KAFKA

KAFKA
PAWANG MACAN NGAMUK


__ADS_3

•Happy Reading•


"RAMAI" itulah satu kata yang dapat menggambarkan suasana malam ini. Meskipun pemandangan di sekelilingnya dipenuhi pohon Pinus. Ya, akhirnya Kafka mengalah untuk membantu Leo demi permintaan Alta, hanya karena permintaan Alta bukan untuk yang lain nya.


Terlihat di ujung jalan setapak yang hanya cukup di lewati satu motor, sudah terlihat beberapa anak Volzer yang sudah menyambut mereka dengan posisi mereka yang masih duduk di atas motor. Memastikan bahwa orang yang mereka tunggu benar-benar datang.


Kafka menggas suara motor nya penuh percaya diri melangkah ke arah sebuah ujung jalan yang didepannya terdapat sebuah gerbang sirkuit, mendekati anggota Volzer bersamaan dengan beberapa motor dibelakangnya.


Anggota Volzer yang melihat kedatangan mereka, menyambut Waldemarr dan Zygmunt dengan membuka pintu gerbang lebar secara otomatis. Terlihat jelas di depan mata, rombongan remaja laki-laki yang tengah duduk di atas motor mereka dengan jaket hitam kebanggaan mereka tersendiri.


Kafka tersenyum tipis, turun dari motor hitam miliknya di ikuti oleh Leo disamping kirinya sedangkan di belakang mereka sudah berjejer rapih anggota inti dari Waldemarr dan Zygmunt langkah kaki Kafka mendekat ke arah rombongan remaja tersebut, ia memimpin di garda paling depan. Aura tenang yang biasa Kafka tampil kan lagi-lagi tak pernah bisa di definisikan oleh musuh-musuh nya, senyum datar yang tercetak seakan mengintimidasi orang yang melihatnya.


"WALDEMARR DAN ZYGMUNT !! WOW !!" seorang laki-laki yang memimpin rombongan tersebut pun berujar ketika puluhan orang dari Waldemarr dan Zygmunt bersatu berjajar di hadapan nya dengan tangan yang mengadah ke atas seolah memuja.


Kafka tersenyum tipis, "Gak perlu basa-basi lo. Langsung aja start" seru Kafka.


"Santai Bang, buru-buru banget lo. Mau balapan apa kebelet boker" jawab Prince, di susul tawa dari anggota Volzer.


Kafka mendekat, "Gue gak ada waktu buat ngurusin bajingan kaya lo, yang cuma bisa nyari celah lewat cewek. Cara lo buat narik perhatian gue masih kurang kampungan."


"Anji*Ng, berani bacot lo di depan Leader gue" seru Joel kaki tangan Volzer.


Kafka hanya menanggapinya dengan santai. "Mulai star atau mundur?"


"Ok, rupanya sahabat lama gue gak suka berbasa-basi. Buka jalan biar gue dan dia ambil start." Perintah Prince kepada antek-antek nya dan berjalan berbalik arah ke atas motor nya.


...****************...


Kedua motor dari masing-masing Leader tengah berada tepat di belakang garis start. Seru bising dari deruan kenalpot tengah menggema di telinga sambil menunggu aba-aba gadis berpakaian minim di depan sana.


Tiga...


Dua...


Satu...


Bendera pun dikibarkan dengan kedua motor yang sudah menancapkan gas dengan kecepatan batas maksimal dengan diiringi suara terikan dari para penonton.


"Gaish, perasaan gue kok jadi gak enak ya?" seru Alta yang memang sejak tadi bersama dengan Jessie dan Cherry, yang di jaga oleh Gaishan.


"Lo jangan macem-macem deh kalau ngomong. Lo itu cuma lagi khawatir aja, Al." Jessie.


"Iya, lo terlalu khawatir Queen Bos"


"Mungkin kali ya," mencoba berpikir positif.


Setelah beberapa menit menyaksikan balapan yang sengit, akhirnya dari jarak 400 meter sudah terlihat satu motor berwarna hitam yang memang jelas-jelas sudah di pastikan bahwa motor itu adalah motor milik Kafka. Namun entah mengapa ketika hampir setengah perjalanan mendekati garis finis justru mata pemuda itu seakan menggambarkan sesuatu yang tidak baik-baik saja. Ya, pemuda itu loncat ke arah samping kirinya hingga terdengar suara motor yang menabrak sebuah pohon Pinus yang menjulang tinggi.


