
Maaf baru kembali update, karena hape otor hilang dan semua novel Kafka yang otor sudah buat ikutan hilang. Dan bukan hanya itu, sempet lupa password juga😂 🙏 Terima kasih buat kalian yang masih setia dukung dan setia membaca novel yang nggak seberapa ini.
•Happy Reading•
Disana, di ujung sebuah rooftop bangunan kecil yang terbengkalai di belakang sekolah, sesosok Pemuda tengah duduk santai dengan Hoodie hitam. Terlihat asap mengepul di udara, sebuah rokok terapit di antara jari tengah dan telunjuknya.
Tubuhnya tiba-tiba menegang kala sebuah tangan memegang bahunya, "Kaf," pangil seorang Gadis cantik berambut sebahu yang juga membawanya paper bag berwarna putih.
secara otomatis ia menoleh kearah sumber suara dan mengangkat wajahnya. "Ada apa?"
"Bisa bicara sebentar?"
Cowok itu kembali menunduk, menyesap rokoknya sejenak dan kembali mengepulkan asap itu ke udara. Sebelum akhirnya ia mematikan rokok itu.
"Tau dari mana kalau gue ada disini?" Bukan menjawab, kini justru Kafka kembali bertanya. Seperti yang sudah-sudah, itulah kebiasaan buruknya.
"Tadi aku nggak sengaja lihat kamu ke arah sini. Boleh aku duduk?" tanya Aluna dan langsung duduk di samping Kafka meskipun kafka tidak menjawab pertanyaannya.
Kafka mengernyit, "Ada perlu sama gue?"
"Iya."
Pemuda tampan itu menghela napas pelan. "Telpon kan bisa, Lun? Ngapain harus nyamperin gue kesini? Lo udah sehat?"
"Udah, oh iya aku mau kasih ini ke kamu."
Aluna menyodorkan sebuah paper bag berwarna putih dengan ukuran sedang ke arah Kafka.
Kafka menatap paper bag itu dengan heran. "Gue lagi nggak ulang tahun." Kata kafka terdengar ketus.
__ADS_1
"Ini ucapan terima kasih aku ke kamu karena kamu udah mau repot-repot bantuin dan nolongin aku waktu itu. Aku nggak tahu harus balas rasa perduli kamu itu dengan cara apa jadi aku kasih ini untuk kamu."
"Harusnya nggak perlu lo lakuin itu, dan ini sangat mahal."
"Nggak papa, kalau bukan karena kamu yang nolongin aku, aku mungkin udah nggak ada didunia ini. Makasih ya atas rasa perduli kamu dan rasa perhatian kamu yang masih ada untuk aku."
Alta menahan napasnya mendengar penuturan Gadis cantik yang begitu lancar mengatakan hal itu kepada kekasih hatinya. Apakah gadis itu tidak memiliki perasaan? Meskipun masing-masing dari pasangan mereka tidak ada diantara pembicaraan mereka saat ini, akan tetapi itu akan bisa menjadi sebuah kesalah pahaman dan bahkan menyakiti kalau diantara pasangan mereka mengetahui hal itu. Contohnya seperti saat ini.
Rahang Alta merenggang, di ikuti langkah kaki yang melambat menuruni anak tangga, kemudian ia berlari menuju ke arah lapangan futsal sekolah saat kakinya sudah berada di akhir anak tangga. Pemandangan di depannya sungguh membuat dirinya bingung harus bereaksi seperti apa. Mau bersikap biasa saja, tetapi itu kekasihnya. Mau marah, rasanya dia lelah. Dan mau kecewa, itu hal yang membuatnya menjadi lelah sendiri. entahlah...
*Sesaat sebelumnya*
Alta dan Jessie berlarian kearah lapangan futsal yang berada di ujung koridor gedung selatan Lentera Bangsa dengan menenteng tas dari kelima anak inti Waldemarr.
"Be." Panggil Jessie kepada Gaishan.
Gaishan melirik sekilas kemudian kembali menatap kearah pertandingan sahabat-sahabatnya yang sedang berlangsung.
Gaishan tak bergeming, ia masih tetap saja fokus pada pertandingan di depannya. Sedangkan Alta yang merasa terabaikan lantas berdiri di hadapan Gaishan menghalangi pandangan pemuda itu sambil bersedekap dada.
