
•Happy Reading•
Terlihat di lapangan parkiran luar. Anggota inti Waldemarr dan Kafka sedang mendudukkan dirinya di atas motor menunggu Ali untuk menggambilkan tas ransel mereka semua yang ada di kelas pada saat jam istirahat. Segelintir para siswi yang melihat pemuda yang mereka kagumi sedang duduk manis diatas kuda besi dengan gaya mereka masing-masing, yang jika di pandang mata layaknya model yang terlihat keren. Buru-buru merapihkan rambut, seragam, serta tersenyum centil kearah mereka, terutama kepada Kafka demi menarik perhatian, namun sayangnya justru hal itu membuat Kafka menjadi risih dan enggan menatap mereka.
...****************...
Lorong kelas.
"Ali," panggil Alta yang melihat Ali berjalan buru-buru kearah tangga belakang.
Ali langsung menengok, kala pendengaran nya menangkap seruan yang memanggilkan namanya. "Emm"
"Mau kemana lo? Kok lo bawa-bawa tas?" seru Alta bertanya.
"Mau cabut Queen Bos."
"Sendiri or Berlima?"
"Iya sudah pasti berlima lah."
"Oh!!" Alta hanya beroh ria, serta menganguk mengerti.
"Gue duluan ya Queen Bos, udah di tungguin big Bos di bawah." kini Ali tak lagi berani memanggil Alta dengan panggilan Bebep setelah ia mengetahui prihal tentang hubungan Bos nya dengan cewek cantik di depan nya ini. Meskipun ia belum mengetahui pasti kebenaran tentang hubungan mereka.
Alta hanya tersenyum menanggapinya sambil membentukan jari tangan jempol yang melingkar bersatu dengan jari telunjuk nya, sedangkan tiga jari lainnya mengacung keatas.👌
"Alta?" Seru Jessie dan Cherry yang baru saja datang bertepatan dengan Ali yang sudah menghilang di balik tembok tangga.
"Ya."
"Sini lo," tarik Cherry agar Alta mengikuti ia kedalam kelas.
"Kenapa sih Cherr?"
"Duduk lo!!"
Alta menatap kedua sahabatnya dengan pandangan heran.
__ADS_1
"Al, lo gak mau cerita apa gitu ke kita berdua?" tanya Jessie yang sudah duduk di depan Alta dengan perasaan keponya.
Alta menaikan satu alisnya, "Cerita apaan?"
Jessie dan Cherry sama-sama mendengus, dan bicara berbarengan. "Apa kek."
"Dih gaje lo berdua."
"Alta, lo punya hutang cerita ya ke kita?"
"Hutang cerita? Cerita apaan dah?" Alta berpikir sejenak kemudian menggeleng, "Gak ada." jawab nya singkat.
"Ih, lo kan lagi deket sama Kafka. Bahkan semua anak di sekolah ini udah tau kalau lo bukan sekedar deket, tapi udah jadi cewek nya" kata Cherry merengek "Lo jangan coba-coba ngeles ya kaya bajay." kata Cherry kesel.
Alta tertawa kecil "Lo dapat gosip dari mana? Gue sama Kafka gak pacaran, kok. Orang jelas-jelas gue sama Kafka itu masih temenan."
Mata Jessie mendelik tajam kearah Alta, mencari kebohongan di netra berwarna langit gadis itu.
"Apa?" tanya Alta.
"Tapi lo masih suka Kafka kan?"
"Eh, gak gitu kok konsep nya Cherr. Gue anggap lo sahabat gue juga kok, cuma emang belum ada kesempatan aja gue cerita ke lo."
"Iya Cherry, It's true what Alta said, that we haven't met the right time to tell you. (Memang benar apa yang dikatakan Alta, bahwa kita belum bertemu waktu yang tepat untuk kasih tau lo)"
"Beneran?"
"Iya"
"Terus kapan lo mau cerita?"
"Nanti gue bakalan ceritain. Tapi gak sekarang karena udah bel masuk."
