
•Happy Reading•
Gaishan mengangkat flashdisk yang ia genggam. Flashdisk yang di berikan oleh Joel dan Prince secara langsung.
Benda kecil yang berbentuk ice cream magn*m itu kini di pandang Kafka dengan mata menciming, alis menukik tajam, tak mengerti dengan maksud flashdisk yang Gaishan genggam.
"Lo semua tertarik buat lihat isinya?"
"Apaan tuh, film biru?" tanya Aleshaqi dengan kekehan nya.
"Brengs*k, ngapain gue nyekokin Kafka. Dia kan bisa bikin film nya sendiri bareng Alta.
"Bastard." umpat Kafka sekaligus menoyor kepala Gaishan. "Darimana lo dapetin itu?"
"Prince yang nganterin ini semalam ke markas." seru Gaishan sambil menghisap rokok yang berada di sela-sela bibirnya.
"Colokin dah cepet" perintah Sanz.
"Buru-buru banget lo."
"Siapa tau beneran film biru yang di kasih Prince."
"Ho'oh"
Gaishan kini melangkahkan kakinya menuju laptop milik Waldemarr yang khusus biasa Ali atau Aleshaqi gunakan, tepat di depan Sanz. Lalu ia mencolok flashdisk tersebut sampai di mana nongol sebuah file dan di klik oleh Gaishan membuat ke Lima pemuda itu menatap layar laptop begitu serius.
"Sorry Bang, malam itu gue panik."
...
"Lo tenang aja, semuanya gue pastiin bakalan aman."
...
"Baik Bang, gue balik dulu ke dalam markas. Takut ada orang yang curiga kalau gue terlalu lama terima telpon."
...
Semua itu terekam dengan resolusi tinggi yang cukup menampakkan wajah nya serta suara jernih dari percakapan tersebut.
Setidaknya kata-kata itulah yang cukup jelas memenuhi pendengaran sosok dengan mata tajam yang kini tengah menatap nyalang layar laptop tersebut. Tangan nya mengepal dengan keras, otak nya berpikir dengan cukup maksimal. "Lo cari tau informasi orang tersebut."
"Akh, gue baru inget." katanya semangat "Wait."
Aleshaqi langsung mengeluarkan dan meletakan handphone miliknya ke depan anggota inti.
"Persis, orang itu sama dengan informasi yang Umi gue kirim."
"Hasilnya udah keluar?" sela Sanz.
"Em, sidik jari nya mengarah ke nih orang. Makanya Umi gue kasih informasi ini ke gue." sambil menunjuk foto beserta beberapa informasi yang berada di handphone nya.
__ADS_1
"Fix, dua bukti mengarah ke ni cowok. Tapi dari percakapan di video tersebut, sepertinya ada dalang di belakangnya. Nah otak dari ini yang harus kita gali lagi informasi nya, biar kita bisa tau siap orang itu."
"Li, segera lo lacak alamat yang tertera di informasi yang Uminya Aleshaqi kirim."
"Oke Kaf, laksanakan." Ali langsung menarik satu laptop lagi buat ia mencari alamat rumah tersebut.
"Ketemu Kaf, ini sih perkampungan yang ada di belakang perkomplekannya Jessie."
"Kalau gitu ini tugas lo Gaish, sambi dikit-dikit lah lo ngapelin si jejes." seru Ali sambil nyengir.
Gaishan menghela napasnya "Malam ini gue langsung turun?
"Iyalah."
"Culik langsung Gaish, seret ke markas."
"No, kita jangan gegabah. Kita nggak tau yang ada di belakang dia itu siapa. Gue nggak mau bikin Gaishan bahaya, cukup lo pantau dan ikutin aja dulu. Siapa tau dia bakalan ketemu sama dalang tersebut dan langsung Kabarin gue."
"Siap kaf"
...****************...
Seorang pemuda tampan dengan garis wajah yang nyaris sempurna itu kini tengah di landa kebingungan, pasalnya sudah hampir dua puluh menit ia berada di depan sebuah gerbang hitam yang menjulang tinggi antara ingin bertamu atau tidak. Akhirnya di menit ke dua puluh dua Gaishan memutuskan untuk memencet bel rumah tersebut.
"Misi, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, maaf cari siapa ya mas?"
"Jessie? Maaf yo mas, disini tidak ada yang namanya Jessie." seru Pak satpam sambil sedikit kebingungan.
"Ini bukan rumahnya Jessie? Masa saya salah si, Pak?"
"Tapi bener loh mas, disini ndak ada yang namanya Jessie."
"Bapaknya, security baru ya Pak? Rumah ini rumah nya Bu Anya Winova kan pak?" tanya nya penasaran
"Iya saya baru kerja lima bulan mas, kalau Bu Anya Winova bener mas. Tapi kalau yang namanya Jessie ndak ada di rumah ini."