"Minggir Queen Bos." Katanya kesal, mendorong Alta kesamping.
Alta mendengus, "Jessie cowok lo nih nakal. Gue cuma mau tanya doang juga."
"Tanya apaan Queen? Lo ganggu aja deh, lagi seru tau!"
"Kafka kemana? Kok nggak sama kalian?"
Gaishan menoleh, menggaruk kepalanya seraya tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Nggak tau gue, emangnya gue pegangin tuh cowok lo."
__ADS_1
Alta mencubit lengan Pemuda disampingnya dengan kesal. Sontak membuat Pemuda tampan itu meringis kesakitan.
"Anj*ng, sakit Queen." Ringisnya pada Alta. Kemudian ia menengok ke arah Jessie yang berada di sebelah kirinya. "Be, sahabat kamu nih suruh minggir. Gangguin aku aja."
"Kamu jawab dulu pertanyaan Alta dengan benar, Be."
"Aku nggak tau Kafka kemana. Tadi cuma bilang mau ke toilet." Jawab Gaishan dengan Jujur. Ya, sewaktu bel masuk istirahat berbunyi, mereka berlima justru bukan masuk ke kelas malah ke lapangan futsal hingga jam pulang dan Kafka memang berkata seperti itu sewaktu tadi dia pergi.
"Aish, gue cari dia dulu deh. Nih gue titip tas gue sama tas Bos lo."
"Iya." Jessie yang menjawabnya, karena Gaishan kembali fokus kepada tiga sahabatnya itu.
Setelah keluar dari lapangan futsal, Alta berjalan ke arah koridor gedung selatan. Matanya mengedar, memperhatikan banyak siswa yang berkeliaran. Kakinya entah mengapa tertuju ke arah gedung di belakang sekolah yang biasanya selalu sepi dan jarang di lewati banyak orang.
Alta menaiki tangga kearah gedung kecil itu dan sampai di anak tangga ke tiga ia samar-samar mendengar suara kekasihnya yang tengah berbicara dengan seseorang diatas sana.
...****************...
"Sorry, gue ralat omongan lo yang barusan. Gue bukan lagi perduli atau perhatian sama lo. Tapi gue nolongin lo itu murni karena memang gue harus bantuin orang yang lagi kesusahan dan butuh bantuan gue. Please, gue berharap lo bisa bersikap sewajarnya seperti dulu." Kata Kafka, lebih tepatnya seperti sindiran dan peringatan.
"Jadi, ini karena rasa perduli kamu terhadap sesama. Bukan karena rasa kamu yang masih ada buat aku?"
Kafka terkekeh geli "Mana Luna yang selalu menghargai pasangannya dan selalu nolak perhatian gue? Kenapa sekarang lo malah seolah-olah jadi yang balik ngejar gue dan butuh perhatian gue lagi?!"
"Lo salah paham, Kaf."
"Tapi itu yang gue rasain, Lun. Kenapa baru sekarang lo seolah-olah menyambut baik perhatian gue? Setelah ada Alta disisi gue?"
"Karena aku baru menyadarinya sekarang Kaf, aku iri ngelihat Alta yang diperhatiin kamu kaya dulu kamu perhatian ke aku."
__ADS_1
"Kini saatnya gue yang bersikap seperti itu, gue berusaha untuk bisa menghargai Alta dan juga Leo karena ada hati yang musti kita jaga sama-sama bukan? Gue nggak akan nyakitin Alta kaya lo yang diam-diam di belakang Leo nyakitin dia dengan lo bersikap seperti ini sama gue. Jadi gue berharap stop sampai disini sebelum semuanya berakhir dengan nggak baik." Kata Kafka memperingatkan. "Satu lagi, gue nggak bisa terima pemberian apapun dari orang yang udah gue bantu. Karena gue bantu atau nolongin orang itu dengan hati yang ikhlas dan tanpa pamrih. Lebih baik lo simpan atau lo bisa kasih ke orang yang membutuhkan."
Lalu ia berdiri dan meninggalkan Aluna sendirian di atas rooftop, membuat Aluna mengepalkan kedua tangannya dengan mata terpejam, Aluna merasa kesal akan peringatan yang keluar dari mulut Kafka.