KAFKA

KAFKA
LO NGERASANYA?


__ADS_3

•Happy Reading •


"Ayo!" kata Gaishan melirik Jessie.


Tapi justru Jessie malah tak menghiraukan ucapan Gaishan. Ia malah asyik dengan benda pipih di tangan nya.


"Ck, langsung gas poll!" celetuk Ali yang baru saja masuk ke dalam apartemen Sanz.


"Jessie, cepet sana balik. Itu udah di ajakin Gaishan." sanggah Alta mendorong tubuh Jessie.


"Minta lo gendong kali, Gaish." ujar Kafka pada Gaishan. "Mana baju sama celana gue? Lama banget lo!"


Ali tertawa, "Sorry bos, gue makan enak dulu. Belum sempat sarapan tadi pagi, lo udah main nyuruh gue aja."


Jessie bangkit dan mengambil tas yang berada di salah satu kamar Sanz, bertepatan dengan Kafka yang kembali masuk ke dalam kamar Sanz.


"Al gue duluan ya." pamit Jessie pada Alta dan mereka berpelukan sesaat lalu cipika-cipiki. "Tiati ya Jess" ucap Alta, membuat Jessie tersenyum.


"Jagain sahabat gue. Awas aja kalau sampai lecet!" oceh gadis itu pada Gaishan.


"Siap, 86 Queen Bos! Gak berani lah gue buat sahabat Queen Bos lecet, urusan nya panjang nanti."


"kenapa?" tanya Alta.


"Karena yang langsung turun tangan Leader gue masalah nya."


"GAISHAN!!" teriaknya, membuat Gaishan terkekeh kecil.


"Salam sama Bos gue, gue cabut duluan. Ali gue cabut!!"


"Oke, nge!!" Jawab Ali dari arah dapurnya Sanz.


...****************...


Mobil Kafka berhenti tepat di depan gerbang utama rumah Alta. Rumah besar yang terlihat asri dengan taman kecil yang di penuhi berbagai macam jenis tanaman dan bunga.


"Lo mau masuk dulu?" kata Alta sedikit berbasa-basi.


Kafka terdiam, matanya menatap manik biru langit itu dalam. Membuat Alta menjadi salting dan langsung memalingkan wajahnya.


Gadis itu menghela napas perlahan, lalu kembali menoleh ke arah Kafka. "Kaf?"


"Emm," Kafka bergumam pelan, sedikit menetralkan diri akibat menatap mata biru itu yang terlihat teduh baginya.


"Mm, mau mampir dulu gak?" Alta mengulang kembali pertanyaan nya.


"Nggak usah," balas Kafka yang langsung mengalihkan pandangan nya ke depan setir.


"Ya sudah kalau enggak mau mampir, sana balik. Mau ngapain lo masih di sini, mau jadi security rumah gue? Gantiin pak Soleh." ujar Alta pedas.


Kafka langsung menengok, menatap Alta datar. Alta langsung merutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


"Em, gue turun ya. Makasih lo udah nganterin gue balik" ujar Alta bergidik ngeri.


"Ya"


"Alta?" seru wanita cantik yang baru saja keluar gerbang. Pasalnya wanita cantik itu melihat sebuah mobil berhenti agak lama di depan gerbang nya. Takut-takut orang yang sedang mencari sebuah alamat.


"Eh Mama." Ucap Alta, dengan posisi nya yang masih diambang batas pintu mobil dengan satu kakinya turun dan satu nya masih di mobil.


"Loh, kamu diantar oleh siapa sayang?"


"Alta di anter sama temen sekelas nya Alta, Ma." jawab gadis yang baru saja turun sepenuhnya dari mobil bertype Bentley Continental itu.


"Kok gak kamu suruh masuk, sih?"


"Udah Mah tadi, tapi gak mau mampir katanya." Menyalami tangan Mama Gaby.


"Nak, ayo turun mampir dulu." sapa Mama Gaby, Ibu kandung dari Alta.


"Eh Tante." Kafka tersenyum sopan, lalu buru-buru turun menghampiri wanita cantik yang sedang tersenyum setelah menyapa nya.


Gaby menyambut Kafka dengan mengulurkan tangannya dan Kafka pun mencium tangan Mama Gaby.


"Ayo masuk, jangan pulang dulu. Kebetulan Tante baru aja rapih masak jadi kalian bisa makan siang bersama."


Kafka menimbang, akan mengiyakan ajakan Mama Gaby atau menolaknya. Ia melihat kearah Alta mencari jawaban dari gadis itu.


"Ngapain ngeliatin gue lo?"


Kafka tersenyum tipis dan menunduk sedikit. "Gak apa-apa kok Tante, Kafka sudah biasa."


