
•Happy Reading•
Suara derap langkah kaki terdengar mendekat di iringi suara gemercik air yang beradu oleh tapak kaki. Tetapi gadis itu justru mengabaikan dan tidak mau repot-repot memperdulikan hanya untuk sekedar mengangkat kepalanya melihat siapa yang datang.
"Be." Panggil Kafka ikut bersimpuh di depan Alta lalu merengkuh tubuh gadis itu kedalam pelukannya.
Alta memejamkan matanya saat mendapatkan rengkuhan hangat dari pemuda yang ia cinta.
"Maaf." Lirih Kafka dengan dagu yang bertumpu di atas kepala Alta.
Alta berontak minta ingin di lepaskan tapi justru membuat Kafka terus memeluk gadis itu dengan semakin erat.
"Gue cuma orang asing yang singgah sebentar dan nggak akan pernah sedikitpun bisa gantiin orang yang sudah lama singgah di hati lo." itulah Kata pertama yang terlontar dari bibir Alta.
"Lo yang jadi pemenang nya Aludra Altalune."
__ADS_1
Alta menggeleng, "Tapi gue udah ngerelain lo Kaf, karena gue ngerasa gue nggak perlu bersaing dengan siapapun. Jika memang dia yang jadi pemenang di hati lo, gue nggak akan pernah ngerasa kalah. Sekalipun gue akui kalau hati gue kecewa dan terluka. Gue nggak mau berkompetisi dengan nya atau bahkan orang lain hanya sekedar memenangkan hati lo. Buat gue lo bukan piala yang harus gue raih."
"Lo manusia yang memiliki hati. Sakit bukan? Jika lo tau kalau lo diperebutkan hanya karena ambisi bukan karena di cintai. Gue nggak mau egois Kaf, gue bertahan sampai hari ini itu karena ini." Alta menepuk dadanya yang sudah pasti Kafka tau makna dari itu. Ya, Alta bertahan itu karena hatinya. Hati yang tulus mencintainya tanpa syarat.
"Tapi lo yang jadi pacar gue, Be. Lo nggak percaya gue?" Mereka masih berbicara di bawah guyuran air hujan.
"Gue sangat percaya sama lo Kaf, percaya banget malah. Tapi gue yang justru ngerasa belum yakin sama diri gue sendiri kalau gue itu yang terbaik buat lo."
Hati Kafka mencelos mendengar semua perkataan Alta, cowok itu memancarkan tatapan sendu merasa bersalah atas apa yang ia lakukan dan kebodohan dia yang tidak peka kalau ada hati yang mesti ia jaga.
"Be, please sekali ini aja lo percaya sama gue. Kalau gue bener bener udah lupain Aluna di hidup gue. Lo bisa lihat semuanya dari sini." Tunjuk Kafka pada matanya "Dan disini." sekarang tunjuknya pada dadanya "Disitu lo bisa lihat kejujuran gue bukan?"
Kafka menggelengkan kepalanya sambil terus mendekap erat tangan Alta. Menarik gadis itu untuk segera berteduh di sebuah jejeran ruko yang tidak jauh dari taman kota. Beruntung ruko-ruko itu sudah tutup, jadi mereka lebih leluasa membicarakan tentang kesalah pahaman mereka tanpa ada yang mendengar.
Kafka membuka jaket yang ia kenakan dan menaruh jaket itu pada pundak kekasihnya yang terlihat kedinginan.
__ADS_1
"Manusia itu egois bukan? Sudah di kasih tau jangan berharap, di kasih tau untuk mundur, masih aja berjuang seakan-akan masih ada harapan. Giliran di kasih luka kecil kaya gini, langsung marah dan bilang kalau cinta kenapa sesakit ini." Alta tertawa kecil namun matanya kembali meneteskan buliran bening di atas pipinya yang masih basah karena air hujan yang sejak tadi mengguyur badannya.
Membuat Kafka menatap tak suka kearah Alta, bukannya marah tetapi pemuda itu kembali merengkuh tubuh gadis itu, ia tidak rela jika gadis itu kembali menangis hanya karena nya.
Tapi justru Kafka malah menyuruh gadis itu kembali menangis untuk meluapkan kekesalan yang ada di hatinya, meluapkan segala emosinya karena ia tidak rela jika pundak orang lain yang nantinya akan menjadi sandaran gadis itu.
"Nangis Be, nangis yang kenceng sampe semua orang tau kalau Kafka aefar keizkara yang udah nyakitin hati lo, biar cowok itu sadar kesalahannya," membuat Alta tanpa sadar mengangguk setuju dalam pelukan kafka.
"Biar cowok itu mikir betapa bodohnya dia sudah membuat cewek cantik ini terluka. Biar dia tahu seberapa tidak pekanya cowok itu sampai dia bener-bener bikin lo kecewa." Alta masih mengangguk setuju. Ia masih belum sadar kalau pemuda itu membicarakan tentang dirinya sendiri
"Kalau perlu lo bisa bunuh tuh cowok." Alta masih mengangguk setuju namun sedetik kemudian, ia jadi menggeleng dan merenggangkan pelukannya, menatap kearah Kafka.
"Gue bunuh lo dong?" Katanya lucu dengan sisa tangis yang masih terlihat jelas di mata langit itu.
Kafka jadi tertawa kecil, ini lah tujuan sebenarnya yang ingin Kafka lihat. "Udah marahnya? Sekarang giliran gue jelasin semua kesalah pamaman ini boleh?" Alta baru menyadari apa yang ia lakukan terlihat bodoh, memalukan dan kembali marah demi menutupi kedua hal itu.
__ADS_1
"Please jangan marah lagi, kali ini kasih gue kesempatan buat jelasin semuanya. Tapi nggak disini, dirumah gue mau ya?"
Alta hanya mengangguk pasrah dan lalu ia mengikuti Kafka menaiki motor milik pemuda itu.