
• Happy Reading •
Mata Gadis cantik itu mengerjap perlahan, sebelum mengedarkan pandangannya kesisi ruangan yang berbeda dari kamarnya itu. Ia nampak tidak mengenali seisi kamar yang terlihat asing baginya. Perlahan Alta duduk bersandar pada headboard sambil memijat pelan pelipisnya yang terasa berdenyut akibat terlalu banyak minum Alkohol semalam.
Suara ketukan pintu mengambil semua fokus gadis itu, Jessie nongol dari balik pintu. " Baru bangun lo? "
Alta mengangguk. "Emm, gue ada di rumah lo Jess?"
Jessie tersenyum lalu menggelengkan kepala. "Bukan rumah gue, Al."
"Terus?"
Jessie berjalan menghampiri Alta, lalu duduk di pinggiran ranjang." Semalam kita di bawa ke Apartemen nya Sanz."
Alta diam mematung, ia bahkan mencoba mencerna ucapan Jessie barusan. "Apartemen Sanz? Kita berdua di bawa kesini?"
"Bukan cuma kita berdua, tapi bertiga sama Cherry! "
"Kenapa di bawa kesini?"
"Kafka nggak mau lihat kita semua di marahin, gara-gara kita pulang dalam keadaan mabuk. Jadinya kita di bawa ke sini deh." jelas Jessie.
"Oh,"
"Bagaimana pun kita masih tanggung jawab mereka, dan soal orang tua kita masing-masing pun sudah mengijinkan kita untuk gak pulang."
Alta terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tenang, nggak usah mikirin yang macam-macam. Ayo bersih-bersih dulu, habis itu kita sarapan."
"Lo yakin? Emangnya lo inget sama apa yang terjadi dengan lo semalam?"
"Inget."
__ADS_1
"Inget apa?"
"Di sepanjang perjalanan Gue mengumpati Gaishan." Ucap Jessie, dan sedetik kemudian ia menutup mulutnya sendiri. "Oh my God, bahkan gue bilang kalau gue masih sayang dia. aduh gimana dong Al?" membuat nya memukul-mukul kan lengan Alta.
"Aduh Jess, sakit."
"Eh sorry, sorry, Al. Gue kebawa suasana."
Potongan kejadian semalam pun, membuat Alta ikut mencengkram erat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Mengingat pengakuan nya kepada Kafka dengan suara keras dan lantang.
"Anj*rr, gue juga membuat sebuah pengakuan yang gak masuk di akal." mengacak rambutnya frustrasi.
"Emang lo ngomong apaan?"
"Kalau lo jadi pacar gue, gue bakalan jadi bintang kaf!!" mengulang kembali ucapan nya tadi malam saat bersama Kafka, dengan intonasi suara yang sangat pelan namun masih bisa di dengar Jessie.
Jessie refleks tertawa. "Berarti kita Senasib dan Seperjuangan nih ceritanya?"
"WOY, JESS. LO IKUTAN MOLOR LAGI SAMA SI MULUT MERCON" teriak Cherry kencang dari arah ruang makan.
"Sial*n bacotnya si Cherry, dia nggak tau apa gue malu."
Alta buru-buru turun, lalu membersihkan wajah nya dan menggosok gigi, selesai. Ia berjalan perlahan untuk mengulur waktu. Degup jantung nya sudah tak karuan mengingat di mana dirinya sekarang sudah pasti akan bertemu Kafka.
"Lo duluan Al!"
"Lo lah, kan yang bangun pertama lo."
"Gue tengsin ege."
"Apa lagi gue, ogeb."
"Cepet!" Jessie mendorong tubuh bagian belakang Alta.
__ADS_1
"Ish, sabar." Alta mencoba menetralkan degup jantungnya yang berdetak kencang, lalu menyembulkan kepalanya terlebih dahulu baru ia akan berjalan.
Namun naasnya, di saat ia menyembulkan kepala. Justru dari arah balik tembok kamar yang Alta tempati. Kafka sedang berjalan masuk untuk menghampiri Alta dan Jessie, sehingga disaat yang bersamaan membuat wajah mereka beradu menyebabkan Kafka mencium kening Alta. Refleks Alta mundur dan limbung ke belakang.
"Awas." teriak Jessie.
Beruntung tangan Kafka berhasil meraih pinggang Alta, hingga Alta berada di pelukan Kafka. Manik mata mereka bertemu saling pandang seperkian detik.
"Helloww, gue masih berwujud ya! Jangan dianggap tak ada disini. " sebal Jessie, membuat atensi mereka beralih kepada Jessie.
Buru-buru, Alta mendorong pelan dada bidang Kafka.
"Sorry," ucap Alta dan Kafka bersamaan.
"Ya ampun, kompak banget sih kalian." ujar Cherry yang baru saja tiba.
"Ada apa kaf, lo kesini?"
"Mau ambil handphone gue." Jawab nya datar.
Alta langsung menatap wajah Kafka. "Barusan dia bilang mau ambil handphone. Berarti, semalam dia?" Gumam Alta, hanya mampu ia ucapkan di dalam hati.
"Jess, Al, ayok. Gue tungguin juga dari tadi, malah lama banget kalian gak datang -datang." Beruntung Cherry langsung bersuara, sehingga mematahkan pikiran buruk yang terlintas di benak Alta barusan.
Jessie dan Alta mengangguk, serta buru-buru berjalan mengikuti Cherry.
"Gue duluan ya kaf, lo ambil aja handphone lo." seru Jessie.
"Emm"
Kafka mengusap lembut bibirnya
lalu tersenyum tipis bahkan hampir tak terlihat, disaat Alta pergi meninggalkan dirinya.
__ADS_1