"Lah, anak nya Bu Anya itu cuma dua. Yang pertama itu bernama Jessie dan yang kedua Gifary, Pak "
"Mas nya salah. Anak nya Bu Anya bukan Jessie tapi Nona Elakshi."
Gaishan tersenyum merespon ucapan pak security "Itu sama aja pak. Elakshi itu nama akhirnya Jessie."
"Lah, saya ndak tahu kalau nona Elakshi yang mas maksud. Ndak paham juga kalau mereka sama mas. Yak wes silahkan masuk."
Gaishan pun dengan segera masuk dan memarkir motornya di halaman rumah Jessie.
"Mas nya tunggu dulu disini, saya masuk sebentar, Yo. Mau bilang ke Ibu."
" Iya Pak,"
__ADS_1
Tak lama Pak satpam itu pun kembali dan mempersilahkan Gaishan untuk masuk kedalam rumah besar milik Anya.
"Assalamualaikum tante" serunya sambil menyalami tangan Anya saat sudah masuk kedalam.
"Wa'alaikumsalam, ya ampun nak Gaishan, tante pikir orang lain loh tadi. Bagaimana kabar kamu, nak?" tanya Anya Ibunda dari gadis jutek yang sangat di sukai Gaishan.
Gaishan tersenyum malu-malu, "Alhamdulillah tante, saya sehat. Kalau tante sendiri bagaimana kabarnya?" jawabnya sekaligus bertanya.
"Seperti yang saat ini kamu lihat nak, tante baik. Ayo silahkan duduk."
"Iya tante terimakasih. Maaf tante Jessie nya ada?"
"Kebetulan Jessie lagi tante suruh ke tempat om nya buat anterin kue. Mungkin sebentar lagi pulang."
Gaishan mengangguk kecil. Lelaki beroutfit hitam-hitam yang duduk berhadapan bersama Anya. Keduanya berbicara banyak dimulai dari obrolan ringan sampai ke topik yang lumayan menguras sambil menunggu kepulangan gadis jutek itu.
Selang beberapa menit kemudian, Gaishan mendapati gadis yang ia tunggu kepulangan nya tengah mematung sambil mulutnya mengunyah makanan. Di kedua tangan nya pun di penuhi plastik makanan dan es cekek di sebelah tangan kiri. Matanya membulat sempurna ketika pandangan netra nya mengarah ke pemuda tampan yang sedang duduk berbincang dengan Ibunya.
"Ngapain lo kesini?" tanya Jessie, masih dengan wajah terkejut di pintu masuk yang memang sedang terbuka lebar.
Gaishan tersenyum dan menaikkan satu alisnya "Lagi silahturahmi sekalian nostalgia sama Mamah mertua" jawabnya santai.
Anya terkekeh dan geleng-geleng pelan. "Anak gadis kok makan sambil berjalan dan berdiri. Terus masuk kerumah itu juga gak salam."
Jessie tersenyum manis, "Assalamualaikum." lalu masuk menyalami Anya dan duduk disebelahnya serta tak lupa menaruh box makanan yang di bawanya tadi di meja tamu.
"Wa'alaikumsalam, kamu bawa apa?"
"Akh ini Mom, roti kukus manis cokelat keju Titipan dari tante."
"Ya sudah kamu bukain buat Gaishan ya, Mommy tinggal kekamar takut Gifary nangis kelamaan Mommy tinggal." tutur Anya yang di balas anggukan oleh Jessie.
Jessie terdiam, perlahan menatap nyalang kearah Gaishan sambil membuka box makanan yang dibawanya. Sedangkan Gaishan juga ikut menatap sambil tersenyum manis dalam waktu yang bersamaan.
"Ngapain lo kesini?" tanyanya jutek.
"Ngapelin lo Be, kayanya nggak boleh banget gue nginjekin kaki kesini lagi. Kangen tau, dulu kan gue sering banget anter jemput dan lama-lama di rumah lo. Masa lo sendiri nggak kangen sih?"
Gadis itu memalingkan wajahnya dan tertawa kecil "freak!" serunya pelan. Tapi tak dapat di bohongi, pipi nya bersemu merah dengan salah tingkah nya.
Gaishan yang melihat itu pun langsung tersenyum. " Temenin gue ngiter-ngiter mau nggak?"
"Hah? Ngiter-ngiter kemana?"
"Ke perkampungan belakang kompleks lo."
"****, jauh-jauh ke rumah gue cuma buat ngiter-ngiter di perkampungan belakang kompleks?"
"Sebenernya sih gue ada misi buat mantau orang disana. Sambil makan nasi goreng di depan pengkolan sana deh. Lo kan suka banget tuh sama nasgor di sana, mau ya temenin gue?"
"Em, gue pamit dulu sama Mommy kalau gitu"
__ADS_1
Gaishan mengangguk mengerti.