
•Happy Reading•
Netra indah berwarna biru langit dengan bulu mata lentik, tengah memandang kagum sebuah Ballroom Hotel berbintang lima yang begitu terlihat megah nan mewah yang di pesan secara khusus oleh sekolah Lentera Bangsa untuk acara prom night.
Alta, Gadis berparas cantik milik Leader Waldemarr sekaligus orang yang berpengaruh besar terhadap sekolah, terlihat begitu memikat mata dengan balutan mini dress hitam. Serta rambut yang ia tata dengan model Neat Bun Party, memperlihatkan bagian leher indah nya.
Alta tersenyum lebar disaat ia menemukan dua sahabatnya, yaitu Jessie dan Cherry yang kini tengah berjalan ke arah nya. Cherry tak kalah terlihat begitu cantik malam ini dengan balutan dress mini hitam bermodel sabrina serta rambut panjang yang tergerai.
Sedangkan Jessie memilih tema casual yang memadukan blouse hitam di mix hotpants hitam serta peep toe booties high heel dan hair style yang tak jauh berbeda seperti Alta.
"Akh, kenapa lo berdua cantik banget sih?"
"Lo juga malam ini cantik parah, Alta." oceh Jessie.
"Intinya kita bertiga itu cantik, ayo akh."
Ketiganya kini melangkah memasuki keramaian, belum lagi para anggota Waldemarr yang lagi sibuk-sibuknya bergoyang ria ketika musik sudah di putar keras.
"Ya Allah, why are those people's soul mates so beautiful?" (Ya Allah, kenapa jodohnya orang -orang itu tuh pada cantik-cantik banget ya?" Kata Ali santai.
"Siapa tau salah satunya jodoh lo?"
Ali tertawa nyaring, "Yang dua emang jomblo, tapi gue nggak berani deketin."
"Kenapa?"
"Satu nya udah di gebet sahabat sendiri dan yang satu masih dalam pantauan Leader gue."
"Emang siapa?"
"Queen sama Cherry."
"Anj*ng, mau mati lo, hah?" sewot Sanz.
Ali terkekeh geli, "Makanya gue bilang kaga berani, gob*ok."
Kafka tersenyum tipis, mendengarkan percakapan antara Ali dengan Sanz. Mata yang semula memandang sekitar kini beralih menatap Alta dalam.
"By the way, Lentera Bangsa bakalan kehilangan Lima Bajing*n tampan gak ya?" tutur Sanz dengan kekehannya.
"Jelas, terutama Bu Bertha. Dia bakalan kehilangan banget anak bajing*n kesayangannya pergi."
"Huft, kok gue jadi sedih!" sahut Ali lebay.
Kafka tersenyum, sedangkan Gaishan terkekeh kencang. "Lima bajingan harus berubah jadi mantu kesayangan setelah melangkah keluar dari sini. Lo semua harus sukses minimal bisa bangun perusahaan lo sendiri tanpa bantuan bokap lo semua."
"Agree, kita harus terus bangkit berusaha. Patahkan omong kosong banyak orang di luar sana yang selalu memandang kita sebelah mata. Menilai negatif yang hanya bilang kita bocah rusuh yang hanya bisa bikin onar, yang hanya begajulan gak jelas juntrungannya bahkan mereka bilang kita gak punya masa depan cerah secerah matahari. Kita harus buktikan bahwa Waldemarr bukan hanya bocah kosong yang gak bisa merubah dunia." Kata Ali antusias.
"Widih cakep, setelah tiga tahun bersama baru kali ini gue denger Ali sebijak itu."
"Hidup Ali, hidup babang Ali." Aleshaqi berseru kencang sambil mengangkat tangan nya yang terkepal erat seperti memberikan semangat juang 45 membuat seluruh anggota Waldemarr yang sekolah disana tertawa nyaring.
Yang lain sibuk tertawa, sedangkan Leader mereka hanya tersenyum sambil terus setia mengawasi pergerakan Alta bersama teman-teman sekelasnya yang cewek.
"Dipandagin terus, lama-lama copot tuh mata." Seru Gaishan Santai sambil menepuk pundak Kafka.
"Gak ada yang berani juga nyerempet Queen. Pawangnya jelmaan Siliwangi." Samber Chalief.
"Bukan gobl*k, cicitnya Krisna, ***!!" Jawab Ali sambil berlari kabur di iringi suara tawa dari Bumi, Chalief, Aleshaqi dan Sanz.
Kafka mendecak kesal "Sial*n!" umpatnya kepada Ali.
"Tunggu saatnya kita boleh bergabung, baru lo boleh Pepet terus. Sekarang kita duduk dulu disana. Acara akan segera di mulai."
"Em," angguk Kafka, lantas ia berjalan mengikuti Gaishan.
