KAFKA

KAFKA
MEREPOTKAN.


__ADS_3

•Happy Reading•


Suasana shady (remang) yang didominasi oleh warna kelap-kelip lampu di sebuah Club malam dengan musik Disc Jockey yang berdentum keras sehingga memekikkan telinga. Bau alkohol bercampur dengan kepulan asap rokok yang mengudara tak membuat para penikmat tempat tersebut terusik dan merasa terganggu. Bahkan kelima para pemuda tampan yang duduk berjejer di meja yang sudah mereka reservasi/open table pun ikut menikmati suasana saat berada di dalam Club. Bagi mereka, itulah cara yang ampuh untuk "Kabur sesaat dari realita"


Meski tak rutin setiap minggu, Kafka dan para sahabat setidaknya tetap mengagendakan untuk pergi Clubbing dua kali dalam sebulan.


Untuk malam ini, di khususkan untuk para anggota Waldemar dapat sepuasnya menikmati bahkan meminum apapun yang mereka suka asalkan tidak sampai menyusahkan, membuat onar, apalagi menggunakan obat-obatan terlarang.


Mereka hanya boleh happy namun tidak boleh melebihi batasan nya.


"Anj*rr, ini Disc Jockey (DJ) bikin gue pingin geleng-geleng." ujar Sanz sambil menikmati Satu Sloki Vodca yang di suguhkan.


"Ayo lah, udah lama nih gak ayo!" ucap Gaishan meneguk Dua Sloki Whiskey lalu berjalan menuju Dance floor di ikuti Sanz.


"Bos, lo gak ikut turun?" tanya Ali.


"Duluan."


"Lesh, ayo turun." kini Ali mengajak Aleshaqi.


"Lo duluan, nanti gue nyusul. Gue nungguin cewek gue dateng dulu." ucap Aleshaqi sambil memainkan ponselnya.


...****************...


"Lo yakin Nge kita di undang kesini?"


"Iya, ayo cepetan masuk." ucap Unge masuk sambil menarik tangan Debby, lalu di ikuti oleh Jessie, Cherry dan Alta.


Dentuman suara musik dan Dj menyatu sebagai pengiring banyak nya kalangan orang yang melepaskan penat di bawah lampu warna warni, menyambut mereka yang baru saja masuk.


"Mereka dimana?"


"Gue nggak tau, coba gue telpon Alesh dulu deh."


Mereka celangak-celinguk menelusuri bangunan kesetiap sisi, berharap menemukan meja di mana anggota Waldemarr berada.

__ADS_1


Alta tidak sengaja menangkap sosok yang sangat ia kenali sedang duduk di meja bundar tak jauh dari nya sambil mengangkat gelas kecil berisikan whisky bersulang bersama Aleshaqi dan beberapa para Leader yang ia jamu, Lalu ia bertanya pada Jessie dengan berteriak. "Jess itu Kafka?"


Jessie mengikuti arah petunjuk Alta kemudian mengangguk. "Iya"


"Woy, itu meja Kafka." ujar Jessie kepada sahabatnya yang lain.


Mereka berlima, Debby, Bunga, Jessie Cherry dan Alta berjalan menuju meja Kafka.


"Alesh!!" panggil Bunga (Unge) membuat Aleshaqi langsung menengok.


"Ay, sini." menepuk bangku kosong di sebelah nya.


Sementara Alta, Jessie, Cherry dan Debby mendudukkan diri di meja sebelah yang memang sudah di reservasi untuk para undangan dari Waldemarr. Sedangkan Kafka yang melihat Alta bersama teman-teman nya tiba. Ia justru langsung bangun dan berjalan menuju meja bar untuk memesan minuman. Setelah nya Kafka menaruh softdrink itu sedikit kasar di depan Alta dan matanya nenatap tajam pada gadis yang sedang memandang nya heran.


"Kenapa??" tanya Kafka ketus.


"Lo naruh softdrink itu buat siapa?"


"Lo."


"Gak usah minum yang lain, lo minum ini aja." Seru nya yang terdengar seperti sebuah perintah yang tidak ingin di bantah dan kembali berjalan menuju Dance floor tanpa menoleh.


