KAFKA

KAFKA
LAGI-LAGI BIKIN KESEL PART II


__ADS_3

•Happy Reading •


"Ngapain sih dia masih disini? Kenapa nggak pulang aja!" Keluh Alta pelan, saat Kafka sedang memasukan motornya ke dalam garasi bersama dengan Gaishan.


Jessie menoyor kepala sahabatnya itu dengan gemas dan pelan agar otak Alta dapat berfungsi kembali. Dia lupa atau bagaimana? Jelas-jelas ia sendiri yang meminta cowok itu agar menginap menemani dirinya tadi, mengapa sekarang seperti ini. "Pakek nanya lagi lo. Bukan nya lo yang nyuruh Kafka kesini."


Alta tertawa "Oh iya lupa,"


Jessie menatap Alta dengan heran sambil mulai melangkah masuk ke dalam rumah.


"Be!!"


Panggilan itu hampir saja membuat Alta berhenti melangkahkan kakinya, Alta berusaha untuk tidak merespon pangilan itu dan sebisa mungkin untuk ia tak berhenti.


"Be, please listen to me." Kata Kafka mulai membujuk Alta.


Alta tak mau merespon ucapan Kafka. Gadis itu masih saja keukeuh melangkah. Agar tak termakan bujuk rayu Kafka.


"Be, please."

__ADS_1


Kafka menyentuh jari tangan Alta dengan sangat lembut dan hati-hati. Namun dengan cepat di tepis oleh Alta.


Jessie dan Gaishan hanya bisa menatap prihatin dua sejoli itu dari arah belakang. Mereka masih saja setia berjalan mengikuti mereka sampai masuk kedalam ruang keluarga rumah Alta. Jessie merasa tak tega jika Kafka di abaikan oleh sahabat nya seperti itu. Jessie pikir Kafka pasti punya alasan mengapa sampai ia membuat Alta menunggu. Toh, memang cowok itu sebenarnya baik kepada siapapun terutama kepada seorang wanita yang memang membutuhkan bantuannya. Hanya saja kemarin-kemarin ia menjadi makhluk dingin kepada siapapun karena tak mendapatkan perhatian.


"Be, dengerin sebentar oke! Janji nggak akan lama. Gue gak mau lo salah paham lagi." Lengan Alta di tahan lembut oleh Kafka. Pemuda tampan itu bersikeras membuat Alta mau mendengarkan penjelasan dia.


"Salah paham? Gue emang udah salah paham Kaf. Karena apa? Karena lo terlalu lama buat gue nunggu. Apa gue nggak overthinking. Jarak rumah Aluna itu nggak butuh waktu satu jam buat lo pergi dan balik lagi ke seafood gang." Ucap Alta ketus.


Kafka malah tersenyum mendengar suara ketus Alta.


"Kenapa senyum?" Heran sekaligus kembali ketus.


Alta berusaha melepaskan tautan tangan mereka. Tapi, sekali lagi tenaganya tak sebanding dengan tenaga yang dimiliki oleh Kafka.


"Oke, sorry. Gak bercanda. Gue jelasin sebentar oke."


Akhirnya Alta menganguk setuju.


"Lo selesain dulu masalah lo berdua, baru gue ikut gabung lagi sama Jessie. Kita di teras depan." Seru Gaishan memotong, sebelum mereka kembali mendengar perdebatan kedua sejoli itu. Dan dengan secepat kilat Gaishan langsung menarik jemari tangan Jessie untuk segera pergi mengikutinya.

__ADS_1


Setelah kepergian Gaishan dan Jessie, Kafka kembali menatap wajah cantik di depannya dengan masih memasang wajah kesal yang juga menatap nya balik. "Gue jelasin sekarang oke?"


"Cepet, udah ngantuk."


"Gue lama bukan karena ngobrol atau bernostalgia yang seperti lo bilang tadi, be. Gue lama karena bantuin Ibu-ibu yang hampir di palak sama segerombolan pemuda di kompleks Anara. " Jelas Kafka jujur. Ia tidak mengada-ada.


"Beneran begitu?"


"Em, gue berani bersumpah!" Jawab Kafka dengan begitu serius.


Alta menghela napas, ia mengalahkan pandangan nya kepada Kafka. Toh, jika Kafka memang ketahuan berbohong nanti ia sendiri yang akan rugi. Pikir Alta.


Ketika Alta hendak berbalik pergi kearah dapur, sebuah tangan kekar lebih dahulu melingkar pada perutnya. Kafka memeluk Alta dari belakang. Alta melirik Kafka yang menumpukan dagu pada bahunya.


"Apa?" Tanya Alta dengan kekehan nya.


"Jangan ngambek lagi ya be, cowok nakal ini gak bisa kalau terlalu lama dibiarin sendirian tanpa Queen bos disebelah nya."


"Gue nggak bisa janji!!! "

__ADS_1


__ADS_2