KAFKA

KAFKA
SALAM DOANG ENGGAK ADA JAMUAN NYA?


__ADS_3

•Happy Reading•


Kelas XII IPS¹ sedang tidak ada guru yang mengajar. Mereka free class selama dua mata pelajaran sampai jam istirahat. Namun hari ini kelas tidak terlalu ricuh seperti biasanya.


Jika biasanya kelas ini paling fenomenal ricuh, gaduh, dan selalu bikin onar. Semua penghuni sekolah juga sudah sangat hafal dengan tabiat penghuni kelas yang mana jika sudah diisi oleh anggota Waldemarr, kelas itu akan jauh dari kata aman dan damai. Untungnya kali ini mereka hanya ricuh di dalam kelas tanpa ada yang keluar-keluar dari kelas.


Salah satu bagian dari Waldemarr menjadi pelopor pemersatu gamers untuk berkumpul. Mereka sedang duduk berkumpul di bagian belakang kelas di ketuai Sanz, sedang Mabar game online dan berteriak rusuh, bahkan sesekali mereka mendapatkan teguran dari Rega sang ketua kelas.


Sedangkan Aleshaqi, Ali, dan beberapa cewek-cewek garis keras Drakor sedang asyik nobar drakor terbaru yang di bintangi oleh Lee jae-Wook dan Jung so-min yang berjudul Alchemy of soul sambil memakan beberapa cemilan yang barusan di beli Nicta di kantin. Sesekali mereka akan berteriak bersama-sama ketika dibagian drama itu ada part menegangkannya.


Beralih ke Gaishan yang lagi nyepik si Jusmine untuk mau mengenalkan sepupu nya yang bernama Shera.


"Ayo dong mine, kenalin gue apa ke sepupu lo yang ada di kelas IPA²" mohon Gaishan.


"Enggak, gue gak sudi ya ngenalin sepupu gue ke buaya muara kaya lo atau gue aduin lo ke Zea." katanya galak. "Sana ah Gaishan, lo ganggu tau gak!" usir Jusmine.


"Aelah, kenalan doang mine. Kaga gue pacarin juga kali."


"Sekali gue bilang enggak, ya enggak. Gue heran sama si Zea kenapa bisa-bisanya mau bertahan sama buaya yang satu ini deh." sarkas Jusmine kesal.


"Jangan tergoda ya mine, kaya enggak tau si buaya muara aja kalau lagi ngebet kawin, pasti gencar." seru Cherry kencang.


"Eh Gaishan, gue ada pantun nih buat lo. Khusus buat lo, jadi dengerin ya. "KU KIRA TAS, TERNYATA PETASAN." Cherry kembali berteriak mencoba mengganggu Gaishan.


"CAKEEEPPPP !!!!" teriak Alta, Jessie, dan ciwi-ciwi lainnya berbarengan.


"KU KIRA PRIORITAS, TERNYATA PELAMPIASAN."


"Eeeyyyaaa!! eeeyyaaa!!"


LANJUTKAN JESS, KAN LO SEBAGAI MANTANNYA.


"Dengerin Gaish, gue mau pantun nih." Kini Jessie yang melanjutkan.


"KU KIRA RUBIK, TERNYATA ARANG."


BEEHH, CAKEEEPPPP...!!!


"KU KIRA COWOK BAIK, TERNYATA BUAYA MUARA KARANG."


"Ha..ha.ha..." tawa mereka pecah seketika.


"Wah, sekate-kate lo kalau ngomong ya Jess. Asal kalian tau, buaya itu hewan yang paling setia. Buaya jantan hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Bahkan jika pasangannya lebih dulu mati, buaya jantan tidak akan mencari betina lain. Makanya buaya di jadikan simbol untuk pernikahan di adat Betawi karena kesetiaan nya."


"Itu sih Buaya asli, lah kalau lo kan modelan buaya darat. Buktinya aja cewek lo di mana-mana." sarkas Jessie tak mau kalah.


"Bilang aja lo jealous, iya kan?? Belum bisa move on lo dari gue?" gumam Gaishan.


"Dih pede boros lo anj*rr. AIR LAUT NAIK PASANG, JAHIT BAJU BANYAK BENANG"


CAKEEEPPPP!!!

__ADS_1


"CINTA LAMA SUDAH USANG, UNTUK APA MASIH DI KENANG." balas Jessie.


"Ha..ha..ha... Mamp*s lo Gaishan." seru Cherry.


"Aduh, sakitnya tuh disini." ucap Alta menepuk-nepuk dadanya.


"Jessie, Jessie, aku pada mu!!" heboh Unge.


"Love you Jess." Debby ikut heboh tak mau kalah berseru kencang dari Unge.


Sementara itu, justru si Bos garang lah yang terlihat paling santai dan tenang diantara anggota Waldemarr lainnya. Karena Kafka sedang sibuk dengan buku dan pulpen di tangannya. Ia sedang menggambar sketsa suasana kelas dengan telinga yang tersumpal aerpods.


Para cewek-cewek yang lain seperti Maurin, Echa, Bintang, Paramitha, kembali menggibah, cekakak-cekikikan membahas banyak hal, mulai menggibahkan film, cowok dan hal lainnya yang menarik.


