
•Happy Reading•
Mereka bertiga sudah berada di lorong kantin gedung barat. Namun hari ini kantin terlihat begitu padat membuat beberapa kursi saja yang masih terlihat kosong.
"Tumben banget nih kantin kosong? Penghuninya pada kemana?" tanya Alta absurd.
"Kebalikannya ege, lu kira nih bocah semuanya setan. Sampe tak kasat mata." ketus Jessie dan membuat Cherry mendelik malas pada ucapan absurd sahabatnya.
"Alta." Panggil seorang gadis yang menyerukan nama Alta. Alta yang merasa kalau namanya di panggil seseorang pun tengah mengedarkan pandangannya mencari seruan tersebut.
"Ta sini," gadis itu kembali menyeruakan Alta dengan melambaikan tangannya. Ketika Alta menemukan arah suara yang sejak tadi memanggilnya, pun langsung berjalan menuju gadis yang memanggilnya itu.
"Luna." sapa Alta pada Luna.
"Sini Al, gabung di meja gue aja. Udah penuh semua mejanya, kalian bertiga doang kan? Masih muat nih." pekik Luna sambil menepuk bangku panjang di dekatnya.
"Guys, gabung sama Luna aja ya. Dari pada nggak ada tempat." Alta berseru, menanyakan kesetujuan kedua sahabatnya itu untuk mau bergabung dengan Luna.
"Lo kenal dekat Luna, Al?" tanya Jessie berbisik.
"Biasa aja, yang waktu itu gue pernah cerita ke kalian."
"Gabung gak? Atau mau di tempat yang lain?"
"Em, kita gabung aja." sahut Cherry dan Jessie kompak.
Alta yang mendapatkan persetujuan dari kedua sahabatnya pun langsung berjalan kearah dimana Luna dan Lily duduk.
"Lo bertiga udah pesen?"
"Belum sih, barusan gue nyari tempat dulu dan ini baru mau pes..." suara Alta terpotong saat terdengar samar-samar suara ribut-ribut.
BRUAKK!!
Seisi kantin kompak memekik kaget mendengar suara benda terjatuh yang begitu nyaring, begitu pun dengan Alta yang tatkala terkejut. Bahkan Lily sampai tersedak kuah bakso yang ia makan dan dengan segera Lily mengambil serta meminum es tehnya.
"Eh, ada apa sih?" tanya Jessie dan Cherry. Mereka langsung berdiri, melihat ke arah ribut-ribut tersebut.
"Kenapa?" tanya Luna yang juga ikut berdiri.
"Enggak tau, kaga kelihatan gue." Alta ikut kepo, ia langsung bangkit serta berlari heboh. Dan seketika itu juga pupil mata Alta di buat melebar, takala ia melihat Kennedy sudah tersungkur kebawah menubruk tong sampah kantin. Sementara Kafka berhasil menginjak dengan satu kaki di atas dada Kennedy.
"Bangs*t, ngapain lo nyepuin gue. Mau adu domba gue lo?"
"Bukan gitu Kaf, lo salah paham." jawab Kennedy yang sudah ketar-ketir.
"Anj*ng, salah paham lo bilang? Nih lo baca Whats*pp dari Leo." Alta di buat melongo saat Kafka melempar handphone miliknya ke wajah Kennedy.
"ANJ*R, PASTI SAKIT, GILA." seru Alta kencang.
Kafka yang berniat ingin kembali memukul Kennedy jadi terhenti mendengar seruan dari salah satu siswi yang berceloteh dengan suara kencang. Satu alis Kafka terangkat, menoleh pada siswi yang berani berseru ketika ia sedang bertindak.
Cowok itu tersenyum tipis bahkan terlihat mengerikan. Sedetik kemudian cowok itu melangkah satu langkah mendekati Alta.
__ADS_1
"Lo" tunjuk Kafka kearah Alta.
"Aduh Cherr, gimana nih." bisik Jessie.
"Udah cepetan kita bantuin Alta, Kafka udah nunjuk ke arah Alta noh. Bisa mamp*s tuh anak jadi dengdeng balado." kini Cherry pun ikut berbisik.
Cherry dan Jessie pun berlari kecil mendekat kearah Alta dan Kafka.