"Brakk"


Seketika itu, semua yang ada disana langsung berhamburan menuju dimana suara itu berasal. Berbeda halnya bagi anak-anak Volzer yang justru bubar.


Alta langsung berlari meninggalkan Gaishan, Jessie, dan Cherry, menuju suara motor itu berasal. Tidak perduli dengan seruan dari sahabat nya yang memanggil namanya, ia hanya fokus pada apa yang ada di hatinya yang sejak tadi mendera. Bahwa firasat buruknya tentang Kafka itu terbukti saat ia menerobos keramaian dan melihat jelas kalau motor yang menabrak sebuah pohon itu adalah milik kekasihnya yang sudah tergeletak. Ia tidak dapat menemukan Kafka.

__ADS_1


"KAFKA" teriak gadis itu.


"KAFKA, LO DIMANA?" kembali berteriak sambil mengedarkan pandangannya.


"Alta" panggil Jessie mencoba menenangkan gadis itu.


"JESSIE ITU MOTOR KAFKA, YANG NABRAK POHON ITU MOTORNYA KAFKA. JESS, CHERR, KAFKA NYA GAK ADA. KEMANA KAFKANYA." teriak Alta sambil mengayunkan tangan sahabatnya yang baru saja datang menghampiri.


"Lo tenang dulu."


"GIMANA GUE BISA TENANG GAISHAN, DARI TADI GUE UDAH BILANG KAN KALAU FEELING GUE NGGAK ENAK." katanya sambil terisak.


"Gue paham, Al. tapi lo sedikit tenang ya." Gaishan berseru dan mengkode Jessie untuk menenangkan gadis itu. Dan di saat yang bersamaan Chalief datang menghampiri Gaishan, ia menarik sedikit tubuh Gaishan agar sedikit menjauh. "Gaish, ternyata rem motor Kafka blong. Dari yang Sanz periksa ada yang sabotase."ucap Chalief pelan hampir berbisik.


"Kok bisa? Bukan kah dari awal datang motor itu baik-baik aja."


"Awalnya kita semua mikir gitu, tapi lo paham kan analisis Sanz itu gak mungkin meleset. Karena yang Sanz lihat potongan kabel rem itu terlihat rapih seperti sengaja di gunting."


Gaishan mengangguk mengerti "Dimana Sanz dan anak-anak yang lainnya?"


"Mereka lagi nyari Kafka dibantu anak-anak Zygmunt. Sanz minta lo buat terus jagain Queen Bos sama ciwi-ciwi yang lainnya. takutnya ini rencana yang emang di buat Volzer buat ngelabuhin kita. Dan Kemungkinan besar Kafka terperosok masuk ke dalam tepian jurang." lapor Chalief.


"Nggak, lo bohong kan, Lief. Kafka gak mungkin jatuh ke jurang. Kafka itu gak mungkin jatuh kesana kan? Dia jagoan gue, dia itu kuat." ucapnya makin terisak seketika saat ia mendengar laporan Chalief pada Gaishan.


Cherry dan Jessie menganguk "Iya, Al. Kafka itu kuat, dia itu jagoannya Lentera Bangsa, sekaligus jagoan lo." sahut Cherry cemas, apalagi saat melihat Alta sudah terisak lemas.


"Al, jangan nangis!!" kata Jessie sambil memeluk Alta.


"GAISHAN, CARIIN KAFKA BUAT GUE." gadis itu kembali berteriak dengan air mata tak berhenti mengalir dari netra miliknya.


"Cariin Kafka, Gaish. Gue mohon cariin Kafka. Selametin cowok gue." memohon sambil memeluk Jessie.


"Pasti."


Sementara, Sanz dan Leo berhasil menemukan pemuda itu. Beruntung Kafka tidak terperosok terlalu dalam, ia hanya jatuh sedikit terguling karena tanah yang sedikit menurun. Mereka sedang mencoba membantu Kafka naik keatas. Berhasil pemuda itu berhasil selamat. Hanya beberapa luka serius di bagian kaki yang robek akibat terperosok mengenai beberapa bebatuan dan akar, pelipis yang juga sobek akibat berguling. Serta bagian tangan yang juga sama-sama sobek namun tidak terlalu besar dan dalam.


"AL, ITU KAFKA. ITU COWOK LO" seru Cherry.


