KAFKA

KAFKA
NAKAL BOLEH, OGEB JANGAN!!


__ADS_3

•Happy Reading •


Kalian tau apa yang paling menyebalkan dan membuat para siswa dan siswi sibuk disaat menduduki kelas 12?


Apa lagi kalau bukan kelas tambahan dan ujian praktek yang di tunjukkan untuk memaksimalkan persiapan ujian kelulusan demi menambahkan nilai-nilai yang kurang.


"Buka buku halaman 208, saya akan mengadakan tes tertulis untuk materi persiapan penilaian akhir semester" Ujar bu Dhuma memberi perintah.


"****, mendadak banget anj*r!" Sanz membuka buku dengan kasar.


"Bu, Kenapa gak di pertemuan berikutnya aja. Ini udah mau bel pulang bu. "Protes Gaishan dan di angguki anak-anak yang lainnya.


"Diam Gaishan, atau kamu silahkan keluar! " Katanya menyorot tajam.


"Yes, gue disuruh pulang duluan!! Ayo Sanz kita balik! Serunya mengajak Sanz dan membereskan peralatan sekolah mereka.


"GAISHAN, SANZ MAU KEMANA KALIAN? CEPAT DUDUK KEMBALI!!" Teriak Bu Dhuma murka. Kelakuan anggota Waldemarr emang kadang-kadang bikin emosi naik turun. Untung saat ini yang berulah dua doang. Coba kalau lima-limanya, sudah di pastikan terkena serangan jantung mendadak.


"Kata ibu tadi saya boleh keluar?! Dih si ibu kaya perempuan aja, labil!" Kata Gaishan sambil menyemperkan tasnya di pundak.


"Bu Dhuma, emang perempuan gobl*k!" Saut Ali menoyor kepala Gaishan.


"Emang cewek itu, RIBET!! Di kasih perhatian lebih sok nolak, giliran perhatiannya gue kasih ke cewek lain, dia ngambek!!" Gerutu Sanz.


Cherry yang mendengar sindiran Sanz pun tak tahan untuk tidak membalasnya. "Gimana tuh cewek kaga ngambek, coba! Bukannya di perjuangin malah nyari perhatian cewek lain. Dasar cowok brengs*k!!"


"Cie, curhatan hati yang terdalam nih" Sambar Jessie, menyikut lengan Cherry.


"Oh, ini perkaranya!! Coba be sahabat nya di kasih paham." Sanggah Alta kepada Kafka.


"Sudah diam," suara Bu Dhuma terdengar menggelar di dalam ruang kelas. "Kalau kalian ribut terus seperti ini, saya langsung ada kan tes tanya jawab!"


"WHAT THE ****!!" Seru Cherry, Jessie, Ali, Gaishan dan Aleshaqi kompak seolah-olah mereka membuat janji terlebih dahulu untuk mengatakan hal tersebut.


"WHAT THE HELL!!" Gumam Alta pelan.


"Etdah, sekate-kate!!" Seru Chalief.


"Chalief, Mengapa politik harus menggunakan pendekatan antropologi?"


Chalief langsung terdiam, ia bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


Ha.. Ha.. Ha.. Tawa beberapa murid menggema.


"lagian si lo protes, makan tuh pertanyaan! "


"Berisik, gobl*k!! Gue kaga bisa mikir nih. "


"Satu, dua, tiga, empat.." hitung Bu Dhuma.


"Untuk dapat memahami latar belakang dan adat-istiadat metode tradisional dari suku bangsa tersebut, maka analisis antropologi menjadi penting bagi seorang ahli ilmu politik, untuk mendapatkan pengertian mengenai tingkah laku dari partai politik yang sedang dipelajarinya." Jawab Chalief, untung saja ia sempat sedikit membaca.


"Bagus, silahkan rapihkan dan keluar dari kelas!"


"Saya boleh pulang bu?"


"Iya, atau kamu mau saya hukum?"


Chalief langsung menggelengkan kepala dan membereskan peralatan serta buku-buku yang masih berserakan di atas mejanya.


"Selanjutnya, Arga! Bagaimana hukum dapat diperluas dalam perspektif antropologi?"


"Dalam perspektif antropologi, hukum adalah bagian integral dari kebudayaan secara keseluruhan, dan karena itu hukum dipelajari sebagai produk dari interaksi sosial yang dipengaruhi oleh aspek-aspek kebudayaan yang lain, seperti politik, ekonomi, ideologi, agama, dan lain-lain."


