
•Happy Reading•
"Eh, liat deh. Dia yang tadi bikin kantin heboh, kan?" bisik salah satu anak cewek di depan pintu kelas IPA⁴ ke teman sebelahnya.
"Iya, gue baru lihat dia deh. Kaya nya anak baru."
"Pantesan enggak tau. Untungnya dia cantik."
"Gak ngaruh kali, mau dia cantik atau enggak. Buktinya aja tadi Kafka marah banget, sok berani sih lagian." pekik salah satu cewek di ambang pintu membuat Jessie menoleh.
"Ngapain lo gibahiin temen gue? Mau gue sobek-sobek tuh mulut." ketus Jessie membuat semuanya menciut.
"Ternyata temennya Jessie."
"Berarti temen sekelasnya Kafka juga dong?" bisik mereka lagi.
"Kenapa Jess?" tanya Debby.
"Biasa, LAMBE RUNTAH. Nyoba gibahin Alta."
"Kenapa lo, mau nyari ribut sama Gue?" pekik Cherry membuat semuanya buru-buru masuk ke dalam kelas mereka.
Alta menoleh. "Ya ampun, anak ips¹ enggak cowok nya, enggak cewek nya. Gas'an semua."
"Ha.ha.ha.. NNGGEEENGGG." teriak Jessie, Cherry, Unge dan Debby bersamaan sambil berlari. Yang membuat Alta ikut tertawa terbahak-bahak sambil berlari kecil menyusul mereka.
...****************...
Bu Berta sudah berkeliling membagikan soal ulangan dan lembar jawaban.
Tok..
Tok..
"Maaf Bu kita telat." seru Debby yang memang berdiri di hadapan paling depan.
"Cepat kalian duduk." perintah Bu Berta sambil menciming kan mata melewati bangku siswa-siswi, barangkali ada contekan di kolong bangku mereka.
Debby langsung masuk dan berlari kecil ke arah mejanya disusul oleh Bunga, Jessie, Cherry dan Alta.
"Tumben kamu sudah ada di depan meja kamu? Tidak nyebat di rooftop?" tanya Bu Berta pada Gaishan.
__ADS_1
"Lagi males Bu, nanti kalau kita nyebat gak ikut ulangan ibu. Remed lagi, remed lagi, cape Bu." jawabnya nyantai sambil membulak balikan kertas ulangannya.
"Bagus, kalau kamu sudah insyaf." ucap Bu Berta sambil berjalan kembali menuju mejanya yang berada di depan kelas.
"WAKTU KALIAN SATU JAM DARI SEKARANG, JADI KERJAKAN DENGAN BENAR TANPA BERISIK DAN MENYONTEK KE TEMAN KALIAN."
Gaishan dan Aleshaqi menggerutu, sesekali mengumpat sambil menggaruk rambutnya yang tiba-tiba saja menjadi gatal saat membaca satu persatu soal yang berada di tangannya.
Aleshaqi terus saja membolak-balikan kertasnya, berharap ada yang bisa ia kerjakan. "Buset dah nih soal, kenapa kaya si Rayhan." gerutunya.
Ocehan Aleshaqi sontak membuat Gaishan menengok ke arahnya. "Rayhan?" ucapnya bingung.
"Iya ogeb, begitu syulitt." jawabnya sambil tersenyum manis membuat Gaishan merasa kesal, yang membuat Gaishan langsung menoyor kepala Aleshaqi.
Gaishan melirik ke arah meja Bu Berta memastikan kalau Bu Berta tidak melihat ke arah nya, lalu menendang bangku Jessie yang berada tepat di depannya.
"Woy, bebeb Jess. Tanyain Ali nomer satu sampai 25 jawabannya apaan?" mohon Gaishan berbisik.
"Baru mulai bang*e," kesel Jessie.
"Bawel lo, cepetan tanyain."
"Iya, bentar."
