KAFKA

KAFKA
WAR QUEEN CS VS ALUNA GENG


__ADS_3

•Happy Reading•


Tiga orang siswi tengah bersolek di depan cermin besar yang berada di dalam toilet, mereka sedang melakukan ritual berganti pakaian setelah berolahraga sambil sedikit memoles wajah mereka dengan sedikit bedak dan liptin.


"Mau langsung kantin or ke kelas nih kita?"


"Langsung kantin aja lah, cacing di perut gue udah teriak-teriak laper." Jawab gadis berwajah oriental itu.


Jessie hanya melirik malas Cherry lewat pantulan cermin besar di depannya. "Dih, tadi siapa ya yang habisin bekel gue?" Desis Jessie, memutar bola matanya malas.


"Itu sih Alta yang makan." Alibi Cherry.


Brakk


Pintu bilik di dalam toilet terbuka lebar membuat kedua gadis di depan cermin pun langsung menengok. Seorang Gadis cantik bertubuh mungil dengan tinggi kurang lebih 165cm terlihat melangkah keluar sambil menenteng baju olahraga yang sudah ia kenakan tadi.


"Gue cobain doang, yang habisin kan lo sama Mitha." Celoteh gadis itu tak terima. Ia memoles liptin milik Jessie ke bibir nya yang ranum.


"Syutt, udah kelar belum lo berdua?" Tanya Jessie pada kedua sahabat nya. Kedua tangan gadis itu sibuk membereskan semua alat makeup miliknya yang tergeletak berantakan di depan wastafel ke dalam pouch berwarna Lilac.


"Boleh nggak sih segemes itu liat Kafka senyum?"


"Nggak, dia pu_"


Netra ke tiga gadis itu kompak menoleh kearah pintu toilet, ketika mendengar suara cempreng yang sudah dihapal mereka.


Alta maju satu langkah sambil bersedekap dada. "Lo mau bilang kalau Kafka itu punya lo?" Intonasi tanyanya seperti mengejek.


"Kenapa? Lo mau marah? Lo itu cuma bekas Kafka"


Alta tersenyum semanis mungkin, "Gak tuh, kenapa harus marah? Yang ada justru gue itu iba sama lo. Kok bisa ya lo ngaku-ngaku begitu? Seyakin itu, kalau lo masih prioritas Kafka lagi?"


"Tau, ngemis kok ngemis cinta sih mbak?" Cherry ikut berbicara sambil melangkah satu langkah mensejajarkan diri di sebelah Alta. "Kalau mau ngemis itu, duit. Biar lo jadi orang kaya."


"Ngemis?" Aluna tertawa. "Asal lo semua tau, sampai kapan pun Kafka nggak akan pernah bisa jauh dari gue. Dia itu cinta mati sama gue." Katanya, membuat tiga gadis yang tengah berdiri angkuh itu tertawa ngakak.


"Cinta mati? Hey minimal bangun dulu deh lo, baru ngehalu." sahut Alta songong.


"Ya, ya, ya, bisa di maklumi sih Al kalau dia itu cewek halu, yang ngebet banget ngerebut perhatian Kafka lagi." ejek Jessie dengan wajah yang takalah angkuh dari Alta.


"Gak heran juga kenapa dia obsesi banget. Lo paham kan ya kalau Medusa itu berkepala berapa?" Sinis Cherry.

__ADS_1


"Em, jadi cewek tuh punya harga diri dong. Masa mengesampingkan harga diri nya demi dapetin perhatian cowok orang. Kok mau ya Leo sama cewek modelan pinggir jalan begini!" sindiran telak Jessie pedas.


Aluna tidak dapat lagi menahan kekesalan nya, Gadis itu mendorong tubuh Alta kesisi pintu bilik toilet. Kali ini Alta tidak jatuh karena dirinya siap oleh serangan yang di berikan Aluna.


Malah justru dengan kesal Alta menarik rambut Aluna dengan begitu kencang hingga beberapa helai rambut itu rontok. Tak terima, Aluna ikut balik menyerang, menjambak rambut panjang Alta. Mulut keduanya tak bisa diam, saling mengumpat kata-kata kasar penuh makian. Sedangkan Cherry dan Jessie juga ikut berkelahi dengan teman-teman Aluna yang ikut bersamanya ke toilet, mereka membela kubu mereka masing-masing.