...****************...
Setelah berbagai serangkaian kegiatan acara perpisahan selesai, kini saat nya mereka bebas melakukan hal apapun. Para anggota Waldemarr terutama anggota inti sepakat kalau mereka akan meneruskan acara tersebut di luar hotel. Mereka memilih cafe outdoor yang mereka sewa secara privat hanya untuk para anggota Waldemarr dan undangan yang mereka kehendaki seperti Alta, Jessie, Cherry, Mitha, Bunga, dll. Mereka bahkan membiarkan cewek itu bebas memesan menu apapun yang mereka mau. Sedangkan Lima pilar Waldemarr memilih duduk santai sembari menikmati sebatang rokok juga bersenda gurau menikmati lemparan gurauan jenaka antara Ali, Aleshaqi bahkan Chalief yang terus saja menggelitik perut.
__ADS_1
"Queen," panggil Ali tiba-tiba.
"Ya" sahut Alta reflek.
"Gue boleh minta foto lo nggak Queen?"
"Buat apa, Li?"
"Buat nyadarin Leader gue, kalau bidadari nya nyata."
"Jiakhhh" teriak mereka kompak di iringi tepukan tangan.
"Dih apa sih, nyet." Kata Alta jadi sewot.
"Queen, Queen." Kini Sanz yang bergantian memanggil Alta.
"Apa?"
"Lo nggak akan laku kalau gak mau balikan sama Leader gue." seru Sanz membuat mereka semua semakin ngakak sedangkan Kafka sudah mengumpati sahabat-sahabatnya dan menabok kepala Pemuda itu dengan pelan.
"Anjayy gurih njayyy."
"Queen."
"Sekarang apalagi?"
"Nanti lo bakalan nyesel Queen, karena bukan ciwi-ciwi Lentera Bangsa lagi yang bakalan jadi saingan lo. Tahap saingannya udah keranah lebih luas yaitu dunia perkuliahan."
"Apaan sih anj*rr. Ngapain ngulitin gue lo semua." Katanya galak.
"Cie Queen salah tingkah!!"
"Apaan sih." Alta mengumpat di belakang Jessie, ia sudah salah tingkah dengan kelakuan teman sekelas mereka. Membuat Jessie juga Cherry terkikik geli, menutupi wajahnya, ikutan malu-malu.
"Kafka! Bukannya kemarin lo bilang ke Gaishan kalau lo bakalan ngajakin Alta balikan saat acara prom night ya? Kok gak di tepatin sih?" Kata Jessie membuat kekasihnya bingung, sebab Kafka tidak pernah mengatakan apapun tentang itu.
"Masa sih? Wah parah bed lo Kaf. Kemarin nyakitin hati nya, masa sekarang mau lo phpin juga anak orang."
"Nggak!" Kafka langsung memfokuskan tatapannya ke arah Alta. "Alta?" panggil Kafka.
"Mau cabut nggak?"
"Eits, mau kemana lo Bos. Resmiin dulu jangan main cabut-cabut aja lo." Cegah Ali menahan tubuh Kafka.
Kafka menarik napasnya dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian "Alta, don't you want to come back to me?"
"Hah?"
"Cie. Cie. Di ajak balikan dong Cok!" Suara nyaring Chalief terdengar heboh.
"Kok gue yang meleleh yak? Sanz cepetan dong lo tembak gue, anj*r. Gue iri nih liat yang begini!" Pekik Cherry tak karuan.
"Si ogeb, ngapa murah bener sih lo!" Kesel Jessie membuat Cherry tertawa kecil.
"Bangs*t, kaki gue mendadak kaya jelly."
"Emang nya kenapa Mitha?"
"Meleyot."
"AW. AW. AW.."
Alta merutuki Kafka, gadis itu jadi malu bukan main. Terlebih mendengar koaran dari pihak sahabat-sahabatnya maupun sahabat kafka yang tak bisa di kondisikan menambah level salah tingkahnya semakin meningkat.
"Ayok Queen jawab, mode sat, set, aja. Jangan kelamaan mikir." Kata Bunga sudah heboh takaruan.
"Ayok jawab!" Jessie sudah mendorong-dorong tubuh Alta ke arah Kafka.
"Sahabat laknat lo, masa sahabatnya sendiri mau di bikin malu!" Sewot Alta menabok lengan Jessie. Lalu Ia memandangi sekeliling ruangan yang sedang heboh karena ulah mantan kekasih nya ditambah sahabatnya sendiri malah justru melemparkan nya ke arah Kafka.
"Alta!" Membuat Alta langsung menengok menatap Kafka.
"Sorry buat yang kemarin." Gumam Kafka, Pemuda itu malah menggaruk pelipisnya karena bingung harus bicara apa. Dirinya juga sudah grogi.