"Jadi nama kamu Kafka?"


" Iya Tan."


Keputusan Kafka akhirnya mengiyakan ajakan tersebut, ia merasa tidak enak jika harus menolak ajakan Mama Gaby.


"Silahkan masuk, tante mau ke dalam duluan buat nyiapin piringnya, biar nanti Alta yang nemenin kamu masuk." setelah melemparkan senyum hangat nya, Mama Gaby pun berputar arah untuk langsung masuk kedalam. Sedangkan Alta menunggu Kafka memarkirkan mobilnya kedalam halaman rumah di bantu pak Soleh yang membuka lebar-lebar pintu gerbang.


"Terimakasih, Pak."


"Iya sama-sama, Den."


Dirasa sudah aman, Kafka kembali turun dari mobil dan keduanya memasuki rumah.


Terlihat begitu jelas rumah besar bergaya modern didominasi dengan desain tropis khas Bali yang di penuhi dengan kaca besar, bebatuan, dan kayu. Yang terlihat simetris, epic layaknya di sebuah villa. Membuat Kafka takjub atas pemilihan desain tersebut, membuat nyaman siapa saja yang berada di rumah ini.


"Lo tunggu di sini, gue mau ke kamar sebentar buat ganti baju."


"Emm"


Gak tau harus berbuat apa selagi menunggu Alta, akhirnya Kafka memutuskan untuk memainkan game di handphone miliknya.

__ADS_1


"Serius banget lo" ucap Alta, setelah lima menit berlalu meninggalkan Kafka.


Kafka mendongak melihat Alta yang baru saja turun di anak tangga terakhir, lalu Alta duduk di kursi depan Kafka. Ya Alta akui bahwa Kafka sangat lah tampan meskipun tak tersirat sebuah senyuman hanya wajah datarnya saja yang dominan.


"Kaf, ada yang mau gue tanyain ke lo?" tanya Alta, ia memutuskan untuk bertanya langsung pada kafka, tentang apa yang terjadi pada mereka malam itu dengan pertimbangan yang yang bergejolak di hati nya setelah Gaishan memberitahukan bahwa mereka berduaan di dalam kamar Sanz.


"Mm, apa?"


"Semalam kita gak ngelakuin hal yang macam-macam kan?"


Kafka langsung menatap nyalang Alta, tatapannya begitu sulit di artikan.


"Lo ngerasanya?" tanya balik Kafka, ia bukan nya menjawab malah justru balik bertanya.


"Gue nggak ngerasain apa-apa dan gue juga gak tau apa yang terjadi malam itu. Makanya gue nanya sama lo?"


"Memangnya kenapa kalau kita ngelakuin apa-apa?"


"Ish, rugi lah gue!" nyolot Alta.


"Lo ini kan, yang rugi?"


Alta langsung pindah ke samping Kafka, ia tak tahan jika tidak menabok pemuda itu.


"B*cot lo lancar banget ya Kaf, gue serius nanya?"


"Gue juga serius jawabnya, kalau lo lupa. Anggap saja tidak terjadi sesuatu apapun!"


"Akh!!" gerang Alta frustasi.


"Alta? Ayo di ajak temen nya untuk makan dulu. Mama sudah selesai menata makanan nya di meja makan, kalian makan saja ya, Mama mau siap-siap berangkat ke butik."


"Maaf ya nak, tante tinggal soalnya sudah siang. Jadi Tante harus ke butik karena ada janji dengan klien." seru Mama Gaby pada kafka.


"Ah iya Tante, terimakasih sebelumnya sudah mengizinkan saya mampir."


"Sama-sama nak, jangan sungkan ya. Tante tinggal dulu." tersenyum hangat.


"Ayo!!"


Kafka dengan segera mengikuti Alta yang berjalan terlebih dahulu di depan nya.


"Silahkan duduk, Den." ucap Bu Aminarti, art di rumah Alta.


Kafka malu-malu mengangguk, ia menarik salah satu kursi disamping Alta. Kafka tidak tahu harus melakukan apa karena memang selalu di layani oleh Bi Mae, Alta kembali berdiri mengambil piring yang ada di depan nya dan mengisi nya dengan nasi.


"Lo mau pakai lauk apa?" tanya Alta.


Kafka menatap Alta "Apa aja, terserah." jawab nya.


Karena tidak mendapatkan jawaban yang pasti, akhirnya Alta mengambilkan semua lauk yang ada di meja, tapi memberikan dengan porsi yang pas untuk Kafka. Setelah menyerahkan milik Kafka, lantas Alta mengisi piringnya sendiri dan mulai menyantap nya.

__ADS_1


__ADS_2