"Sorry, Sorry, Kaf. Mungkin Alta nggak tau kalau aturan Waldemarr itu salah satunya adalah jika lo lagi bertindak gak ada satu pun yang membela, bersuara, bahkan seorang siswi mendekat ke arah lo. Lo tau kan kalau Alta itu belum ada seminggu bersekolah di sekolah kita?" seru Jessie takut-takut dan berusaha menyelamatkan Alta dari amukan Kafka.
"GUE NGGAK PERDULI." Sentak Kafka pada Jessie.
"Bener Kaf yang di bilang Jessie, kalau Alta mungkin belum tahu peraturan Waldemarr." Gaishan.
Namun, Kafka tidak mau mendengar apapun alasannya. Siapa pun yang berani melanggar peraturan Waldemarr maka ia siap dengan apapun konsekuensinya bahkan sekalipun itu adalah seorang wanita. Ia berjalan melangkah melewati Jessie dan Cherry yang sudah pasrah dibuatnya. Dia mendekat ke arah Alta yang masih tak bergeming. Tanpa pikir panjang, Kafka langsung mendekatkan wajah keduanya. Mata Alta di buat melebar seperkian detik saat Kafka menatap datar tanpa ekspresi dan kini membuat wajah Alta panas seketika. Alta menahan napas gugup, sebelum akhirnya ia mundur satu langkah ketika ia tersadar bahwa wajahnya hanya sejengkal berada dekat dengan wajah Kafka, sehingga membuat mereka beradu pandang.
"A... Apa sih?" tanya Alta bingung.
Kafka tersenyum tipis bahkan hampir tak terlihat. "Harusnya gue yang nanya, bukan? "
"Hah?"
"Ada masalah sama lo?" tanya Kafka tanpa basa-basi.
Alta kembali menarik dirinya mundur satu langkah. "Y... Ya enggak ada sih, cuman gue lihatnya itu pasti sakit banget." jawab Alta sok berani.
Kafka terkekeh sinis mendengar penuturan gadis cantik di depannya ini.
"Udah tau sakit, apa lo mau coba?" hembusan napas segar berbau bubblegum menyeruak ke Indra penciuman gadis itu.
"Coba apa?"
"Coba, gue sambit pakai handphone?" semakin menggoda Alta.
"Gila lo, tapi silahkan aja kalau lo mau dan enggak punya malu." seru Alta menantang Kafka.
"LO NANTANGIN?"
"Lo pikir gue takut?"
Kafka menatap Alta dengan tatapan yang sulit di artikan. "MANA HANDPHONE GUE, SANZ?" seru Kafka naik Tiga oktaf.
"Tapi Kaf." ucap Sanz, ragu.
Sementara itu, Kennedy memanfaatkan peluang ini dengan berniat bangkit dan ingin kabur. Namun dengan sigap inti Waldemarr lainnya pun langsung menahan. ia mencoba mengadukan prihal Kafka yang tak sengaja berbincang di rooftop bersama Luna. Padahal Leo sudah terlebih dahulu mengetahui dari mulut Luna sendiri.
"Mau kemana lo? Mau coba-coba kabur?" sanggah Gaishan, menahan Kennedy untuk tidak bangkit.
"Siap-siap gali lubang kuburan nih gue kalau lo kabur." pekik Aleshaqi ikut menimpali.
Murid-murid yang berada di kantin pun hanya menatap kejadian di depan mereka sekilas, dengan harap-harap cemas sambil pura-pura tidak mengetahui prihal tersebut dan kembali dengan aktivitas makan mereka. Kalau kalian tanya, memangnya para penjual di kantin gak ada yang berani untuk memisahkan mereka? Memangnya gak ada yang berani mengadu ke para guru atau kepala sekolah? Tentu jawabannya, "Tidak." yang ada mereka malah di usir dari kantin sekolah, bahkan para guru saja sudah malas jika berurusan dengan kafka. Hanya beberapa guru saja yang masih mau mengurusi keonaran mereka, itupun hanya berani memberikan hukum ringan seperti berdiri di depan tiang bendera atau lari mengelilingi lapangan.