...****************...


Kabar tentang Alta dan Aluna yang terlibat pertikaian di toilet berhasil membuat geger satu sekolah dengan cepat.


Ali ternganga saat ia melihat video yang berdurasi beberapa menit itu tengah ramai di grup khusus cewek cantik sekolah. Video yang menampilkan enam siswi cantik berbeda jurusan tengahjambak-jambakan dengan penuh kekuatan memancing atensi tersendiri. "Wah kacau nih dunia persilatan, kaga bisa di biarin ini." gumam nya langsung berlari ke gedung belakang sekolah.


"Kaf, Gaish!!" teriak Ali sambil berlari menaiki tangga rooftop, lalu menghampiri Kafka dan Gaishan. Membuat enam Pemuda yang tengah nyebat itu langsung menoleh kaget bukan main. "Woy, buruan ikut gue ke koridor toilet gedung lapangan."


"Ngapain?"


"Pecah, pecah banget sih ini pasti."


"Si gobl*k, kaga jelas banget lo. Yang di tanya apa lo jawab apa."


"Ah, itu Queen cs vs Aluna geng lagi duel, Kaf." Kata Ali.


"Nj*Ng, kenapa kaga lo lerai, ogeb." Gaishan melebarkan matanya menatap tajam ke arah Ali.


"Terus lo tau dari mana?"


"Grup ciwi-ciwi cantik dong. Jadi gue selalu tau kabar berita yang up di kalangan ciwi-ciwi"


"Sh***, pecah Cok." teriak Chalief sambil memperlihatkan layar pipih di tangannya yang lagi memutar video itu.


"Lo masuk ke grup ciwi-ciwi juga, Lief?"


Chalief mengangguk kecil kemudian kembali mengomentari video itu bersama Ali. "Ah gila, itu Queen best bed sih menurut gue."


"Gue sih megang Lily, berantem nya unyuk gitu. Gimana kalau di...."


"Sat, kenapa malah lo komenin" celatuk Aleshaqi menyikut kencang lengan Ali


Kafka melirik Sanz, dengan gerakan cepat Sanz langsung menarik tangan Gaishan agar segera menangani mereka supaya tidak terjadi sesuatu yang lebih parah dan di ketahui pihak guru.


"Woi Kaf, kok lo anteng aja sih disini." Tanya Ali disaat Kafka malah justru asyik meneruskan kegiatannya.

__ADS_1


"Kafka gak mau ikut campur mungkin?! Nanti malah jadi semakin kisruh. Takutnya malah justru Queen akan berpikiran kalau Kafka berpihak membela Aluna. Jadi serba salah yang ada!" kata Aleshaqi.


"Bukannya malah bagus ya? Queen malah akan justru merasa kalau Kafka masih perhatian dengan membela dirinya."


"Iya Kalau pemikiran nya begitu? Kalau beda bijimana?"


...****************...


"Lagak lo sok baik-baik aja saat putus sama Kafka, padahal mah lo nangis Bombay. Biar apa? Biar Kafka berbaik hati dan gak jadi putusin lo? Dasar cabe, drama lo basi banget anj*ng." Kata Aluna kencang sambil di tahan oleh adik tingkatan mereka.


Alta tertawa kencang, yang juga masih di tahan oleh Mitha dan Bunga, "Sumpah lo lucu parah, padahal di toilet tadi ada kaca Segede gaban. Kenapa lo gak ngaca sih? Masa cabe teriak cabe."


"Bacot lo nj*ng" kini Aluna berusaha dengan sekuat tenaga menghampiri Alta kembali, dan meraih rambut panjang Alta berusaha menjambak namun secepat kilat Alta malah justru memelintir tangan Aluna membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Woy, lo berdua bukannya bantuin Alta, Cherry dan Jessie. Malah lo berdua ikutan ngebcot lagi." tegur Sanz pada Mitha, dan Bunga.