"Baca soalnya aja Ali baru sampai nomer Dua. Lo nyontek apa ngerampok?" gerutu Sanz pelan tanpa menengok ke belakang.
"Lah, bukan gue yang nyontek. Noh cs lo yang di belakang gue, dari tadi ribet nyuruh gue buat nanya ke Ali." kesel Jessie.
"Bentar, gue juga lagi nunggu." jawab Sanz, pasalnya ia juga sama seperti Gaishan yang sedang menunggu Ali menjawab soal-soalnya.
"Lo nyontek apa ngerampok, Ali baru ngerjain sampai nomer 2." ulang Jessie pada Gaishan dengan nada yang jengkel.
"Bilangin Jess, sesama perampok jawaban jangan saling gondok." sunggut Gaishan yang juga sambil berbisik.
"Lo bilang aja deh langsung. Kenapa gue jadi perantara kalian berdua sih, kalau kaya gini gue kapan ngerjainnya."
"Halah, lo ntar juga ikut nyalin."
"Seenggaknya gue berusaha berjuang dulu, meskipun tak pernah ternilai di mata lo."
"Ahay, lo lagi berusaha menyatakan perasaan terpendam lo Jess?" heboh Cherry membuat Gaishan mendecih. Sementara Kafka masih saja memejamkan matanya, menyender kan kepalanya ketembok sambil mendengarkan musik di earpods.
__ADS_1
Aleshaqi menengok ke arah belakang."Kaf, lo gak ngerjain?" tanya Aleshaqi.
"Males." jawab Kafka singkat.
"Yah, Gimana gue mau nyontek." Aleshaqi langsung kembali menengok ke depan. Menunggu jawaban Ali.
"WAKTUNYA TINGGAL TIGA PULUH MENIT LAGI." ujar Bu Berta memberi himbauan.
"Akh, si*lan. Mana gue belum jawab sama sekali lagi." gerutu Aleshaqi.
"Anjir, si Arga udah ngumpulin aja. Bikin gue makin gugup." timpal Gaishan.
Kini giliran Gaishan yang menengok ke belakang. "Babe, udah ngerjain sampai nomer berapa?"
"Tinggal satu nomer lagi, gue rapih." jawab Alta Jujur. Pasalnya memang ia sudah mengerjakan sampai nomer 24.
"Gue boleh nyontek enggak, Babe.?"
"Nomer berapa?" jawab Alta santai.
"Nomer 1 sampai 25."
"Ye, itu mah bukan nyontek, tapi lo nyalin." ucapnya sambil melotot.
He..he.."Yaudah nomer 1 sampai 10 aja deh." tawar Gaishan yang merasa tidak enak hati.
"Ya udah, dengerin ya. Gue gak mau ngulang." ketus nya. "Nomer 1A,2D,3B,4C,.....dan10A."
Di Saat waktu tinggal sepuluh menit lagi, disaat itu lah Kafka baru menggerjakan soal-soal ulangannya.
Dengan begitu mudahnya ia menjawab tanpa ada kesulitan apapun. Sebab ia sudah melihat dan membaca soal itu sedari tadi, namun ia urung menulis jawaban tersebut karena pasti sahabat-sahabatnya itu akan menyalin jawaban di lembar milik Kafka. ketika hendak menjawab nomer 24, ia berhenti mengisi.
"Kenapa?" tanya Alta saat Kafka menengok kearahnya.
Kafka hanya menunjuk ke arah kertas ulangan miliknya itu.
"Nomer 24?"
"Mm," angguknya.
"D" singkat Alta menjawab. Lalu ia berdiri kedepan mengumpulkan kertasnya. Pasalnya ia masih gondok dengan Kafka perkara di kantin tadi.
__ADS_1
"WAKTU KALIAN SUDAH BERAKHIR. SILAHKAN, SEMUANYA DIKUMPULKAN. MAU YANG SUDAH RAPIH ATAU BELUM DI KUMPULKAN SEKARANG." seru Bu Berta, bertepatan dengan bel pulang berbunyi.