." ucapnya berbohong. Pasalnya hati dan pikirannya tak sinkron, hatinya agak sedikit senang bisa sedekat ini jika tidak berada di lingkungan sekolah.
"Lagian kenapa juga gue ikut lo lari, padahal kan yang di kejar mereka, itu lo dan mereka juga gak kenal gue. Jadi nyesel gue ikutan lari bare....hmpp" mata Alta membelalak menatap nyalang ke arah Kafka, disaat tanpa komando tangan kekarnya membekap mulut Alta rapat-rapat dengan satu tangannya. Benar saja segerombolan pemuda yang mengejar mereka tadi berada dekat dengan bangunan kosong tempat mereka bersembunyi. Telinga Kafka memang sangat begitu tajam sehingga pergerakan sedikit saja ia bisa mengetahuinya.
"Gue yakin banget kalau mereka kearah sini tadi." seru pemuda berkulit hitam.
"Bangs*t, tuh cowok larinya cepet banget." seru pemuda bermata sipit yang sudah berdiri di depan bangunan.
Alta kali ini memejamkan matanya rapat, pun dengan Kafka yang juga memejamkan mata masih membekap mulut Alta. Keduanya mungkin tidak sadar jika kepala mereka saling menempel dan merapatkan tubuh satu sama lain.
"Ayo cepet cari, gue yakin tuh cowok belum jauh. Jangan sampai tuh cowok kabur, yang ada nanti kita yang akan jadi sasaran." kini pemuda berkulit putih mengintruksi.
"Siap Bos."
Segerombolan pemuda yang mengejar Kafka pun pergi meninggalkan bangunan itu.
"Lepas kaf, gue gak bisa napas." seru Alta.
Dengan gerakan cepat Kafka melepaskan tangannya dan bergeser bangun untuk menjauh.
namun mereka tidak terlalu memastikan kembali kalau mereka memang sudah benar-benar aman.
BRUAKK!!
Dengan gerakan cepat Kafka melepaskan tendangannya ke arah pemuda yang memang sudah berjalan dekat kearah pintu. Sementara delapan pemuda lainnya nampak melebarkan mata dari kejauhan.
"ALTA LARI." komando Kafka sambil menarik lengan Alta. Dengan cepat Alta pun mengangguk padanya dan ikut berlari bersama.
sesekali Alta menengok kebelakang memastikan apakah mereka masih mengejar atau tidak, dan mereka masih mengejar.
"KAFKA BANGS*T, JANGAN LARI LO."
Kafka semakin mengeratkan genggaman tangannya menarik kuat-kuat agar Alta tidak tertinggal olehnya. Mereka berlari kearah perkampungan, Alta sudah mulai kembali kelelahan sesekali ia mengatur ritme napas nya, namun masih terus berlari memegang erat genggaman tangan Kafka.
"Gue capek, Anj*rr. Kenapa lo enggak ngelawan aja sih. Katanya lo Bos geng yang terkenal dan di segani. Masa ngelawan gerombolan segitu aja takut sih, lo. Mana yang katanya jago berkelahi?" kesel Alta.
"Lo enggak liat mereka banyak dan bawa senjata, ogeb. Lo kira gue debus yang bisa kebal. Gue belum siap ngelawan mereka main nyerang gue gitu aja. Sedikit kewalahan lah gue." seru Kafka sambil terus berlari.
"Alasan lo, berarti lo gak jago." ucap Alta meremehkan, yang langsung dibalas dengan tatapan sengit cowok itu.
"Kaf, kenapa kita ke sini?" Alta kebingungan saat Kafka menariknya masuk kedalam sebuah warung indomie di pinggir kali.
"Kayanya udah aman, mereka udah gak ngejar kita lagi. Tapi sebagai antisipasi kita istirahat aja dulu disini."
Mereka masuk kedalam dan duduk.
__ADS_1
"Kaf,"
"Apa?"
"Gue haus."
Dengan cekatan kang Eman langsung menuangkan Alta sebuah air putih dalam gelas bening kecil tanpa perintah. Alta yang memang terlihat sudah haus langsung menegaknya sampai tandas. Kafka yang melihat itu pun refleks langsung tersenyum, meskipun terlihat sangat tipis bahkan hampir tak terlihat.
"Kang boleh minta lagi gak?"
"Boleh atuh, Neng." kang Eman kembali menuangkan air putih dalam gelas bening yang Alta pegang.
"Terimakasih ya kang."
"Iya, sami-sami, Neng. Kayanya haus banget?"
He..he.. "Iya, saya habis di ajak lari maraton, Kang."
"Nanggung, kenapa gak sekalian gelasnya lo Telen." Alta melotot, tidak tahan untuk tidak menabok Kafka.
"Lo kira gue debus makannya beling." katanya sewot.
"Aa, enggak minum?" tanya Kang Eman yang memang mengenal baik Kafka.
"Boleh deh Kang, tapi saya juga pesen es ovaltine nya satu. Kaya biasa ya."
"Siap A, si Enengnya enggak pesen apa-apa?"
"Enggak Kang." sahut Alta.
Kang Eman mengangguk, lalu kembali ke dapur untuk membuatkan pesenan Kafka.
"Lo akrab banget sama pemilik warung ini."
Mang Eman yang sedikit mendengar obrolan mereka hanya tersenyum.
"Emm, gue sama anak-anak Waldemarr sering nongkrong di sini."
"Oh, pantesan akrab banget. Tapi lo tau dari mana kalau di perkampungan ini ada warung indomie?"
"Daerah ini enggak jauh dari perumahan rumah gue, jadinya gue tau."
"Oh." Alta hanya ber oh ria mendengar penuturan Kafka.
"Habis ini kerumah gue dulu, baru gue anterin lo balik."
"Oke, tapi pas sampai di rumah lo gue obatin luka -luka lo dulu ya."
"Gak usah." jawab Kafka ketus.
"Gue akan tetep maksa, karena gue juga enggak suka penolakan."
"Lo berani sama gue?"
__ADS_1
Alta menggelengkan kepalanya.
"Kalau gitu, enggak usah sok perduli." ucap Kafka kembali. Membuat suasana nya hening tanpa ada pembicaraan lagi.