"Justru gue lagi ngebantuin mereka." Kata Mitha kencang.


"Lo bantuin kisruh, bukan bantuin misahin." Sahut Gaishan menahan emosi sambil memisahkan Jessie dengan Lily. Pasalnya Mitha dan Bunga malah menyemangati mereka dan ikut-ikutan mengompori.


"Queen udah Queen! Ini di sekolah. Kafka gak mau sampai lo kena masalah dan kenapa-kenapa." Kata Sanz.


Alta mendesah pelan, masih dengan tangan yang memelintir lengan Aluna. "Awalnya gue mikir begitu. Tapi nih anak udah gak bisa gue diemin lagi, terlalu banyak tingkah. Sekarang gue bodo amat gak perduli juga kalau harus cabut dari ni sekolah." Desis Alta.


"Gak gitu juga Queen, dikit lagi kita lulus. Gue mohon sama lo buat sabar sedikit lagi, ok."


Alta mengalihkan pandangannya dengan tatapan mata yang tak dapat di artikan, baru kali ini semua bibir di buat bungkam oleh tatapan yang begitu mematikan yang diberikan gadis itu. Seperti nya Alta dan Kafka itu memang benar-benar berjodoh. Aura dari keduanya sama-sama cukup mendominasi saat tengah marah.


"Gue udah coba nahan diri buat gak emosi. Kayanya lagak ni medusa makin lama makin ngelunjak." Katanya sambil mendorong tubuh Aluna ke belakang hingga tubuhnya jatuh membentur tiang koridor.


Tak terima dengan perlakuan Alta barusan, kini gadis itu bangkit dan mencoba menyerang Alta dengan berusaha mencakar wajah gadis itu. "Yang cocok sama Kafka tuh gue bukan cabe-cabean kaya lo."


Berkat kelihaian Alta yang mampu membaca gerakan Aluna dengan cepat, Alta dapat menghindari tangan Aluna yang hendak mencakarnya "Yuhu, Medusa kaya lo itu cocoknya jadi babu Kafka, jelas-jelas gue itu Queen nya Kafka sampai kapanpun akan terus jadi Queen nya. Mana ada rakyat jelata berubah jadi Queen buat dampingi pangeran, kaga cocok lo."


Aluna belum mau kalah, ia masih saja berusaha mencoba mencakar, menjambak bahkan menampar pipi Alta.


"Woy, itu dua cewek pisahin. Gue bingung ini harus misahin yang mana dulu." Kata Sanz kencang. Sebab ia masih berusaha memisahkan Cherry yang masih jengut-jenggutan. Sedangkan Gaishan juga sedang menahan Jessie yang terus saja memberontak minta di lepaskan agar ia bisa meninju mulut Lily yang terus saja ngereok memaki-maki Jessie.


"Astaga, pawangnya si Alta kemana anjir. Anak-anak yang lain juga kemana lagi?" omel Sanz geregetan sendiri. "Lo juga bisa diem dulu sebentar gak sih Cherr." Sanz memekik tertahan, disaat Alta dan Aluna sudah saling pukul-pukulan bahkan Alta berhasil membuat wajah Aluna berdarah oleh cakaran nya.


Anak-anak yang berada disana sudah berusaha memisahkan, tapi tangan berutal dari keduanya malah menyasar menaboki mereka dan tak jadi mereka memisahkan, mereka tak mau jadi bahan pelampiasan dari keduanya. Padahal one by one tapi sudah rusuh tak karuan. Ada pekikan cempreng khas orang memekik kesakitan, ada umpat-umpat seluruh binatang yang berada di kebun binatang yang keluar dari mulut Cherry juga Jessie. Terlebih Alta yang cukup mendominasi dengan mulut yang terus saja membalikkan semua umpatan Aluna.

__ADS_1


Beruntung, tubuh semampai Alta langsung saja di gendong paksa oleh seseorang untuk menjauh kalau tidak hidung gadis di depan nya sudah patah akibat Bogeman Alta yang benar-benar mendominasi war antara Queen IPS melawan Queen IPA.


__ADS_2