Aluna yang sejak tadi hanya duduk menikmati makanannya tanpa berniat ingin ikut campur, kini berdiri dan berjalan menghampiri Kafka.
__ADS_1
"Kaf, sekarang gue minta sama lo. Lo urusin urusan lo sama Kennedy aja. Yang dibilang Jessie itu ada benarnya, kalau Alta mungkin enggak tau tentang aturan Waldemarr." kini Aluna mulai menginterupsi Kafka secara lembut.
Kafka menengok ke arah suara yang begitu familiar untuknya dan tanpa banyak bicara lagi, Kafka hanya melirik kembali Alta. Bibirnya tercetak jelas sebuah senyuman tipis. Lalu mengintruksikan inti Waldemarr lainnya agar segera pergi meninggalkan kantin.
"Sanz, ambil handphone gue dan bawa Kennedy."
"Oke Bos."
Akhirnya, suasana kantin yang semula mencekam kini kembali normal sejak Kafka dan inti Waldemarr lainnya berlalu pergi.
"Lun, thanks ya udah bantuin gue tadi." seru Alta tulus.
"Lo enggak perlu terimakasih sama gue, Al. Kafka pergi bukan karena gue."
"Tapi Kafka cabut itu karena ucapan lo."
"Ha..ha.." tawa Luna pecah seketika. "Bukan Al, gue yakin kok sebenernya Kafka gak berniat untuk nyakitin lo. Yang gue lihat dari tatapannya tadi ada ketertarikan aja dia sama lo."
"Ck, ketertarikan gimana maksud lo? Ketertarikan buat bully gue? Lo tadi gak lihat tampangnya sadis gitu. Gak ada ekspresi, datar kaya psikopat!"
"Memang sudah dari lahir datar kaya tatakan cutter, lo baru tau?" celetuk Lily memancing semua untuk tertawa.
"Ha..ha.ha.." tawa semuanya pecah, menggema di seluruh kantin.
"Udah mau bel nih, gue cabut ke kelas duluan ya?" seru Luna bangkit dari duduknya.
"Siap, thanks ya."
Luna dan Lily tersenyum manis. Seraya Luna mengangguk. "Gue yakin kok, besok-besok Kafka akan nurut sama lo dan lo bakalan jadi pawangnya dia."
"Dih, apaan sih lo. Dikira Kafka macan tutul kali pakai pawang." jawab Alta.
Luna meledek kearah Alta. "Cie, yang dikit lagi resmi jadi pawangnya macan tutul." teriaknya sambil berlari kecil dan melambaikan tangan.
"Luna." pekik Alta dan membalas melambaikan tangannya juga.
...****************...
"Aduh ta, untung ada Aluna. Coba kalau enggak, bisa mati lo di pencak-pencak Kafka tadi." seru Cherry kemudian.
"Tau lo, pakai acara nantangin Kafka segala lagi. Lo nggak tau jantung gue udah mau copot."
"Ya, gue mana tau kalau ada aturan Waldemarr yang kaya gitu. Secara gue belum ada seminggu sekolah disini, lagian kenapa juga lo enggak kasih tau gue kalau ada aturan Waldemarr, kalau seorang siswi tidak di perbolehkan mendekat apabila Kafka dan inti dari Waldemarr sedang berada di zona garang Mereka." Alta tidak ingin di salahkan.
"Sorry, gue belum kepikiran buat kasih tau lo. Secara beberapa hari ini Kafka anteng aja di kelas." sembari menghabiskan bakso yang sudah di pesannya tadi.
"Lagian kenapa juga gak lo tarik si Alta, Cher. Udah tau yang pasti bikin keributan itu anak Waldemarr lo malah anteng aja liat si Alta lari." ucap Jessie sebel sendiri.
"Udah, udah, nggak usah kalian main salah-salahan. Yang penting Alta enggak kenapa-kenapa, sekarang." sambung Debby yang baru gabung bareng Mitha dan Unge.
"Ayo cepetan makan nya, bel masuk dikit lagi nih." seru Unge.
Tak lama kemudian seru bel masuk berbunyi nyaring menggelegar di Semua penjuru sekolah dan Mereka pun segera bangkit untuk kembali masuk kedalam kelas.
__ADS_1