"Woi Sanz, habis istirahat pelajaran siapa?" tanya Bumi pada Sanz.


Sanz menggernyit, mencoba mengingat jadwal mata pelajaran. Tapi, bagaimana bisa ingat? orang Sanz kesekolah tidak pernah melihat jadwal. Asal bawa buku, ponsel sama tas doang. Itu pun kalau dia ingat. Sanz mah, kesekolah numpang nyanyi, tidur dan main game.


"Ngapain susah-susah belajar ny***? punya temen cerdas kaya Kafka dan Ali mah harus di manfaatkan dan di Budidayakan dengan baik."


"Lo salah, jangan tanya jadwal kalau sama Sanz. Tanya tentang game udah pasti nomer satu dia." Jelas Ali.


Bumi berdecak "Iya, gue lupa kalau Sanz ogeb."


"Nj*ng, untungnya lo masih kawan. Coba lawan, udah gue libas, koit lo."


Tiba-tiba saja disuasana yang jarang sekali terjadi ini harus di gagal kan oleh kedatangan Moriz dan juga Asya.


"Eiiittss, ada apaan nih brother. Lo udah kaya di kejar-kejar setan aja." seru Aleshaqi.


"Kafka dapet salam dari Zygmunt."


"Bangs*t, masih punya nyawa berapa dia nyalamin Kafka." seru Gaishan kencang.


"Salam doang, gak ada jamuannya?" tanya Aleshaqi kalem.


Suasana yang awalnya tenang, kini mendadak menjadi tidak kondusif akibat salam hangat dari musbuy (musuh bebuyutan)


"Mereka tunggu jam tujuh di jalan XX, Kafka suruh nyerahin kedua bola matanya secara suka rela atau mereka yang akan ambil paksa karena sudah berani curi pandang kemarin pada kekasih nya si Bos geng Zygmunt. Itu yang di sampaikan oleh Darren tadi.


"Anj*ng!!" sahut Sanz yang seketika itu juga langsung menyudahi permainan gamenya.


"Eh, itu kenapa dah. Sanz dan Aleshaqi marah-marah??" tanya Alta bingung sekaligus panik.


"Gak usah panik Al, itu mah udah biasa di kelas ini. Palingan di tantangin war sama anak sekolah depan."


"Hah? Maksud kalian berkelahi gitu?"


"Emm."


"You're right."

__ADS_1


"Berkelahi masalah apa?"


"Apalagi, kalau bukan Queen beenya Lentera Bangsa. Atau salah satu siswa kita di ganggu geng Zygmunt." sahut Paramitha.


"Gimana sih, gue gak paham?" seru Alta yang memang bingung.


"Nyaru aja lo, Tha." ucap Debby


"Beneran deh, gue gak paham."


"Yaelah, si Alta kan penghuni baru di sekolah kita guys. Jelas dia bingung lah, emangnya kalian sudah menceritakan situasi sekolah kita ke dia, terutama kelas kita?" ucap Maurin.


"Oh iya, ya. Gue bahkan lupa kalau Alta baru tiga hari jadi penghuni kelas kita. Habis berasa udah kenal lama." Debby menyengir, menampilkan deretan gigi putihnya.


"Woy, mereka cabut tuh." seru Unge.


"Ayoo, kita ikut. Udah lama gue gak lihat Waldemarr beraksi."


"Repot deh lo Mitha, yang ada kita yang kena masalah. lo lupa sama peraturan Waldemarr." Maurin.


"Tau, tuh Bosnya aja masih Kaleem, masih santai aja megang kertas sama pulpennya." sanggah Debby.


"Woy, jelasin dulu apa duduk perkaranya. Masa gue doang yang gak tau scenarionya sih. Nanti peran gue apa dong?" Mode lebay Alta on.


"Dih, lu kata sinetron anj*r. Lo jadi peran pembantu aja Al, kalau enggak tim hore yang di bayar gocap, gimana?"


Alta berdecak. "Akh, lo mah pada nggak bestie. Ntar gue tanya Kafka langsung aja."


"Ya kali kalo si kulkas mau jawab. Yang ada mode gagu dia di aktifin." jelas Unge.


"Itu loh, Al. cewek yang gue kasih tau lo kemarin di kantin." jelas Jessie.


"Oh, Luna? Yaelah, gara-gara dia jadinya mereka mau war? Memangnya gak ada cewek lain di muka bumi ini nyampe di rebutin gitu?"


Jessie hanya mengangkat bahu dengan kedua tangannya yang terangkat.


"Namanya juga cinta berat." kata Cherry.


"Berapa kilo?"


"Tak terhitung, saking banyaknya." jawab Cherry malas.


"Kok, jawaban lo sengak gitu sih Cherr?"


"Au ah, Al."


Kini giliran Sanz yang menghampiri Bos mereka setelah ia memantau keadaan dan mendapat informasi terakurat diluar sekolah, serta membisikan sesuatu ke telinga Kafka.


Kafka yang tadinya tenang, kini mulai tersulut emosi dan meremas kertas yang ia gambar tadi.


"Suruh balik ke kelas, kita susun strategi nanti. Bel pulang, langsung cabut kemarkas." sarkas Kafka pelan namun penuh penekanan.

__ADS_1


Sanz mengangguk patuh, lalu segera pergi.


__ADS_2