KAFKA

KAFKA
HATI LO MASIH UNTUK NYA


__ADS_3

•HAPPY READING•


Kafka sudah berada di depan rumah Alta dengan keadaan yang benar-benar khawatir, namun pemuda itu berusaha agar terlihat baik-baik saja. Kafka menekan beberapa kali bel rumah Alta tetapi tidak ada yang keluar untuk membukakan pintu. Bahkan, Kafka sedari tadi terus menghubungi nomor gadis itu dan berkali-kali pula operator yang menjawabnya.


Kafka menekan sekali lagi bel rumah itu bergantian dengan mengetuknya cukup keras. Namun juga tidak ada tanda-tanda akan ada yang membukakan pintu.


Tak kehabisan akal, berkali-kali pula ia menghubungi mama Gabby. Jawabannya pun sama seperti nomer Alta, yang artinya nomer tersebut pun sedang tidak aktif. Kafka kemudian mencari nomer kontak bertuliskan Bang Shaka, beruntung pada deringan ke tiga pria itu mengangkatnya.


"Hallo, Bang sorry gue ganggu. Lo lagi nggak di rumah ya Bang?"


"Gue masih di kampus Kaf ada apa?"


"Gue di depan rumah lo nih Bang, tapi kok nggak ada yang bukain pintu ya?"


"Bokap, Nyokap, gue lagi ada acara di Bali dan lusa baru pulang. Emangnya lo gak lagi sama Alta?"


"Handphone nya mati Bang. Ini gue ketuk gak ada yang bukain pintu."


"Mungkin, Alta lagi gak ada di rumah. Coba lo cari ke rumah nya Jessie aja. Sorry Kaf, gue harus tutup telponnya karena acara rapatnya sudah mau di mulai."


"Oke Bang, sorry ya kalau gue udah ganggu lo." Kata Kafka sekaligus mengakhiri telponnya.

__ADS_1


Kafka kembali menaiki motornya dan melajukan motor sport itu ke bahu jalan dengan kecepatan tinggi menembus rintikan hujan menuju kediaman Cherry dan Jessie. Tetapi hasilnya pun sama Alta tak berada di sana.


...****************...


Butiran rintik hujan jatuh menghantam ke permukaan bumi dengan begitu keras, nampak seorang Gadis cantik tengah basah kuyup duduk di hamparan rumput hijau, mengabaikan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Tidak seperti kebanyakan orang yang berusaha berlarian untuk meneduhkan diri, ia justru membiarkan tiap tetesan demi tetesan air hujan menusuk ke setiap inci kulitnya.


Isak nya semakin kencang takala ia kembali mengingat apa yang terjadi hari ini. Niat hati ingin memperbaiki hubungannya dengan sang kekasih. Maka, ia berusaha untuk mengalah demi terus mempertahankan hubungan nya.


Pikiran nya melayang tepat beberapa menit lalu, lagi-lagi ia melihat dengan jelas memakai mata kepalanya sendiri.


Alta menelan salivanya, mencoba berjalan mendekat ke arah rumah besar itu.


Langkahnya terhenti kala melihat pemandangan di depan sana, ia menyaksikan dua orang berjenis kelamin berbeda tengah berhadapan, si perempuan tampak sedang bersender nyaman di bahu tegak Kafka, perempuan itu dengan tidak tahu malunya, memeluk sangat erat bahkan mencoba mendekatkan wajah nya kearah wajah pemuda tampan yang sedang berdiri di hadapannya itu. Keduanya terlihat begitu sangat romantis dengan pria yang tidak menolak sama sekali dan hanya terdiam.


Keduanya sama-sama cukup terkejut dengan tindakan Alta. Pemuda itu terkejut kala kekasihnya memergoki ia dengan keadaan sedang di peluk oleh gadis lain bahkan hampir di cium, sedangkan si wanita merasa terkejut ketika ia tak menyangka kalau gadis itu bisa seberani ini.


"A... Alta? Kok kamu disini?" Aluna terbata-bata, gadis itu berpura-pura terkejut padahal ia begitu senang melihat Alta memergoki ulahnya.


"Seneng ya? Tapi kok pura-pura kaget gitu? Ah, ini kan yang lo mau?" Tanyanya dengan intonasi yang begitu mengejek.


"Kamu kenapa tiba-tiba bicara nya kaya gitu? Aku nggak ngerti loh Al maksud kamu apa?" Balasnya takalah mengejek dengan senyuman tipis yang terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


"HYPOCRITE LO, DASAR MEDUSA. GUE BENER-BENER NGGAK NYANGKA TERNYATA LIDAH LO ITU BERACUN." teriak Alta mengumpati gadis itu tepat di wajahnya, membuat pemuda yang tidak lain adalah Kafka terkejut mendengar itu.


Ia langsung meraih jemari Alta. Menautkan jemarinya dengan jemari tangan lentik sang kekasih dengan sedikit paksaan, menarik gadisnya itu juga dengan sedikit paksaan untuk segera menjauh, membawanya masuk kedalam rumah.


Kafka berjalan begitu cepat dengan raut wajah datar. Sementara Alta berusaha memberontak, melepaskan tautan jari Kafka. Tapi rasanya percuma, kuasanya tak sekuat kuasa sang kekasih.


"Lepasin gue, gue mau pulang." protes Alta, membuat pemuda itu terus saja mengabaikan nya dan malah justru membawa Gadis itu kedalam kamarnya.


"Gue mau pulang, Kafka." Katanya memberanikan diri, menatap mata Kafka yang sudah tercetak kilat amarah yang tertahan.


"Lo kenapa? Kenapa sekasasar itu sama Aluna?" Kafka tidak habis pikir mengapa Alta bisa bersikap kasar seperti ini, setahunya Alta tidak memiliki masalah terhadap Aluna dan mereka baik-baik saja.


"Lo yang kenapa?" Nada bicara Alta meninggi, ia tidak suka dengan dengan pertanyaan Kafka yang terkesan membela gadis itu


Kafka menghela napas kasar, mengusap wajahnya pelan mencoba mencari kesabaran pada dirinya sendiri demi tidak kelewat batas yang akan menyakiti orang yang sedang berhadapan dengannya.


Terdiam, Alta hanya terdiam tanpa mau mengatakan apapun. "Lepasin gue Kaf!"


Mendengar penuturan dari gadisnya yang terdengar ambigu, Kafka menukikan alisnya dengan tajam. Tak terima dengan perkataan gadisnya yang terdengar seperti ingin di lepaskan dalam artian berbeda. "Apa maksudnya?"


"Gue paham sekarang, ternyata hati lo masih buat dia. Karena dia bukan orang baru dalam hidup lo. Beda sama gue bukan? Jadi lepasin gue dan biarin gue pergi." Katanya sambil melepaskan tangan yang masih di pegang Kafka lalu berlari keluar kamar dan pergi.

__ADS_1


Kafka mengerutkan keningnya bingung, kepalanya terasa pusing dengan tingkah Alta yang tiba-tiba saja menjadi seperti ini. Ia hanya bisa menatap kepergian Alta dengan raut wajah datar namun terlihat membingungkan pemikirannya.


__ADS_2