"Itu anak kenapa?" tanya Cherry.


"Kesambet kali" jawab Alta asal.


"Ck, dia kira lo anak kecil apa di kasih softdrink di tempat kaya gini," Debby tertawa tak habis pikir.


”Sembarangan lo, dia itu perduli sama cewek nya. Jadi gak kepingin Alta mabuk."


"Cewek? Maksud lo Alta udah jadian sama Kafka?"


"RALAT, GUE BUKAN CEWEK NYA!!" Teriak Alta mengkoreksi ucapan Jessie.


"Yaudah lah ya, mau lo cewek nya or bukan. Yang penting malam ini kita nikmatin aja." Ujar Cherry, mengangkat gelas bening berisikan whisky. "Cheers"

__ADS_1


sedangkan yang lain nya mengangguk setuju seraya bersulang meminum whisky di gelas masing-masing.


...****************...


"Sadar woy." Tepuk Jessie di pipi cantik gadis itu.


"Ya ampun nyusahin aja deh ni, bocah!!" dengan susah payahnya Jessie dan Cherry memapah tubuh Alta yang memang sudah limbung akibat terlalu banyak minum. Pasalnya Jessie dan Cherry pun tidak jauh berbeda keadaan nya, hanya saja tak separah Alta yang memang jelas-jelas sudah mabuk berat.


"Ini orang kemana, coba? Gue suruh ngambil mobil di parkiran udah kaya ngambil mobil di Hongkong, lama banget." dumel Jessie.


"Jessie!!"


"Apa?"


"Jess, kenapa Kafka nggak bisa lihat gue lebih dari seorang teman, sih Jess? Kenapa Jess?" Rancau Alta kencang.


"Nj*rr, kuping gue budek Alta." Jessie refleks melepaskan tangan nya yang sedang memapah Alta. Di tambah Cherry yang juga refleks menoyor kepala Alta hingga tubuh gadis itu terhuyung jatuh ke aspal. Ia mengosokkan telinganya yang berdenging. "Gak usah teriak Alta! Kuping gue sakit." Sembur Cherry galak.


Alta terduduk selonjoran di aspal jalan depan gedung Club, sambil memukul-mukul kan kepalanya yang terasa berputar sambil sesekali beralih memukuli dada nya yang terasa nyeri. Bahkan ia tidak merasakan sakit di kening nya yang luka akibat tergores tiang tanda di larang parkir yang berada di dekat nya.


Jessie mengulurkan tangannya untuk membantu Alta berdiri. Ia melihat mobil milik Cherry sudah berjalan kearah mereka. Namun tiba-tiba saja dari arah belakang tubuh Jessie, ada sebuah tangan kekar menepuk pundak nya seraya suara berat itu mengintruksikan agar tidak usah membantu Alta.


"Biar gue aja yang bantu Alta berdiri dan bawa dia pulang, sekarang lo sama Cherry naik ke mobil."


Jessie mengangguk patuh, ia di bantu Gaishan berjalan menuju kedalam mobil.


Gaishan mengetuk pintu kaca mobil Suzuki Swift berwarna Yellow milik Cherry, dan buru-buru Sanz membuka pintu belakang mobil.


"Lo bantu Cherry, kayanya dia udah gak kuat berdiri lagi."


Sanz mengangguk. "Iya." dengan segera Sanz berlari kecil menuju ke arah Cherry yang sedang muntah-muntah bersender di tembok. Dengan telaten ia mengusap lembut tengkuk Cherry sedangkan tangan kirinya menggenggam rambut panjang Cherry agar tidak terkena muntahan nya. Setelah selesai Cherry merasakan lemas pada tubuh nya sehingga mau tidak mau Sanz membopong tubuh Cherry ala Bridal style sampai ke mobil milik Cherry, sedangkan Kafka menyenderkan kepala Alta pada pundaknya.


"Bos, gue duluan pamit."


"Oke, Titi DJ jangan ngebut lo sanz. Lo juga habis minum."

__ADS_1


"Aman Bos." teriak Sanz.


__ADS_2