Alta mengangguk sambil terus terisak, kini air mata nya terus saja mengalir deras. Dadanya bergemuruh hebat saat melihat Kafka yang terlihat begitu kesakitan sedang berjalan kearah tempat yang lebih luas dan terang sambil di bantu oleh Leo dan Sanz.


Alta berlari kecil menuju Kafka dan berhenti diam saat netranya memandang kekasihnya.


"Hey, kenapa nangis." ucap Kafka pelan, sambil mengusap lembut pipi gadis itu.


Alta hanya terdiam sambil sesegukan.


"Ayo," mengajak gadis nya, tetapi gadis yang diajaknya hanya tetap terdiam di tempatnya berdiri. Kafka yang peka akan hal itu, pun akhirnya meminta Leo untuk melepaskan bantuan nya. "Leo lepas, gue bisa jalan sendiri."


"Tapi Kaf?"


"Nggak papa, gue bisa. Sepupu lo lagi cengeng, minta gue peluk." ujar Kafka sambil merengkuh pinggang gadis nya. Sedangkan Alta akhirnya mau membantu Kafka berjalan sambil terus terisak memeluknya.


...****************...

__ADS_1


"Gimana? Lo udah cari dimana Aluna berada?"


"Udah Bang, dia lagi di bawa ke villa sama Bumi, Naya, dan samudra. Ka Luna aman, Bang!"


"Bagus, terus lo udah temuin bukti yang sabotase motor si Bos?"


"Itu juga udah di urus sama Bang Chalief. Kemungkinan besar emang yang sabotase itu Volzer, Bang. Gue nemuin gunting tang di dekat tong perapian, tapi kita belum bisa bertindak karena baru asumsi aja belum dapat fakta kongkrit."


"Seenggaknya kita punya bukti, lo amanin dan bawa motor Kafka."


"Siap Bang,"


Begitulah pembicara yang sempat Alta dengar sewaktu ingin mengambil air mineral utuh yang tergeletak. Pembicaraan antara Sanz dengan anggota biasa Waldemarr. Alta kembali menemui kekasihnya yang saat ini masih duduk menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuh nya. Darah yang sempat mengalir terus menerus tadi, beruntung kini berhenti karena terbalut kaos yang dililitkan pada luka sobek Kafka.


Prince datang menghampiri kerumunan anggota Waldemarr. Ia kembali ke area sirkuit, karena ia merasa kalau kecelakaan yang Kafka alami itu murni kecelakaan. Sementara Zygmunt sudah terlebih dahulu pergi ke villa milik Kafka.


"BUAT KALI INI, VOLZER LAH YANG ME..."


Plakk!!


Satu tamparan keras berhasil mendarat di pipi putih milik Prince, sebelum pemuda itu menyelesaikan kalimatnya. Prince terbelalak sempurna nyaris tidak percaya. Pun, dengan semua orang yang tengah berada disana. Melebarkan matanya terkejut secara kompak. Tidak ada yang bisa mendefinisikan begitu kerasnya tamparan dari gadis cantik yang berada di depan Prince yang kini menatap nya penuh kebencian. Prince diam mematung, membeku begitu saja, jelas-jelas ia tahu betul bahwa gadis ini adalah Alta, perempuan yang ia kagumi. Semua orang melihat Alta yang tengah berhadapan dengan Prince.


Prince yang menatap Alta dengan tatapan tak percaya nya sedangkan Alta menatap Prince dengan tatapan marah seakan ingin menguliti Prince di detik ini juga. Kafka, dia takalah terkejutnya dengan yang lain. Melihat Alta yang tiba-tiba saja sudah bangun berdiri, menatap nyalang ke arah Prince.


Entah keberanian dari mana yang Alta miliki, sehingga dengan sanggup nya ia mengerahkan lima jari mungilnya ke arah pipi Prince.


"ANJ*NG, DENGAN BANGGA NYA LO BILANG KALAU VOLZER LAH YANG KALI INI MENANG, IYA? LO NGERASA KALAU LO HEBAT, IYA? LO GAK LEBIH BURUK DARI SAMP*H KOTOR YANG ADA DI JALAN. LO PECUNDANG SEJATI, LO PENGECUT YANG MENGHALALKAN SEGALA CARA BUAT DAPETIN KEMENANGAN DAN MENGORBANKAN ORANG LAIN." Teriak Alta murka di depan wajah Prince. Prince masih saja terdiam, fokus nya teralihkan pada kecantikan yang Alta miliki, sungguh ke cantikan Alta mampu menghipnotis dirinya. Bahkan ia sampai lupa akan rasa sakit yang Alta ciptakan.