"Kafka. Berdasarkan fase perkembangannya Kapankah Antropologi berdiri sebagai ilmu yang sifatnya akademis?"


Kafka terdiam lalu sesaat nengok kearah teman-temannya. "Saya tidak tahu bu" Jawabnya enteng.


"Kafka, ini pertanyaan yang mudah. Bohong banget kalau lo nggak tau." Bisik Alta.


Kafka tersenyum, "Iya gue tau ini mudah. Hari ini lo balik bareng sama Jessie ya. Gue nggak bisa lihat sahabat gue yang lainnya dihukum sedangkan gue malah balik gitu aja."


"Tapi Ali bisa jawab dan pulang" Protes Alta.


"Dia nggak akan berani pulang kalu lihat sahabat nya yang lain nggak pulang."


"Tapi.. "


"Nggak ada tapi be, lo mau lihat gue egois demi... "


"Iya, nggak usah di terusin. Gue paham."


"Maaf, gue yakin jika lo di posisi gue pasti akan melakukan hal yang sama dan terimakasih sudah bisa mengerti. Janji ini yang terakhir, selebihnya Gue akan buat sahabat gue yang lainnya lulus bareng-bareng dengan nilai yang baik. Gue nanti malam kerumah, oke." Ucap kafka, lalu mengusap lembut pucuk kepala Alta dengan tatapan sayang. "Love you, be!" Mengecup sekilas kepala Alta dengan sedikit mencuri-curi kesempatan disaat bu Dhuma tak mengarah padanya.

__ADS_1


"love you to, kaf. "


"Kafka, cepat kamu berdiri di depan! "


Kafka berjalan ke depan kelas, berdiri bersama-sama dengan teman-temannya yang lain yang tidak bisa menjawab.


"Saya ulang pertanyaan nya, Berdasarkan fase perkembangannya Kapankah Antropologi berdiri sebagai ilmu yang sifatnya akademis? Silahkan Alta jawab."


"Antropologi menjadi sebuah subjek cendekiawan yang berdiri sendiri pada abad kesembilan belas, sebagian besar memusatkan perhatian pada penelitian sifat-sifat fisik, bahasa dan budaya masyarakat yang belum beradab."


"Good, silahkan keluar."


...****************...


Sanz menepuk bahu Kafka yang sedang berjalan beriringan bersama Gaishan. "Bos, nggak usah lah lo kaya gini!"


"Gini gimana maksud lo?" Jawab Gaishan.


"Gak mungkin banget cuy, ini manusia kaga bisa jawab pertanyaan mudah yang tadi di kasih Bu dhuma."


"Lah iya, lo capek kaf jadi orang pinter? Gue juga!" Sambung Aleshaqi.


"Pinter, Lo pinter? Lah gue apa jadinya?!" Tanya Sanz pada Aleshaqi.


"Jiakh, pinter lo bilang. Otak lo itu sudah produksi gagal sejak lahir. " Protes Gaishan kepada Aleshaqi.


"Enak aja lo" Protes Aleshaqi tak terima.


"Kalau lo agak sedikit bodoh, Sanz!!" Timpal Kafka datar. "Masih bisa diperbaiki. Asal jangan males aja!" sambungnya masih dengan mimik wajah datar sedangkan Sanz sudah geram ingin menampol ketuanya itu. bukan karena ucapan nya melainkan mimik wajahnya yang kelewatan santai.


"Lo udah pinter sejak di produksi, bangs*t. Lah kita semua?"


Kafka tertawa, " Lo semua itu kaga ada yang namanya produk gagal, mana mau gue terima anggota Waldemarr yang IQ nya dibawah rata-rata. Lo semua itu cuma males, nj*ng!! Lo semua masuk katagori pinter kok beda sama gue yang emang udah jenius!"


"Gedek banget gue kalau dia udah mulai narsis" Sanggah Aleshaqi.


"Anj*ng, narsis di tengah cuaca panas emang bikin terbakar. Rasanya pengen gue tinju aja tuh mulut." kekeh Sanz yang sejak tafi sudah ingin meninju namun tak berani ia lakukan.


Kafka makin tertawa kencang. "Prinsip Waldemarr itu, NAKAL BOLEH, OGEB?"


"JANGAN!!" Teriak kompak antara Gaishan, Aleshaqi, dan sanz di tambah Ali yang baru saja tiba di lapangan sehabis ke kantin membelikan makanan dan minuman.

__ADS_1


__ADS_2