Di sisi lain, Kafka dan ke empat sahabatnya yang memilih bolos dan nongkrong di warung kang Eman sambil menikmati segelas es ovaltine dan Indomie kuah dibanding mengikuti pelajaran di akhir pelajaran yang membuat mereka bosan dan ngantuk.
"Gimana?" tanya Gaishan pada kafka yang sedang asik nyebat.
__ADS_1
"Apa?"
"Ck! Itu lo sama Alta, beneran taken?" kata Gaishan membuat ketiga yang lain nya langsung menengok kepo.
(Arti kata taken dalam bahasa gaul sebenarnya istilah bahasa Inggris yang artinya DIAMBIL, sementara itu anak jaman sekarang menggunakan kata taken sebagai bahasa gaul yang berarti sudah ada yang punya.)
"Iya, gue juga mau nanya itu tapi lupa!"
"Lo serius kan kaf, sama Alta?" Tanya Ali yang juga ikutan bertanya.
"Hmm, cuma teman." jawab Kafka singkat lalu menghembuskan asap rokoknya ke udara.
"Tapi kok gak sinkron ya antara hati dan ucapan?" ujar Gaishan membuat yang lain menatap nya, apa lagi kafka.
Kenapa jika menyangkut prihal Alta justru pemuda tampan itu ada ketertarikan tersendiri dan banyak bicara.
"Bener apa kata si Gaishan, gue yang bukan buaya aja sepemikiran. Apa lagi dia yang udah tau seluk-beluk nya rawa-rawa." ucap Sanz, lalu kembali memakan Indomie rebusnya.
"Cewek tuh gampang banget baper, kalau lo bersikap lebih, nanti dia salah mengartikan. Mending jangan! Kasihan Alta, dia itu cewek baik-baik meskipun bar-bar." Nasihat Gaishan membuat Kafka menatap datar dan tajam.
"Sok nasihatin Kafka lo, padahal sama aja. Di rayu tuh cewek sampai dapat, udah dapat, di goshting. " Sindir Aleshaqi.
"Beda lah, gue mah udah profesional. Nggak perlu di raguin lagi soal perempuan. Apa lagi kalau dalam nya udah legak, mau ngapain gue pertahanin."
"Sat!!" kesal Ali.
"Gimana kaf, lo udah tau perasaan lo yang sebenarnya ke Alta?"
Kafka memejamkan matanya sebentar, lalu menghisap rokok nya yang sudah pendek serta di hembuskan ke udara. "Mungkin, yang lo tebak ada benarnya Gaish. Ada ketertarikan tersendiri buat gue, tapi soal perasaan gue sama dia, masih samar. Yang jelas gue enggak mau memutuskan perasaan apa itu dan gue juga masih gak tau apa gue masih suka Aluna atau gue udah berpaling ke Alta."
"Gila Bos, Dalem."
"Intinya gini aja, kalau lo mau tau perasaan lo ke Alta. Lo coba buat lebih dekat sama dia dan coba untuk lupain Aluna. Perasaan lo sebenernya sudah move-on tapi obsesi lo masih menguasai pikiran lo. Makanya lo beralasan bahwa masih samar."
"Emm, iya benar tuh Bos yang dibilang Sanz. Lo itu masih terobsesi dengan Aluna. Gue aja mau insyaf sebelum ditarik masuk kedalam neraka jahanam gegara jalur undangan para perempuan." Gaishan tertawa miris, lalu memakan gorengan yang baru di angkat mang Eman.
"Itu mah udah pasti harus tobatan nasuha, Gaish. Tinggal terima karma aja. Setiap tindakan dan perbuatan, pasti akan ada hasil yang di capai entah itu baik atau buruk karena hidup itu ada hukum alam." timpal Aleshaqi berpetuah.
__ADS_1
"Justru itu gue mau insyaf, tapi sulit banget buat ngelepas yang enak-enak."
Dalam perdebatan itu, Kafka hanya terdiam memikirkan perasaan nya sambil terus mengaduk-aduk sedotan es nya. Ada perubahan dalam dirinya yang ia rasakan setelah beberapa minggu mengenal Alta, bahkan hubungan nya dengan Leo pun mulai sedikit membaik.