"LO BANGS*T YANG UDAH BIKIN COWOK GUE KESAKITAN," seru Alta semakin nyalang, melihat cowok di depan nya hanya diam saja.


"LO ITU PECUNDANG YANG UDAH MENCOBA BERUSAHA BUAT KAFKA GUE CELAKA!!"


Tenggorokan Prince tercekat, mendengar perkataan demi perkataan menyakitkan yang Alta lontarkan.


"Bukan gue yang buat dia celaka, itu murni kesalahan nya sendiri."


Plakk!


satu tamparan lagi berhasil Alta layang kan, sembari tertawa kencang, "LO FREAK, LO PEMBOHONG BESAR. LO HAMPIR BUNUH COWOK GUE. LO DENGAN SENGAJA SUDAH MENYABOTASE REM NYA, KAN?"


Prince terkejut bukan main dengan penuturan Alta barusan. Tubuh pemuda itu membeku maksimal. Kedua tangan nya terkepal kuat dengan jantung yang berdetak hebat.


"Bukan gue Al, sumpah. Gue gak mungkin curang. Gue gak seburuk itu sampai dengan sengaja mencelakai bahkan membunuh sahabat gue." seru Prince pelan.


"GAK USAH CARI PEMBENARAN, LO ITU BUKAN SAHABAT KAFKA! LO HANYA MUSUH YANG BERUSAHA MEMBUAT MUSUH LO CELAKA DENGAN CARA YANG KAMPUNGAN!! GAK USAH SOK-SOK'AN MENJADI MALAIKAT YANG SEBENARNYA LO ITU IBLIS" kata-kata yang Alta lontarkan semakin berhasil membuat Prince bungkam, bungkam seribu bahasa. Banyak dari anggota Volzer yang mencoba maju untuk menarik Alta mundur. Tapi isyarat tangan dari Prince mampu membuat mereka diam dan menurut.


"Cukup Be, udah cukup." mendengar penuturan lembut pemuda tampan yang begitu berarti dalam hidupnya mampu membuat Alta bungkam. Ia menarik napas panjang. Lalu membalikan badannya untuk memberanikan diri menatap wajah kekasihnya yang kini di penuhi banyak luka baret serta sobekan kecil di pelipis matanya, dengan posisi yang sudah berdiri dengan kesusah payahan nya.


"Mereka semua jahat, Kaf." seketika tangisnya kembali pecah. Ia merancau dengan begitu lirih, sambil menunjuk ke arah anak-anak Volzer.


"Iya, kita pulang ke villa ya?" Kafka langsung menarik tubuh Alta kedalam pelukannya dan memeluknya erat.


"Gaishan juga tadi gak percaya sama gue. Dia bilang gue cuma khawatir saat perasaan gue gak enak dan gak tenang. Ternyata benerkan lo kenapa-kenapa" tangisnya kian meningkat

__ADS_1


"Iya nanti gue marahin dia, sekarang nggak usah nangis lagi. Gue gak suka lihat lo nangis. Gue kan nggak papa." Kata Kafka menenangkan Alta, suaranya kian melembut sambil tersenyum memeluk Alta erat dengan sesekali menciumi pucuk kepala Alta. Sedangkan Alta sudah menutup kedua matanya, wajah nya ia telusupkan di dada bidang lelakinya.


Semua pasang mata kini sedang menyaksikan kedua remaja yang saling berpelukan itu. Begitu pula juga dengan Prince yang memilih membuang muka, lalu pergi. Rasanya, hatinya tak sanggup melihat kesakitan yang nyata mendera dirinya. Gadis yang ia sukai untuk kedua kalinya lagi-lagi memilih Kafka sebagai tambatan hati dan melihat gadis itu direngkuh oleh Kafka terasa seperti merasakan kembali luka 5tahun belakangan yang kembali mencuat ke dasar hatinya. "NAURA" gadis pertama yang ia sukai lebih memilih Kafka dan ALTA gadis yang sekarang ini ia sukai malah kembali memilih Kafka. sungguh nasib yang kurang beruntung bagi Prince.


__ADS_2