"Em, udah Gue maafin." Jawabnya malu-malu.
__ADS_1
Diruangan itu sudah di penuhi oleh anak-anak Waldemarr dan sahabatnya, Mereka menunggu untuk Alta menjawab.
"What about what I said earlier?" (Bagaimana sama ucapan gue yang tadi?" tanyanya dengan harap-harap cemas, jantung Kafka sudah berdetak tak karuan. Tetapi berusa ia tahan demi menjaga image, sedangkan Alta menunduk memainkan jari mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Dengan senyum tertahan, Alta langsung mengangguk. "Em"
"Em apa? Yang jelas dong. Mau apa nggak?" Sewot Jessie.
"Gue dorong ke jurang ya lo Jess. Kalau masih minta kejelasan yang lebih."
"Harus dong, biar Kafka tau pasti jawaban lo."
"Sebenernya lo di pihak gue atau Kafka sih?"
"Sorry Beb, untuk saat ini gue di kubu Kafka dulu."
"Queen cepet jawab yang bener."
"Iya Queen, yang bener jawabnya."
"Oke, oke, gue jawab. Iya gue mau."
"Mau apa?" Iseng Ali.
"Mau ngilang, asli gue malu parah anj*ng." Katanya jadi kesel.
"Udah woy, kasihan sahabat gue nih, udah malu parah."
Dan kali ini, semua anggota Waldemarr yang berada di cafe berserta Alta cs kompak melompat girang karena misi terselubung mereka berhasil menyatukan ke dua insan itu. Jeritan serta godaan masih terdengar heboh tak terkendali bahkan Cherry, Jessie, Mitha, Bunga sudah memeluk Alta senang.
"Akh gue happy, couple goals gue kembali." Seru Cherry kencang, membuat semuanya refleks menutup telinga lalu didetik kemudian mereka menertawai Cherry yang cengo seketika.
"Sini Cherr gue peluk. Gue tau lo pasti malu abis kan." Seru pemuda berdarah Pakistan Jerman itu sambil merentangkan tangannya, membuat Cherry mendelik.
"Modus lo, Cok!" Ketus Chalief
"Enak aja lo main peluk, siapa Cherry bagi lo?" Sewot Alta.
"Dendam banget sih lo Queen. Mulai detik ini, dia cewek gue."
"Nggak!!" Kompak Jessie dan Alta.
"Apa-apaan lo main langsung anggep sahabat gue cewek lo. Minimal berlutut kek sambil kasih nih bunga palsu buat nembak dia."
Sanz langsung merebut setangkai mawar yang Alta ambil dari pajangan cafe. Ia langsung saja berlutut dan menyerahkan setangkai bunga mawar palsu itu di depan Cherry. "Gue mau, mulai detik ini lo jadi cewek gue." Katanya santai.
Gaishan langsung menoyor kepala Sanz "Yang bener gobl*k. Jangan bikin malu paguyuban crocodile lo."
"Tau, sia-sia bener. lo itu bertahun-tahun bersahabat sama Buaya, tapi gak dapet ilmunya." Sahut Aleshaqi yang sedari tadi gemes sendiri.
"Salah lagi aja gue." Sanz menghela napas panjang. "Cherry, I like you. Do you want to be my girl?"
"What the f*ck!"
"Jawab!!!"
"Jawab!!!"
"Jawab!!!"
Seru semuanya membuat gadis berwajah oriental itu terkesima. "Atas dasar apa lo nembak gue?"
"Bukannya tadi lo yang minta?"jawab Sanz.
"Huft. Ini gabungan spesies dari mana ya? Kenapa bisa berkumpul jadi satu dan semuanya sama rata." tepuk jidat, kala Mitha mengatakan hal ini.
"Ini kenapa anggota Waldemarr pada oon semua nya kalau masalah percintaan? Emang bener-bener dah pada kaga ada yang romantis"
"Udah cepetan jawab aja."
"Iya, gue juga suka lo" kata Cherry sat, set, ia malas kalau harus ada drama lagi. Toh sama aja, ujungnya mereka pacaran juga.
Semua orang bahagia, bertepuk tangan riang. Ikutan terharu melihat couple goals mereka kembali bersatu ditambah dengan Sanz yang juga mendapatkan pacar baru dari gadis yang sudah ia incar semenjak berbelanja untuk acara bakti Waldemarr. Akhir dari acara ini Alta bernyanyi duet bersama dengan Kafka dan memberikan akhir yang waw dengan Kafka memeluk Alta bahkan menciumnya.
_END_
__ADS_1
Terimakasih buat sahabat_dhecha yang selalu support dengan terus mengikuti kisah Kafka dan Alta sampai akhir.